Judul: Sehidup Sesurga
Penulis: Fahd Pahdepie
Penyunting: Gita Romadhona
Penyelaras aksara: eNHa
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer Cover: Jeffri Fernando
Ilustrator isi: Teguh Pandirian
Cetakan: pertama, Juni 2016
Jumlah halaman: 210
Penerbit: PandaMedia

“Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.” Baca kalimat itu, rasanya hati langsung meleleh. Siapa sih yang tak mau dicintai selama-lamanya dalam sebuah pernikahan yang sempurna? Hanya saja sekarang pertanyaannya, bisakah kita mendapatkan pernikahan yang sempurna? Sanggupkah kita bahagia selamanya dalam sebuah rumah tangga? Bagaimana kalau ternyata pernikahan tidak berjalan sesuai harapan? Atau malah bakal banyak konflik dan masalah yang terjadi?

Bagi yang akan menikah atau baru melangkah ke gerbang pelaminan, pasti ada perasaan tak menentu yang kita rasa. Antara bahagia tapi juga cemas. Deg-degan merasa tak sabar tapi juga dilanda ras gelisah. Menyimpan penuh harapan tapi juga takut terlalu menuntut kesempurnaan. Membuka sebuah lembaran baru yang masih kosong lalu kita takut sendiri untuk mengisi lembaran-lembarannya.

sehidup-sesurga-1

Sehidup Sesurga, buku kumpulan cerita karya Fahd Pahdepie ini ibarat sebuah jendela yang mengizinkan kita melongok soal kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang sederhana yang dibangun dengan cinta mengharap ridlo-Nya.

Buku ini dibagi menjadi delapan bagian, antara lain:

  1. Apakah Engkau Sudah Siap Menikah?
  2. Mengatur Langkah Setelah Menikah
  3. Membangun Rumah, Menyusun Tangga
  4. Musuh Dalam Satu Selimut
  5. Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa
  6. Sebab Tidak Ada Pernikahan Yang Sempurna
  7. Belajar Dewasa Dengan Menjadi Orang Tua
  8. Menjaga Harta Yang Paling Berharga

Tulisan-tulisan Fahd ini sepintas seperti curahan hati. Tapi ternyata ada refleksi, hikmah, dan proses pembelajaran di dalamnya. Topik yang dibahas juga tak jauh-jauh dari soal membangun cinta, menjaga cinta, serta menjalani peran sebagai orang tua. Hal-hal kecil dan sederhana tapi punya makna yang begitu dalam sebuah pernikahan.

Salah satu bagian yang paling berkesan menurut saya (dan yang mungkin sering digalaukan para jomblo) adalah tentang kesiapan menikah. Fahd membahas soal persiapan diri untuk menikah dan anjuran Rasulullah untuk berpuasa. Bagaimana dalam praktik puasa dari sahur hingga berbuka itu mengandung pelajaran tentang mempersiapkan diri untuk menikah. Ternyata ada pelajaran yang begitu berharga dari puasa, tak hanya sekadar menahan lapar dan haus. Rasanya benar-benar tersentil dengan ulasan dan tulisan tersebut.

sehidup-sesurga-2

Selain menceritakan kehidupan pernikahannya dengan istri tercintanya, Rizqa, Fahd juga menyelipkan cerita tentang pengalaman rumah tangga sahabatnya. Seperti dalam tulisan Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa, Fahd menceritakan sahabatnya yang makin rajin shalat setelah menikah. Dari pengalaman sahabatnya tersebut, Fahd mengambil sebuah hikmah berharga.

Mungkin dulu saat menegurmu, aku gagal menunjukkan bahwa aku mengajakmu shalat karena mencintaimu. Tapi, istrimu berhasil melakukannya! Istrimu mengajakmu karena ia begitu menghargai, menghormati sekaligus menyayangimu. Sementara, barangkali, dulu aku mengajakmu hanya ingin mengejar pahala atau sekedar jengah karena melihatmu tak sejalan dengan pengertianku tentang iman dan kebaikan.

Lalu di tulisan Ke Manakah Kita Berhijrah, di paragraf pembuka, Fahd menulis, “Bagi saya, pernikahan adalah sebuah ‘hijrah’. Setelah menikah, saya dan Rizqa memutuskan pergi dan berpisah dari kehidupan kami yang lama. Kami memulai hidup baru, menandainya dengan pergi dari rumah orang tua, ke mana saja asal tidak tinggal bersama mereka–yang tidak membebani dan merepotkan mereka. Kami ingin hidup mandiri, maka kami mengontrak sebuah rumah.” Dari situ kita kemudian akan memahami bahwa hijrah itu juga tak mudah. Butuh perjuangan dan banyak yang harus dihadapi. Meski perjuangannya tak mudah tapi selalu ada cara yang bisa ditempuh untuk hijrah jadi lebih baik.

Selain membahas soal cinta dan kehidupan pernikahan, Fahd juga menceritakan pengalaman serta kesehariannya menjadi orang tua. Betapa setelah menjadi orang tua, ada banyak proses pembelajaran yang diikuti. Pengalamannya sebagai orang tua jadi memberi gambaran umum yang bisa jadi bekal tiap pasangan yang sebentar lagi akan memiliki buah hati. Rasanya tak pernah bisa kita berhenti belajar saat sudah membangun keluarga.

Secara keseluruhan, buku ini sangat mudah dinikmati. Tak terlalu menggurui dan bisa membuka sudut pandang baru soal membangun rumah tangga. Hanya saja saya menemukan tulisan yang persis sama di halaman 133-134 dengan halaman 205-206, yaitu tentang nasihat seorang suami kepada istrinya. Hm, kurang tahu pasti kenapa, entah salah cetak atau memang sengaja dimuat dua kali.

Menurut pengalaman saya, Sehidup Sesurga ini bisa dibaca melompat-lompat, dalam arti tak harus berurutan dari tulisan pertama hingga terakhir. Karena setiap cerita memiliki makna sendiri. Mau membaca sesuai mood pun bisa. Kalau selama ini kita sering disilaukan dengan kisah-kisah romantis ala negeri dongeng yang rasanya cuma khayalan dan nggak akan pernah kejadian di dunia nyata, membaca Sehidup Sesurga menyadarkan kita bahwa dengan kisah yang sederhana kita tetap bisa bahagia membangun pernikahan yang indah.

Siapkah kita membangun rumah tangga kita sendiri menuju surga?