Di kantor ngetik, pulang di rumah pun ngetik lagi. Itulah rutinitasku sekitar sebulanan terakhir ini. Kalau jam dan waktu ngetik itu kudedikasikan sepenuhnya buat bikin novel, sepertinya sebuah novel sudah terlahir saat ini, hehe.

Baru kali ini (alhamdulillah) dapat kerjaan freelance yang pendapatannya bisa ngalahin gaji bulanan. Tapi ya gitu, perjuangannya fiuh bikin capek raga dan jiwa. Sering lembur, bangun dan tidur langsung kangen-kangenan sama laptop. Bahkan pas tidur, urusan kerjaan dan deadline sampai kebawa mimpi. Parah! Parah! Pernah juga baru tidur jam 4 pagi, bukan karena full ngelembur menyelesaikan kerjaan tapi karena minum kopi dan badan udah kelewat capek. Jadinya susah buat tidur. Badan ini kadang kalau udah capek tapi masih dipaksa buat kerja atau aktivitas jadinya malah susah diajak istirahat.

Rasanya udah nggak kenal lagi sama istilah burn out. Stres? Entah, sudah lewat kayaknya. Hehe. Kerja emang jadi kayak mesin aja. Iya ini memang nggak baik. Tapi ya demi mengumpulkan modal nikah (eh?) dan dapat tawaran kerjaan, jadi sayang kan kalau rezeki ditolak.

Tadinya di awal bulan ini cuma ada satu kerjaan freelance. Tapi kemudian ada teman yang nawarin kerjaan buat menerjemahkan jurnal dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Tadinya ragu (lebih tepatnya nggak PD), soalnya udah lama nggak nerjemahin ditambah lagi topiknya juga aku nggak begitu menguasai. Akhirnya ya kerjaan itu kuambil juga. Selain karena yang nawarin temen sendiri, ya itung-itung buat menguji ketahanan otak dan pikiran buat kembali ke dunia penerjemahan. Meski ujung-ujungnya emang agak ngos-ngosan tapi sekaligus lega ketika akhirnya selesai juga.

Memang sih kerjaan baik freelance dan yang di kantor nggak jauh-jauh dari nulis. Tapi ketika saling kejar-kejaran jadinya memang bikin puyeng, hehe. Ditambah lagi nggak pernah aktif olahraga. Sesekali masih suka nyolong kesempatan minum kopi. Dan ngelembur dari hari ke hari. Waktu akhir pekan pun, kencannya sama laptop. Hari Minggu yang biasanya dibuat istirahat masih aja riweuh sama kerjaan. Jatah nonton drama Korea dan berbagai film kesayangan lain harus tergeser untuk sementara waktu demi mengejar deadline, hihihi. Kayaknya emang kudu mengatur waktu dan prioritas lebih baik lagi.

Karena sekarang kerjaan freelance tinggal satu, jadi sepertinya memang kudu meluangkan porsi waktu untuk istirahat lebih banyak lagi. Untuk pekerjaan, jujur aja punya impian bisa kerja di pojok studio punya sendiri. Mengerjakan hal-hal yang disuka. Membuat tulisan dan karya  yang benar-benar tulus dari hati. Dan (ini nih yang paling penting) bisa kaya raya dari kerjaan itu, hahaha tetap ya matre.

Ketika pendapatan kerjaan freelance lebih besar dari gaji bulanan kerjaan full-time karyawan, rasanya itu… langsung kepikiran bikin bisnis sendiri (langsung keluar otak dagangnya, hehe). Selain karena faktor ingin menambah uang tabungan, tujuanku mengerjakan lebih dari satu pekerjaan tak lain juga untuk mengukur potensi dan mental sendiri. Sejauh apa kemampuanku? Sampai batas mana ketahananku? Seberapa disiplin dan seberapa kuat menata hati serta emosi? Itu sih. Capek jelas iya. Stres? Wah, jangan ditanya lagi. Di balik itu semua, ya semoga Allah ngasih kesehatan terus buat kita semua biar bisa mengerjakan hal-hal yang kita mampu dan suka.

(kali ini tulisannya nggak ngikutin EYD nggak apa-apa kan ya? hehe, anggap aja ini teknik free writing) *ngeles

oh ya, itu gambar headline diambil dari pexels.com (karena kenyataannya saya kalau kerja pakai laptop lawas dan nggak serapi seperti yang di gambar)