PenulisOnline.Com

Endah Wijayanti – Content Creator

Author: endahwijayanti (Page 1 of 5)

Visit My Daily Blog: endahblogger.wordpress.com

You can find more of my blog posts here 🙂

endahblogger.wordpress.com

click this:
endahblogger.wordpress.com

Mengatur Mood Menulis

Haruskah menulis menunggu mood membaik dulu? Nggak bisa nulis kalau hati lagi sedih. Harus menunggu waktu yang tepat dulu baru bisa menulis. Susah untuk merangkai kata-kata kalau menulis di tempat yang ramai. Apalagi kalau tempatnya berisik dan dipenuhi banyak orang, mood untuk menulis bisa hilang dalam sekejap.

Kalau menulis sebatas hobi atau kegiatan yang dilakukan waktu senggang, bebas saja sih mau menunggu mood atau tidak. Tapi ketika sudah dijadikan profesi dan selalu diburu dengan deadline, maka jangan harap harus menunggu mood membaik dulu baru bisa menulis. Terlebih kalau menulis jadi cara untuk menyambung hidup, sebagai sumber penghasilan. Kalau tidak menulis, nggak bisa makan dong? Kalau telat dari tenggat waktu yang ditetapkan, nggak bisa dapat pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mungkin pemikiran ini agak sempit tapi kadang kenyataan memang tak sesuai dengan harapan.

Beberapa minggu terakhir ini, saya harus bisa memaksakan diri untuk tak terlalu mempedulikan mood. Yang penting  nulis, selesai sesuai dengan tenggat waktu dan beres. Nggak heran kadang memang tulisannya jadi terasa tak bernyawa. Tak ada maknanya dan sangat datar. Sama sekali tak menggugah. Bahkan rasanya saya sudah mulai lupa soal menulis dengan tenang tanpa harus kejar-kejaran dengan deadline. Tanpa harus diburu dengan waktu yang makin mepet atau memaksa jari-jari terus menulis meski tubuh sudah luar biasa capek.

Rasanya jadi rindu bisa menulis dengan tenang. Tidak direcoki dengan suara berisik atau gangguan ini itu. Fokus menulis, merangkai kalimat dengan hati yang ringan.

Mengatur mood menulis memang nggak bisa cuma asal teori. Nggak gampang harus “mengkhianati” emosi dan hati saat menulis sesuatu. Apalagi jika ada proyek menulisnnya menuntut harus berpatokan dengan ini itu, pusing sudah. Menulis jadi seperti mengerjakan soal matematika saja. Harus ada hitungannya dan tak boleh  meleset satu karakter pun. Ditambah lagi dengan tenggat waktu yang terus bekerjaan silih berganti. Mau istirahat rasanya jadi nggak tenang. Semacam masih ada beban dan tanggungan yang harus diselesaikan.

Bahkan untuk menulis ini pun rasanya jadi serba terburu-buru. Hehe, jadi maaf kalau tulisannya jadi ngelantur tak tentu arah karena pikiran juga lagi mbulet.

 

Sehidup Sesurga – Fahd Pahdepie: “Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.”

Judul: Sehidup Sesurga
Penulis: Fahd Pahdepie
Penyunting: Gita Romadhona
Penyelaras aksara: eNHa
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer Cover: Jeffri Fernando
Ilustrator isi: Teguh Pandirian
Cetakan: pertama, Juni 2016
Jumlah halaman: 210
Penerbit: PandaMedia

“Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.” Baca kalimat itu, rasanya hati langsung meleleh. Siapa sih yang tak mau dicintai selama-lamanya dalam sebuah pernikahan yang sempurna? Hanya saja sekarang pertanyaannya, bisakah kita mendapatkan pernikahan yang sempurna? Sanggupkah kita bahagia selamanya dalam sebuah rumah tangga? Bagaimana kalau ternyata pernikahan tidak berjalan sesuai harapan? Atau malah bakal banyak konflik dan masalah yang terjadi?

Bagi yang akan menikah atau baru melangkah ke gerbang pelaminan, pasti ada perasaan tak menentu yang kita rasa. Antara bahagia tapi juga cemas. Deg-degan merasa tak sabar tapi juga dilanda ras gelisah. Menyimpan penuh harapan tapi juga takut terlalu menuntut kesempurnaan. Membuka sebuah lembaran baru yang masih kosong lalu kita takut sendiri untuk mengisi lembaran-lembarannya.

sehidup-sesurga-1

Sehidup Sesurga, buku kumpulan cerita karya Fahd Pahdepie ini ibarat sebuah jendela yang mengizinkan kita melongok soal kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang sederhana yang dibangun dengan cinta mengharap ridlo-Nya.

Buku ini dibagi menjadi delapan bagian, antara lain:

  1. Apakah Engkau Sudah Siap Menikah?
  2. Mengatur Langkah Setelah Menikah
  3. Membangun Rumah, Menyusun Tangga
  4. Musuh Dalam Satu Selimut
  5. Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa
  6. Sebab Tidak Ada Pernikahan Yang Sempurna
  7. Belajar Dewasa Dengan Menjadi Orang Tua
  8. Menjaga Harta Yang Paling Berharga

Tulisan-tulisan Fahd ini sepintas seperti curahan hati. Tapi ternyata ada refleksi, hikmah, dan proses pembelajaran di dalamnya. Topik yang dibahas juga tak jauh-jauh dari soal membangun cinta, menjaga cinta, serta menjalani peran sebagai orang tua. Hal-hal kecil dan sederhana tapi punya makna yang begitu dalam sebuah pernikahan.

Salah satu bagian yang paling berkesan menurut saya (dan yang mungkin sering digalaukan para jomblo) adalah tentang kesiapan menikah. Fahd membahas soal persiapan diri untuk menikah dan anjuran Rasulullah untuk berpuasa. Bagaimana dalam praktik puasa dari sahur hingga berbuka itu mengandung pelajaran tentang mempersiapkan diri untuk menikah. Ternyata ada pelajaran yang begitu berharga dari puasa, tak hanya sekadar menahan lapar dan haus. Rasanya benar-benar tersentil dengan ulasan dan tulisan tersebut.

sehidup-sesurga-2

Selain menceritakan kehidupan pernikahannya dengan istri tercintanya, Rizqa, Fahd juga menyelipkan cerita tentang pengalaman rumah tangga sahabatnya. Seperti dalam tulisan Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa, Fahd menceritakan sahabatnya yang makin rajin shalat setelah menikah. Dari pengalaman sahabatnya tersebut, Fahd mengambil sebuah hikmah berharga.

Mungkin dulu saat menegurmu, aku gagal menunjukkan bahwa aku mengajakmu shalat karena mencintaimu. Tapi, istrimu berhasil melakukannya! Istrimu mengajakmu karena ia begitu menghargai, menghormati sekaligus menyayangimu. Sementara, barangkali, dulu aku mengajakmu hanya ingin mengejar pahala atau sekedar jengah karena melihatmu tak sejalan dengan pengertianku tentang iman dan kebaikan.

Lalu di tulisan Ke Manakah Kita Berhijrah, di paragraf pembuka, Fahd menulis, “Bagi saya, pernikahan adalah sebuah ‘hijrah’. Setelah menikah, saya dan Rizqa memutuskan pergi dan berpisah dari kehidupan kami yang lama. Kami memulai hidup baru, menandainya dengan pergi dari rumah orang tua, ke mana saja asal tidak tinggal bersama mereka–yang tidak membebani dan merepotkan mereka. Kami ingin hidup mandiri, maka kami mengontrak sebuah rumah.” Dari situ kita kemudian akan memahami bahwa hijrah itu juga tak mudah. Butuh perjuangan dan banyak yang harus dihadapi. Meski perjuangannya tak mudah tapi selalu ada cara yang bisa ditempuh untuk hijrah jadi lebih baik.

Selain membahas soal cinta dan kehidupan pernikahan, Fahd juga menceritakan pengalaman serta kesehariannya menjadi orang tua. Betapa setelah menjadi orang tua, ada banyak proses pembelajaran yang diikuti. Pengalamannya sebagai orang tua jadi memberi gambaran umum yang bisa jadi bekal tiap pasangan yang sebentar lagi akan memiliki buah hati. Rasanya tak pernah bisa kita berhenti belajar saat sudah membangun keluarga.

Secara keseluruhan, buku ini sangat mudah dinikmati. Tak terlalu menggurui dan bisa membuka sudut pandang baru soal membangun rumah tangga. Hanya saja saya menemukan tulisan yang persis sama di halaman 133-134 dengan halaman 205-206, yaitu tentang nasihat seorang suami kepada istrinya. Hm, kurang tahu pasti kenapa, entah salah cetak atau memang sengaja dimuat dua kali.

Menurut pengalaman saya, Sehidup Sesurga ini bisa dibaca melompat-lompat, dalam arti tak harus berurutan dari tulisan pertama hingga terakhir. Karena setiap cerita memiliki makna sendiri. Mau membaca sesuai mood pun bisa. Kalau selama ini kita sering disilaukan dengan kisah-kisah romantis ala negeri dongeng yang rasanya cuma khayalan dan nggak akan pernah kejadian di dunia nyata, membaca Sehidup Sesurga menyadarkan kita bahwa dengan kisah yang sederhana kita tetap bisa bahagia membangun pernikahan yang indah.

Siapkah kita membangun rumah tangga kita sendiri menuju surga?

Plus Minus Kerja di Kantor Berkonsep Open Office yang Tanpa Sekat

Pernah dengar soal konsep ruang kerja open office? Secar umum, yang dimaksud open office adalah ruang kerja tanpa sekat. Tak ada kubikel atau pembatas antar meja. Ruang kerjanya terbuka. Karyawan satu dengan lainnya bisa saling tatap muka dengan mudah. Obrolan hingga gosip yang sedang asyik dibicarakan teman sebelah bisa terdengar dengan mudah.

Saat ini banyak kantor yang menerapkan konsep open office. Maksud dan tujuannya bermacam-macam. Mulai dari meniadakan “kasta” atasan dan bawahan, mempermudah komunikasi dalam tim, dan bisa menghemat tempat. Pro kontra dari setiap desain dan konsep ruang kerja pastinya ada. Apalagi setiap karyawan memiliki cara dan preferensi sendiri dalam bekerja.

Dulu saya pernah bekerja di kantor dengan desain berkubikel. Meski satu meja, antar karyawan memiliki kubikel sendiri. Hal ini bisa sangat membantu untuk lebih fokus menyelesaikan satu pekerjaan. Terlindung dari berbagai macam gangguan dan benar-benar “dipaksa” fokus pada yang dikerjakan di kubikel masing-masing. Walaupun kadang rasanya jadi sepi, seolah bertapa sendiri dalam ruangan dan susah untuk mengobrol dengan yang lain.

Begitu kerja di ruangan dengan konsep open office, saya yang pada dasarnya mudah sekali hilang fokus saat kerja jadi harus menyesuaikan diri lebih keras lagi. Di sisi kiri dan kanan sudah ada rekan kerja lain. Apa yang dilakukan teman sebelah bisa dengan mudah mengusik perhatian dan fokus kerja.

Plus minus kerja di kantor berkonsep open office banyak sekali. Sekarang, kita bahas dulu soal poin plus-nya.

  • Lebih mudah berkomunikasi atau berdiskusi.
  • Tak merasa ada batasan antara atasan dan bawahan.
  • Nggak gampang merasa kesepian karena teman yang sedang bekerja pun bisa dilihat langsung.
  • Mudah memonitor pekerjaan yang dilakukan.

Kalau minusnya?

  • Konsentrasi gampang terganggu (khususnya kalau teman sebelah heboh kerja sambil nyanyi atau dia bau badan).
  • Mood bisa menular dengan mudah (kalau ada yang lagi bete, mudah sekali menular ke rekan kerja di sebelahnya).
  • Makin terbatasnya privasi (mau curi-curi waktu buat bobok siang kan susah, hehe).
  • Penyakit dan virus bisa dengan mudah menular.

Saya sendiri sebenarnya lebih mendambakan ruang kerja di sebuah studio milik pribadi. Di ruangan yang tenang. Tak perlu AC, cukup udara segar yang keluar masuk dari jendela. Pencahayaan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Serta tak riweuh melihat wara-wiri orang lain.

Kondisi dan lingkungan tempat kerja memang bisa mempengaruhi produktivitas kerja. Meski sulit, kita perlu punya kemampuan beradaptasi yang cepat saat bekerja di sebuah tempat yang mungkin jauh dari bayangan ideal kita selama ini.

Kalau kamu sendiri, lebih suka bekerja di ruangan yang seperti apa?

 

Stephen King, Novelis Fenomenal yang Takut dengan Angka 13

Stephen Edwin King atau yang lebih familiar dikenal dengan nama Stephen King dikenal sebagai seorang penulis kontemporer Amerika Serikat yang sukses. Sebagai novelis, karya-karyanya yang kebanyakan bergenre horor, fantasi, dan fiksi ilmiah sudah terjual sedikitnya 350 juta eksemplar di berbagai belahan dunia. Sebagian dari karya-karyanya itu sudah diadaptasi jadi film, baik film televisi maupuan film layar lebar. Ada juga yang diadaptasi menjadi buku komik.

Tercatat, pria berzodiak Virgo ini sudah menerbitkan 50 novel, 5 karya nonfiksi, dan sekitar 200 cerita pendek. Stephen punya sejumlah nama pena, seperti John Swithen dan Richard Bachman. Novel horor pertamanya yang sukses berjudul Carrie ditulis dengan nama pena Richard Bachman. Sosoknya kini dikenal sebagai seorang novelis terkenal dan fenomenal. Dan ada banyak fakta menarik soal kisah hidupnya. Termasuk soal ketakutannya dengan angka 13.

Orang Tua Stephen King Bercerai Ketika Dirinya Masih Anak-Anak

Gambar 1

Gambar 1

Orang tua Stephen King, Donald dan Nellie Ruth Pillsburry King bercerai ketika Stephen masih anak-anak. Stephen dan saudaranya, David harus membagi waktunya antara Indiana dan Connecticut selama beberapa tahun. Stephen kemudian kembali ke Maine dengan ibu dan kakaknya. Stephen lulus dari Lisbon Falls High School pada tahun 1966.

Setelah lulus sekolah, Stephen melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di University of Maine di Orono. Selama kuliah itu, ia aktif menulis untuk surat kabar universitas dan aktif di kegiatan kemahasiswaan. Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana bahasa Inggris tahun 1970, Stephen berusaha mencari pekerjaan sebagia guru tapi dewi fortuna tak langsung berpihak padanya. Untuk mengisi waktunya ia bekerja di sebuah usaha laundry dan tetap menulis di waktu senggangnya sampai akhir tahun 1971. Setelah itu, akhirnya ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di Hampden Academy.

Stephen King dan Istrinya Pernah Hidup Sangat Miskin

Gambar 2

Gambar 2

Saat akhirnya bekerja sebagai guru di Hampden Academy, Stephen menikah dengan Tabitha Spruce yang juga berprofesi sebagai penulis. Mereka pernah mengalami masa-masa buruk dan hidup miskin. Saking miskinnya, untuk menikah mereka sampai meminjam baju dan memutus sambungan telepon karena biayanya terlalu mahal. Keduanya juga pernah tinggal di sebuah trailer dan mengambil sejumlah pekerjaan untuk bisa menyambung hidup.

Stephen dan istrinya membagi waktunya antara Florida dan Maine. Mereka dikaruniai tiga anak, Naomi Rachel, Joseph Hillstrom, dan Owen Philip. Naomi menjadi seorang pendeta, sementara Joseph Hillstrom menjadi penulis fiksi horor dengan nama pena Joe Hill. Dan owen Phillip menerbitakan kumpulan cerita pertamanya tahun 2005.

Pernah Menulis Cerita Pendek untuk Majalah Porno

Gambar 3

Gambar 3

Stephen King pernah menerbitkan sejumlah cerita pendek di majalah porno. Di awal karier menulisnya, ia memanfaatkan waktu luang di sela kesibukannya mengajar dan bekerja di tempat laundromat (tempat cuci otomat) untuk menulis. Sampai akhirnya karyanya yang berjudul Carrie, sebuah novel pendek tentang gadis SMA yang siklus menstruasinya bisa menghadirkan kekuatan supernatural untuk balas dendam dan teror.

Saat masih remaja, Stephen sering mendapat banyak surat penolakan atas karyanya yang ia kirim. Dia menerima 60 surat penolakan sebelum cerita pendek pertamanya yang berjudul The Glass Floor terbit dan Stephen mendapat honor 35 dolar.

Stephen Mengaku Pernah Tak Sadar Dirinya Menulis dalam Keadaan Mabuk

Gambar 4

Gambar 4

Setelah mendapatkan kesuksesan pertamanya, Stephen kecanduan alkohol. Bahkan kisah tokoh Jack Torrence yang merupakan seorang pecandu itu sedikit terinspirasi dari otobiografi Stephen. Dalam memoarnya, Stephen bilang kalau dirinya pernah minum tallboys (sejenis bir) setiap malam dan tak ingat dirinya menulis novel Cujo. Karena kecanduan dan kebiasaan mabuknya itu, kekuarga Stephen marah dan sejak saat itu kemudian Stephen berhenti mabuk-mabukan.

Stepehen pernah menulis sebuah karya di meja seorang penulis yang pernah meninggal, Rudyard Kipling. Saat itu Stephen dan istrinya berada di Brown’s Hotel di London. Stephen tak bisa tidur dan bertanya pada staf hotel apakah ada tempat yang cocok untuk menulis. Stephen lalu diarahkan pada sebuah meja besar yang dulu merupakan miliki Rudyard Kipling, penulis The Jungle Book, Kim, dan sejumlah puisi. Kipling dulu meninggal saat duduk di meja tersebut. Di meja yang sama, Stephen membuat karya yan kemudian diberi judul Misery.

Stephen Takut dengan Angka 13

Gambar 5

Gambar 5

Dalam sebuah wawancara dengan Playboy di awal kariernya, Stephen pernah berkata kalau ia tak suka dengan angka 13. Saat menulis, jika sudah sampai di halama 13 atau kelipatannya, Stephen tak akan berhenti menulis. Dia akan menulis cepat-cepat sampai halaman 13 atau halaman kelipatannya bisa segera terlewati. Selain takut dengan angka 13, Stephen juga mengungkapkan kalau dirinya takut dengan gelap.

Banyak menulis cerita horor dan menakutkan, bukan berarti Stephen sosok penulis yang tak takut dengan apapun. Stephen juga takut dirinya nanti menderita penyakit mental yang berkaitan dengan usia yang semakin menua, seperti demensia dan Alzheimer’s. Dia takut nantinya hilang ingatan atau jadi gila.

Saat Masih Anak-Anak, Stephen Pernah Melihat Temannya Tewas

Stephen waktu masih kecil pernah menjadi seorang anak yang pendiam. Hal ini disinyalir karena ia melihat seorang temannya yang tewas ditabrak kereta api. Saat berusia empat taun, Stephen bermain dengan temannya, lalu seorang bocah berada di jalur kereta api di saat yang tak tepat. Bocah tersebut tertabrak kereta api dan tewas.

Stephen melihat hal itu tapi dalam karya non-fiksinya Danse Macabre, ia mengatakan, “Aku tak memiliki ingatan akan kejadian itu sama sekali, cuma diberitahu beberapa tahun kemudian setelah kejadian tersebut terjadi.” Ada kemungkinan alam pikiran bawah sadarnya yang menutupi ingatan tersebut. Sementara itu, ada sejumlah pendapat kalau peristiwa traumatis itu memberi dampak psikologis pada diri Stephen dan jadi inspirasinya untuk membuat sejumlah karya, walau hal itu tak diungkapkan oleh Stephen dalam memoarnya, On Writing.

image credits:
headline: http://lowcostacademicwriting.com/wp-content/uploads/2015/09/Stephen-King-012.jpg
Gambar 1: http://a2.ec-images.myspacecdn.com/images01/85/e0a0696870e5de04fe81d8a8324ba0ec/l.jpg
Gambar 2: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gamber 3: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gambar 4: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/05/STEPHEN-KING-1.jpg
Gambar 5: http://i.huffpost.com/gen/1868696/images/o-STEPHEN-KING-facebook.jpg

Ketika Pendapatan Kerjaan Freelance Mengalahkan Gaji Kerjaan Full-Time

Di kantor ngetik, pulang di rumah pun ngetik lagi. Itulah rutinitasku sekitar sebulanan terakhir ini. Kalau jam dan waktu ngetik itu kudedikasikan sepenuhnya buat bikin novel, sepertinya sebuah novel sudah terlahir saat ini, hehe.

Baru kali ini (alhamdulillah) dapat kerjaan freelance yang pendapatannya bisa ngalahin gaji bulanan. Tapi ya gitu, perjuangannya fiuh bikin capek raga dan jiwa. Sering lembur, bangun dan tidur langsung kangen-kangenan sama laptop. Bahkan pas tidur, urusan kerjaan dan deadline sampai kebawa mimpi. Parah! Parah! Pernah juga baru tidur jam 4 pagi, bukan karena full ngelembur menyelesaikan kerjaan tapi karena minum kopi dan badan udah kelewat capek. Jadinya susah buat tidur. Badan ini kadang kalau udah capek tapi masih dipaksa buat kerja atau aktivitas jadinya malah susah diajak istirahat.

Rasanya udah nggak kenal lagi sama istilah burn out. Stres? Entah, sudah lewat kayaknya. Hehe. Kerja emang jadi kayak mesin aja. Iya ini memang nggak baik. Tapi ya demi mengumpulkan modal nikah (eh?) dan dapat tawaran kerjaan, jadi sayang kan kalau rezeki ditolak.

Tadinya di awal bulan ini cuma ada satu kerjaan freelance. Tapi kemudian ada teman yang nawarin kerjaan buat menerjemahkan jurnal dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Tadinya ragu (lebih tepatnya nggak PD), soalnya udah lama nggak nerjemahin ditambah lagi topiknya juga aku nggak begitu menguasai. Akhirnya ya kerjaan itu kuambil juga. Selain karena yang nawarin temen sendiri, ya itung-itung buat menguji ketahanan otak dan pikiran buat kembali ke dunia penerjemahan. Meski ujung-ujungnya emang agak ngos-ngosan tapi sekaligus lega ketika akhirnya selesai juga.

Memang sih kerjaan baik freelance dan yang di kantor nggak jauh-jauh dari nulis. Tapi ketika saling kejar-kejaran jadinya memang bikin puyeng, hehe. Ditambah lagi nggak pernah aktif olahraga. Sesekali masih suka nyolong kesempatan minum kopi. Dan ngelembur dari hari ke hari. Waktu akhir pekan pun, kencannya sama laptop. Hari Minggu yang biasanya dibuat istirahat masih aja riweuh sama kerjaan. Jatah nonton drama Korea dan berbagai film kesayangan lain harus tergeser untuk sementara waktu demi mengejar deadline, hihihi. Kayaknya emang kudu mengatur waktu dan prioritas lebih baik lagi.

Karena sekarang kerjaan freelance tinggal satu, jadi sepertinya memang kudu meluangkan porsi waktu untuk istirahat lebih banyak lagi. Untuk pekerjaan, jujur aja punya impian bisa kerja di pojok studio punya sendiri. Mengerjakan hal-hal yang disuka. Membuat tulisan dan karya  yang benar-benar tulus dari hati. Dan (ini nih yang paling penting) bisa kaya raya dari kerjaan itu, hahaha tetap ya matre.

Ketika pendapatan kerjaan freelance lebih besar dari gaji bulanan kerjaan full-time karyawan, rasanya itu… langsung kepikiran bikin bisnis sendiri (langsung keluar otak dagangnya, hehe). Selain karena faktor ingin menambah uang tabungan, tujuanku mengerjakan lebih dari satu pekerjaan tak lain juga untuk mengukur potensi dan mental sendiri. Sejauh apa kemampuanku? Sampai batas mana ketahananku? Seberapa disiplin dan seberapa kuat menata hati serta emosi? Itu sih. Capek jelas iya. Stres? Wah, jangan ditanya lagi. Di balik itu semua, ya semoga Allah ngasih kesehatan terus buat kita semua biar bisa mengerjakan hal-hal yang kita mampu dan suka.

(kali ini tulisannya nggak ngikutin EYD nggak apa-apa kan ya? hehe, anggap aja ini teknik free writing) *ngeles

oh ya, itu gambar headline diambil dari pexels.com (karena kenyataannya saya kalau kerja pakai laptop lawas dan nggak serapi seperti yang di gambar)

 

R. L. Stine, Dulu Bocah Penakut Tapi Sekarang Jadi Penulis Cerita Horor Terkenal

Robert Lawrence “R. L.” Stine, buat kamu yang penggemar cerita-cerita horor pasti nggak asing dengan nama penulis yang satu ini. Pria yang lahir tanggal 8 Oktober 1943 ini juga sering dijuluki sebagai Stephen King-nya sastra anak-anak. Sudah ratusan buku bergenre horor yang ia tulis untuk anak-anak dan remaja. Tak heran jika ia juga dinobatkan sebagai salah satu penulis besar di bidang sastra modern. Buku-bukunya bahkan sudah terjual lebih dari 400 juta eksemplar di seluruh dunia.

Buat kamu yang masuk dalam golongan generasi 90an pastinya juga pernah memiliki masa-masa tenggelam dan asyik sendiri membaca novel Goosebumps yang sangat populer itu. Ada kisah menarik dari sosok penulis yang satu ini. Perjalanan kariernya pun dimulai saat ia masih kanak-kanak. Selengkapnya, yuk ikuti infonya lebih lengkap di sini.

Dulu Cuma Murid Biasa, Malah Nggak Begitu Suka Sekolah

Gambar 2

Gambar 2

Stine merupakan putra dari pasangan Lewis Stine dan Anne. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pengiriman dan pengepakan barang (shipping clerk) sementara ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Saat berusia sembilan tahun, Stine menemukan mesin ketik tua di loteng rumah. Dari situ, ia mulai mengetik dan membuat berbagai jenis cerita dan humor.

Stine merupakan murid biasa dengan prestasi rata-rata. Bahkan ia tak terlalu suka sekolah. Saat masih kecil, ia tak suka main di luar rumah. Ia lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di rumah untuk mengetik dan membuat berbagai jenis cerita dan humor. Kalau sudah tenggelam dalam dunianya, dia betah berlama-lama dengan mesin ketiknya.

Stine Mengaku Dirinya Dulu Anak yang Penakut

Gambar 3

Gambar 3

Dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh sparknotes.com, Stine mengaku dirinya dulu adalah bocah yang penakut. Ia takut pada berbagai hal. Rasa takutnya itulah yang membuatnya lebih suka berdiam di dalam rumah pada pagi hari untuk mengetik dan membuat cerita. “Aku sangat pemalu dan penakut. Aku baru akan bersepeda di malam hari dan selalu merasa ada seseorang yang mengintipku di garasi,” ucapnya. Saking takutnya, dia akan melemparkan sepedanya begitu saja dan langsung lari masuk ke rumah.

Meski Stine tahu kalau anak kecil seharusnya tak boleh sepenakut itu, kini ia jadi bisa memanfaatkannya. Perasaan panik dan takut yang pernah ia rasa waktu kecil bisa dijadikan sumber inspirasi menulisnya saat dewasa. Sejak kecil ia memang sudah ingin jadi penulis. Ditanya soal tips menulis, Stine mengaku kalau ia jarang memberi tips menulis karena dirinya sendiri sudah menulis sejak kecil. Kalau menulis ya menulis saja tak usah pakai disuruh menulis, begitu kira-kira tanggapannya.

Setelah Lulus Kuliah, Stine Bekerja di Majalah Anak-Anak

Gambar 4

Gambar 4

Stine berkuliah di Ohio State University dan lulus pada tahun 1965 dari jurusan bahasa Inggris. Selama kuliah, ia juga bekerja di majalah kampus, The Sundial sebagai editor. Setelah lulus, ia pindah ke New York City. Di sanalah ia membangun kariernya di bidang penulisan.

Stine diterima bekerja di Scholastic, Inc. Ia bekerja di majalah anak-anak. Di waktu senggangnya, ia menulis buku-buku humor untuk anak-anak dengan nama pena Jovial Bob Stine. Pertengahan tahun 70an, Stine mendirikan sebuah majalah humor untuk anak-anak dan remaja bernama Bananas. Majalah tersebut dipublikasikan oleh Scholastic Press antara tahun 1975 hingga 1984.

Kehilangan Pekerjaan Membuatnya Jadi Penulis Penuh Waktu

Gambar 5

Gambar 5

Stine dipecat dari Scholastic saat perusahaan tersebut melakukan reorganisasi. Setelah dipecat, Stine putar haluan menjadi seorang penuis penuh waktu. Ia gunakan waktunya sepenuhnya untuk fokus menulis. Pada masa itulah, Stine mulai menemukan minat dan ketertarikannya pada genre horor.

Karya novel horor pertamanya berjudul Blind Date yang terbit tahun 1986. Novel itu mendapat sambutan hangat dari para pembacanya. Setelah itu, Stine menulis karya berikutnya, seperti Twisted yang terbit tahun 1987 dan The Baby-Sitter yang diterbitkan tahun 1989. Dari situ, karya-karyanya yang bergenre horor makin dikenal

Novel Serial Fear Street Laku Terjual 80 Juta Eksemplar

Pada tahun 1989, Stine mula menulis novel berseri yang berjudul Fear Street. Karya tersebut merupakan karya serial tentang para remaja yang melakukan sejumlah petualangan yang berkaitan dengan hantu, pembunuh, dan karakter-karakter aneh. Buku pertama dari serial tersebut berjudul The New Girl. Serial ini sangat populer. Bahkan tercatat sampai terjual hingga 80 juta eksemplar.

Selain menulis novel bergenre horor, Stine juga ikut terlibat dalam tayangan televisi Eureeka’s Castle dan menjadi penulis utamanya. Acara tersebut ditayangkan di Nickelodeon Network dalam kurun waktu 1989 hingga 1995. Wah, sebagian besar waktu Stine memang digunakan untuk menulis dan berkarya, ya.

Goosebumps Jadi Serial yang Super Populer dan Terjual Hingga 300 Juta Eksemplar

Gambar 6

Gambar 6

Pernah tahu dong soal novel serial Goosebumps? Serial inilah yang sangat lekat dengan sosok R. L. Stine. Stine memperkenalkan serial Gooseebumps pada tahun 1992. Goosebumps merupakan cerita fiksi horor anak-anak di mana para tokohnya dihadapkan pada situasi menyeramkan. Serial ini langsung menyedot perhatian dunia. Sampai-sampai sudah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Tercatat serial Goosebumps merupakan buku terlaris kedua di dunia setelah Harry Potter.

Serial ini sangat populer. Sampai-sampai laku terjual hingga 300 juta eksemplear di seluruh dunia. Kesuksesan novel itu juga diikuti dengan tayangan televisi serial Goosebumps yang tayang sampai empat season mulai dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Selain diadaptasi jadi tayangan televisi, Goosebumps juga diadaptasi jadi tiga video game. Stine juga kemudian melebarkan sayapnya untuk menulis buku serial lainnya, seperti Mostly Ghostly, Rotten School, The Nightmare Room, dan novel Dangerous Girls (2003) dan The Taste of Night (2004). Tahun 2007, film fantasi horor berjudul The Haunting Hour: Don’t Think About It dibuat yang terinspirasi dari novel anak yang dibuatnya.

***

image credits:
Gambar 1
https://www.theguardian.com/childrens-books-site/gallery/2016/may/16/goosebumps-rl-stine-what-you-didn-t-know#img-2
Gambar 2
http://cdn.bloody-disgusting.com/wp-content/uploads/2015/10/rlstinebanner.jpg
Gambar 3
http://www.cbc.ca/gfx/topvideo/2015/rl-stine-101615.jpg
Gambar 4
https://i.ytimg.com/vi/NXmj8uAM2YY/maxresdefault.jpg
Gambar 5
http://www.barnesandnoble.com/blog/barnesy/wp-content/uploads/2014/10/RLStineatBN-2.jpg
Gambar 6
https://i.ytimg.com/vi/bX7fnOlR4-U/hqdefault.jpg

7 Cara Membahagiakan Lagi Keluarga yang Pernah Kita Kecewakan

Sekali kita mengecewakan keluarga, rasa penyesalannya akan terus terbawa seumur hidup. Seolah ada bayangan hitam yang akan terus menyelimuti kita setiap saatnya. Bahkan muncul sesak di dada setiap kali teringat sebuah kekecewaan yang telah kita torehkan di hati orang-orang tercinta kita. Sayangnya (dan memang kenyataannya), waktu tak bisa diputar kembali. Masa yang telah lalu tak pernah bisa kita dapatkan kembali.

Seperti yang sudah sering kita tahu, penyesalan selalu datang terlambat. Saat masih remaja, kita jarang mendengarkan nasihat ayah dan ibu. Lebih sering berbuat onar sampai merepotkan semua anggota keluarga. Suka seenaknya sendiri melakukan sesuatu, padahal ada keluarga yang begitu mengkhawatirkan kita setiap harinya. Mungkin dulu waktu sekolah atau kuliah kita belum bisa mempersembahkan prestasi terbaik. Dalam memilih pekerjaan pun, mungkin jalan yang kita pilih berbeda dari harapan keluarga.

Belum bisa jadi kebanggaan keluarga.
Belum memenuhi harapan keluarga.
Lebih sering meminta daripada memberi.
Tak jarang menyusahkan daripada meringankan.
Masih sering jadi beban dan bukan memberi bantuan.

Ah, betapa sering kita mengecewakan keluarga.

Saat kita makin dewasa, kita makin menyadari arti penting keluarga. Melihat ayah dan ibu yang semakin lanjut usia membuat kita kembali diingatkan betapa waktu bisa berlalu begitu cepat. Adik, kakak, dan saudara yang makin dewasa menyadarkan kita soal banyaknya hal-hal yang sering kita lewatkan begitu saja tanpa arti. Yang lebih menohok lagi adalah kita makin sering dihantui pertanyaan, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk keluarga?” “Sudahkah kamu jadi orang yang membanggakan dan bisa meninggikan derajat keluargamu?” “Jangan-jangan hidupmu selama ini tak ubahnya debu yang cepat atau lambat akan tersapu angin dan lenyap seketika?”

“When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching — they are your family. ”
― Jim Butcher

Ada satu cara untuk menebus sebuah rasa sesal. Apa itu? Tak lain adalah segera memperbaiki sesuatu, saat ini juga, dimulai hari ini juga.

1. Membuat Prestasi Baru, Buat Mereka Kembali Tersenyum Padamu

image credit: pexels

image credit: pexels

Saatnya untuk kembali melangkah. Melakukan sesuatu yang baru. Menorehkan prestasi baru. Buat orang tua dan keluarga kita kembali bangga. Mulai dengan sesuatu yang memang sudah kita kuasai dengan baik. Kembali berkarya dengan hati demi bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat lagi.

Setidaknya jaga nama baik keluarga dengan melalukan sesuatu yang bermanfaat untuk lebih banyak orang lain. Kalau saat ini kamu masih sekolah atau kuliah, ya selesaikan tugasmu dengan baik. Ciptakan sesuatu yang kamu suka dan bermanfaat untuk orang lain. Kalau kamu sudah bekerja atau membangun usaha, lakukan sesuatu yang bisa memberi dampak positif untuk orang-orang di sekitar kita.

2. Luangkan Waktu Khusus untuk Berkumpul Bersama Keluarga

image credit: pexels

image credit: pexels

Kesibukan dan rutinitas harian kita mungkin padat. Dari pagi hingga malam selalu sibuk melakukan banyak hal. Tapi coba luangkan waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga. Kebersamaan singkat bisa ciptakan sebuah kebahagiaan baru.

“I sustain myself with the love of family.”
― Maya Angelou

Makan bersama, nonton TV bareng-bareng, atau sekadar seru-seruan foto selfie bareng. Yang penting hadirkan lagi kehangatan dalam keluarga. Tersenyum dan tertawa bersama. Merasakan kembali sebuah kebersamaan akan memberi kita sebuah kekuatan. Ada energi positif yang kita dapatkan. Hanya cinta dan kasih keluarga yang bisa selalu  menguatkan kita.

3. Memberi Hadiah atau Kejutan di Saat Tak Terduga

image credit: pexels

image credit: pexels

Tak perlu menunggu momen khusus seperti hari ulang tahun atau hari pernikahan orang tua. Kapan pun kita bisa memberi kado, hadiah, atau kejutan untuk orang-orang tercinta kita. Sesuaikan dengan hobi atau minatnya. Misalnya nih, ibu kita suka sekali mengoleksi tas, jadi belikan saja tas baru yang mungkin sudah lama ia idamkan. Membelikan tas wanita terbaru untuk ibu tercinta bisa jadi cara kita untuk kembali meraih hatinya, ya nggak sih?

Tapi sebenarnya kejutan tak harus dalam bentuk kado atau barang. Bisa juga dengan hal-hal sederhana. Seperti membuatkan makan malam istimewa atau memasak masakan favorit keluarga dengan tangan kita sendiri. Tujuan dan niatnya adalah membuat orang tercinta kita merasa bahagia dengan sesuatu yang kita berikan dari hati. Sesuatu yang berasal dari hati pasti juga akan sampai ke hati.

4. Lebih Banyak Tersenyum dan Pasang Wajah Manis

image credit: pexels

image credit: pexels

Cara yang satu ini cukup sederhana. Hanya saja memang kadang sulit untuk benar-benar bisa dilakukan. Yang ada malah memasang wajah bete atau cemberut. Padahal banyak-banyak tersenyum itu baik untuk kesehatan, juga pastinya bisa jadi ladang pahala.

“Don’t cry because it’s over, smile because it happened.”
― Dr. Seuss

Tak perlu lagi menangisi sebuah penyesalan yang telah lalu. Yang berlalu tak pernah bisa kita genggam kembali. Hal terpenting adalah momen yang kita miliki saat ini. Saatnya untuk lebih banyak tersenyum. Memulai langkah baru. Menciptakan lembaran baru. Memperbaiki kesalahn yang pernah kita buat. Ambil pelajarannya dan jadikan motivasi untuk mempersembahkan yang lebih baik untuk keluarga tercinta kita.

5. Meminta Maaf Langsung, Sebuah Maaf Bisa Membuat Jalan Hidup Kita ke Depannya Lebih Lapang

image credit: pexels

image credit: pexels

Berani dan punya cukup nyali untuk meminta maaf langsung atas kesalahan yang pernah dibuat? Kalau  kita bisa, mampu, dan mau melakukannya, nggak ada salahnya untuk meminta maaf langsung ke keluarga. Jika dulu ada kesalahan yang pernah melukai hati orang terdekat kita, sekarang saatnya untuk meminta maaf.

“I also believe that parents, if they love you, will hold you up safely, above their swirling waters, and sometimes that means you’ll never know what they endured, and you may treat them unkindly, in a way you otherwise wouldn’t.”
― Mitch Albom, For One More Day

Kita bukanlah pemilik waktu atau penggenggam waktu. Tak pernah tahu kapan kita akan melihat keluarga yang kita cintai untuk terakhir kalinya. Tak terbayang rasanya jika harus berpisah dengan seseorang yang paling kita cintai tanpa sempat mengucap selamat tinggal atau sampai jumpa lagi. Keluarga adalah orang-orang yang akan selalu meneirma kita. Sekalipun mereka tak sempurna, tapi kita bisa selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik demi mereka.

6. Ajak Liburan Bersama, Ciptakan Kenangan dan Kebahagiaan yang Baru

image credit: pexels

image credit: pexels

Saatnya untuk tak lagi mengungki-ungkit semua yang telah berlalu. Ambil saja hikmah dan pelajaran yang sudah lewat. Sekarang saatnya untuk melangkah ke depan dengan menciptakan kenangan yang baru.

Berlibur dengan keluarga akan menciptakan senyum dan tawa baru. Setiap momennya pun akan jadi kenangan yang membuat ikatan keluarga makin kuat. Biarkan hati yang patah itu tumbuh kembali, Saatnya memberi kesempatan untuk diri sendiri mengubah penyesalan jadi dorongan untuk berbuat yang lebih baik demi keluarga.

7. Ulurkan Tanganmu Meringankan Beban Keluarga Sekalipun Kamu Belum Sempurna

image credit: pexels

image credit: pexels

Sebuah noda bisa hilang jika kita terus berusaha menggosok, membasuh, dan membilasnya dengan sabun serta air bersih. Sebentuk penyesalan karena dulu pernah mengecewakan keluarga bisa terobati dengan memberikan persembahan. Saatnya untuk mengulurkan tangan, meringankan beban keluarga, sekecil atau sedikit apapun itu. Meski kita belum sempurna dan dulu pernah berbuat banyak salah, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pada dasarnya kita memang manusia biasa. Pernah berbuat salah dan menorehkan luka. Bahkan kita juga pernah menyakiti hati keluarga kita sendiri. Padahal dari mereka lah kita memahami arti cinta. Dari ibu, ayah, saudara, dan kerabat itulah kita memahami arti kebersamaan dan kebahagiaan. Saatnya untuk berbahagia bersama keluarga. Membagi cinta dan menjalani hidup dengan lebih indah.

 

 

 

Roald Dahl, Si Pilot Pesawat Tempur yang Jadi Penulis Buku Anak-Anak

Pernah baca atau nonton film Charlie and the Chocolate Factory? Adalah Roald Dahl sosok yang menciptakan karya tersebut. Pria kelahiran Llandaff tanggal 13 September 1916 ini dikenal sebagai seorang penulis buku anak-anak yang terkenal. Tapi siapa sangka ternyata dulunya ia adalah seorang pilot pesawat tempur (fighter pilot) pada zaman Perang Dunia II.

Banyak sekali karya yang ia buat selama hidupnya. Beberapa yang terkenal, antara lain James and the Giant Peach yang terbit tahun 1961. Lalu yang sudah disebutkan tadi, Charlie and the Chocolate Factory yang dirilis pada tahun 1964 dan diadaptasi jadi film. Dan sebelumnya juga ada kumpulan cerita berjudul Someone Like You yang dipublikasikan tahun 1953. Tercatat sudah ada 16 buku anak-anak yang ia tulis sebelum wafat tanggal 23 November 1990 di Oxford, Inggris.

Saat Roald Berusia 4 Tahun, Ayahnya Meninggal Dunia

Gambar 2

Gambar 2

Kedua orang tua Roald berdarah Norwegia. Di liburan musim panasnya, Roald pergi ke rumah kakek neneknya di Oslo. Saat Roald masih berusia 4 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Roald kecil bersekolah di Llandaff Cathedral School. Di sekolah itu, kepala sekolah pernah memukulnya karena bercandanya yang kelewatan. Ibu Roald lalu memindahkan putranya tersebut untuk bersekolah di St. Peter’s, sebuah sekolah berasrama di Inggris seperti yang diinginkan ayahnya. Setelah itu, Roald lanjut sekolah di Repton, sebuah sekolah swasta dengan reputasi akademik yang gemilang.

Roald Tak Mau Lanjut Kuliah di Oxford

roald-dahl-3

Gambar 3

Saat bersekolah di Repton, Roald sempat memprotes soal aturan-aturan sekolah tersebut. Selama bersekolah di sana, Roald memiliki keinginan yang amat dalam untuk bertualang dan melanglang buana. Meskipun ia siswa yang beprestasi, ia menolak tawaran ibunya untuk membiayainya berkuliah di Universitas Oxford atau Cambridge.

Seperti yang dikutip dari otobiografinya, Boy: Tales of Childhood, Roald memaparkan, “Tidak, terima kasih. Aku ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah di perusahaan yang bisa membawaku ke tempat-tempat indah dan jauh seperti Afrika atau Cina.” Dan ia memang melakukan apa yang diucapkannya tersebut. Setelah lulus dari Repton tahun 1932, Roald mengikuti sebuah ekspedisi ke Newfoundland. Setelah itu, ia bekerja di Shell Oil Company di Tanzania, Afrika sampai tahun 1939.

Roald Bergabung di Angkatan Udara dan Menjadi Pilot Pesawat Tempur

Gambar 4

Gambar 4

Ketika hasrat berpetualangnya belum terpuaskan, Roald bergabung ke Angkatan Udara Britania Raya (Royal Air Force) pada tahun 1939. Setelah mengikuti pelatihan di Nairobi, Kenya, Roald akhirnya menjadi pilot pesawat tempur di Perang Dunia II. Saat bertugas di Mediterania, Roald mengalami kecelakaan pesawat di Alexandria, Mesir.

Akibat kecelakaan tersebut, Roald mengalami cedera berat di tengkoraknya, tulang belakang, dan pinggul. Roald sampai harus menjalani operasi pinggul dan dua kali operasi tulang belakang. Ia kemudian dipindah ke Washington, D.C. dan menjadi asisten atase udara.

Pertemuannya dengan C.S. Forrester Membuatnya Semangat Menulis

Gambar 5

Gambar 5

Saat berada di Washington, D.C., Roald bertemu dengan penulis C.S. Forrester yang menyemangatinya untuk menjadi penulis. Roald menerbitkan cerita pendek perdananya di Saturday Evening Post. Lalu ia lanjut menulis cerita dan artikel untuk majalan lainnya, termasuk The New Yorker.

Roald mengatakan kalau pengalaman menulisnya terjadi lancar begitu saja. Hanya saja karya pertamanya untuk anak-anak yang berjudul The Gremlins yang terbit pada tahun 1942 tak meraup sukses besar. Akhirnya, ia kembali membuat tulisan bergenre misteri dengan sasaran pembaca orang dewasa. Ia terus berkarya sampai akhirnya bisa sukses menerbitkan Someone Like You pada tahun 1953 dan Kiss, Kiss pada tahun 1959.

Roald Menulis Cerita Anak Saat Sudah Jadi Ayah

Gambar 6

Gambar 6

Pada tahun yang sama saat Someone Like You terbit, Roald menikahi seorang artis film, Patricia Neal yang memenangkan Academy Award atas perannya di Hud tahun 1961. Pernikahan itu bertahan selama tiga dekade dan dikaruniai lima orang anak, salah satunya meninggal dunia tahun 1962 karena ditabrak sebuah taksi di New York City. Putra Roald tersebut mengalami cedera parah dan mengalami hydrocephalus, sayangnya nyawanya tak tertolong kemudian.

Pernikahan Roald dan Neal tak bisa bertahan lebih lama lagi. Roald lalu bercerai dengan Neal pada tahun 1983. Tak lama kemudian, Roald menikahi Felicity Ann Crossland yang bertahan hingga akhir hayatnya.

Roald sering mendongeng atau membacakan cerita untuk anaknya sebelum tidur di malam hari. Kebiasaan itulah yang kemudian menginspirasinya untuk menulis cerita anak-anak. Menurut Roald, anak-anak itu sangat kritis dan cepat sekali merasa bosan. “Kita harus terus menyertakan hal-hal yang menggelitik. Kalau anak sudah kelihatan agak bosan, kita harus segera memikirkan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya. Sesuatu yang menggelitik. Kita harus tahu apa yang disukai anak-anak,” begitu penuturannya pada sebuah wawancara dengan New York Times.

Roald Menulis Ceritanya di Sebuah Gudang di Halamannya

Gambar 7

Gambar 7

Setiap hari pada pukul 10.00-12.00 dan 16.00-18.00, Roald Dahl menulis di sebuah gudang di halamannya. Semua karyanya ditulis dengan menggunakan pensil HB di lembaran kertas berwarna kuning (yellow legal notepads).

Kariernya sebagai penulis buku cerita anak dimulai pada tahun 1961, saat itu ia menerbitkan karyanya yang berjudul James and the Giant Peach. Tiga tahun kemudian, Roald menerbitkan maha karyanya, Charlie and the Chocolate Factory. Kedua buku tersebut kemudian diadaptasi jadi film yang kemudian terkenal.

Roald Dahl Wafat Tanggal 23 November 1990

Setelah mengalami infeksi yang tak diketahui pasti, Roald lalu dirawat di John Radcliffe Hospital di Oxford, Inggris. Ia meninggal dunia di sana pada tanggal 23 November 1990 pada usia 74 tahun. Roald dimakamkan beserta sejumlah benda. Benda-benda tersebut, antara lain gergaji mesin, pensil HB, cokelat, red wine, dan snooker cues.

Image credits:

Gambar 1
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02335/roalddahl_2335901b.jpg

Gambar 2
http://farm9.staticflickr.com/8038/7982199427_4fddd6957b_o.jpg

Gambar 3
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01693/fts-dahl-new0_1693331c.jpg

Gambar 4
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2011/09/13/article-0-00D0F88C00000190-711_634x432.jpg

Gambar 5 http://www.telegraph.co.uk/content/dam/books/2015-07/Roald-Dahls-Darkest-Hour/roald-dahl-family-large.jpg

Gambar 6
http://www.oxfordculturemania.es/wp-content/uploads/2016/02/6142946853_49c55033ed_b.jpg

Gambar 7
http://www.euclidlibrary.org/images/tickle-your-brain/_62816424_fantasticmrdahl.jpg?sfvrsn=0

The More You Go Higher, The More You Feel Smaller

At some point, I realize that the more I go higher, the more I feel smaller. I am not as strong as I thought before. I am not as great as I imagined to be. I am nobody, still nobody.

I am not a kind person people may think. Not every day or every moment I can put a genuine smile on my face. Sometimes, I have to wear a mask so people can assume I’m okay. Swallowing all negative thoughts by myself. Receiving critiques and complaints without even trying to defense myself. Pretending to be a angel though there’s a monster inside me. Oh My! Do I look so hopeless?

To be honest, I am not a type of person who gets angry easily. But, once you hurt my soul or my pride, I’ll be putting a distance from you. No more respect to you even though I’ll be trying to act as politely as possible in front of you. It might be harsh or too selfish of me but, please, allow me to be honest this once.

I really want to go higher, fly as far as possible to seek happiness. Walking on air seems challenging but at the same time too frightening. I am so tempted to feel the greatness by going up high. On the other side, I am too afraid to fall by a sudden wind struck. What should I do now?

I failed several times. Now, I am too afraid to get back up. I’m not ready to fall again. It hurts.

I really want to go higher but I can only see darkness of clouds up there. I cannot see anything. I cannot predict anything. I am so clueless.

I want to reach a higher state but I still cannot face the fact that I’m gonna be smaller once I reach there. What a confusing state!

No place to run or to hide. The only direction I know is going straight right there. The other alternative is flying right up from here. Now, just please to stay alive.

 

5 Tips Super Simpel Meresensi Buku

Setiap orang punya selera sendiri soal buku. Ibarat makanan, ada makanan yang tak kita suka ada yang sangat kita suka. Begitu pula dengan selera soal buku. Kalau sudah soal selera, biasanya perdebatan akan sangat panjang. Suka dan tidak suka, itu memang kembali pada pribadi masing-masing.

Ketika meresensi sebuah buku, kadang saya merasa deg-degan juga. Apakah penilaian saya ini sudah obyektif? Jangan-jangan masih serba asal menghakimi? Bagaimana kalau resensi saya malah menjatuhkan buku atau karya tersebut? Nanti kalau para fans tidak terima, wah saya bisa kena marah. Kalau penulisnya tak terima, aduh saya mungkin akan dicaci. Hehe, jadi paranoid sendiri, nih.

Saya pun masih terus belajar cara meresensi buku yang baik. Buku adalah sebuah karya. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Urusan sempurna tak sempurnanya buku, semua itu bisa ditentukan dengan standar dan kriteria tertentu. Kalau variabel penilaian yang digunakan berbeda, jelas hasil keseluruhannya juga akan berbeda.

Berikut lima tips yang saya pahami soal meresensi buku. Tips-tipsnya sederhana saja dan masih bisa dikembangkan lagi.

1. Deskripsikan Isi Buku dengan Singkat

Tuliskan gambaran umum tentang buku tersebut. Buku ini tentang apa, sih? Genre-nya apa? Novel kah? Non-fiksi? Memoar? Kumpulan cerita? Jelaskan secara singkat dan umum tentang buku tersebut.

Waktu saya dulu menjadi editor buku, atasan saya selalu meminta saya untuk menjabarkan sebuah buku dalam satu kalimat dalam memutuskan apakah sebuah buku akan diterbitkan atau tidak. Kurang lebih perintahnya begini, “Dalam satu kalimat, jelaskan isi buku tersebut.” Saya rasa cara ini juga bisa dilakukan ketika mengawali resensi sebuah buku.

Hanya saja deskripsi singkatnya usahakan tak mengandung spoiler. Jabarkan secara umum tentang nyawa buku tersebut. Dan pertahankan rasa penasaran pembaca akan buku tersebut.

Jangan lupa juga menuliskan identitas buku, mulai dari siapa penulisnya, penerbitnya, editornya, dan sebagainya. Sebaiknya ditulis dengan lengkap. Supaya yang membaca resensi kita bisa mendapat gambaran si buku dengan jelas.

2. Jabarkan Hal-Hal yang Kita Suka

Fokuskan pada apa yang kita suka dan rasakan dari membaca buku tersebut.

Misal, dalam meresensi sebuah novel, jabarkan hal-hal berikut ini:

  • Siapa tokoh favoritmu? Apa alasannya?
  • Apakah tokoh-tokohnya terasa nyata?
  • Apakah ceritanya logis dan terus bikin penasaran?
  • Bagian apa yang paling kamu suka dari buku tersebut?
  • Adegan mana yang paling berkesan dari buku itu?

Di bagian ini, kita bisa menyertakan sinopsis singkat tentang buku tersebut. Bukan rangkuman dari setiap bab, hanya soal alur ceritanya (kalau cerita fiksi) tanpa membocorkan akhir cerita. Atau tentang poin-poin yang dimuat dalam buku tersebut.

3. Paparkan Sejumlah Hal yang Tak Kita Suka

Apakah ada hal-hal yang kita suka dari buku tersebut? Apa alasan kita tak menyukainya? Di bagian ini, kita bisa memberikan opini dan sudut pandang kita tanpa terlalu menyudutkan nyawa karya tersebut. Sebisa mungkin kita jujur soal bagian-bagian yang tak kita suka dari buku yang kita resensi. Tapi sekali lagi, faktor selera juga sangat berpengaruh besar ketika memaparkan soal bagian-bagian apa saja yang tak kita suka dari buku yang sedang kita ulas.

4. Bukunya Lebih Cocok Dibaca oleh Siapa?

Saatnya untuk memberi rekomendasi. Rekomendasi ini terkait siapa target pembaca yang paling pas untuk buku tersebut, kalangan apa yang sekiranya bakal dapat banyak manfaat dari buku itu, dan sebagainya. Selain itu, kita juga bisa memberikan perbandingan antara buku yang kita resensi dengan buku lainnya. Apakah ada buku lain yang mirip atau “satu nyawa” dengan buku yang sedang kita ulas? Adakah kesamaan antara buku yang sedang kita ulas dengan buku lainnya?

5. Pemberian Peringkat atau Bintang

Kita bisa memberi peringkat, skor, atau jumlah bintang tertentu pada buku yang kita ulas. Tentunya nilai akhir tersebut ditentukan berdasarkan ulasan yang kita buat. Di bagian ini, kita juga bisa memberikan kesimpulan singkat soal buku yang kita ulas. Cukup satu atau tiga kalimat saja sebagai penutupnya.

Meresensi buku itu bukan merangkum. Tak sekadar merangkum keseluruhan isi buku tapi juga menyampaikan apresiasi dan kritik yang membangun. Namun, lebih dari itu semua, meresensi itu juga bagian dari menikmati sebuah karya.

 

Punya Investasi Reksadana di Usia 20-an, Ini 5 Keuntungan Terbaiknya!

Ketika akhirnya lulus kuliah dan bekerja, saya menyadari kalau cari uang itu susah. Belum lagi dengan dampak inflasi dan harga kebutuhan yang terus meningkat. Gaji sebulan bisa habis duluan sebelum tanggal tua. Lama-lama cemas juga. Apa iya sampai tua nanti bakal terus hidup dengan dibuat pusing soal uang? Kamu juga mungkin pusing soal bagaimana cara untuk #WujudkanImpianmu di tengah kondisi yang serba sulit ini.

Menabung pun bukan satu-satunya cara untuk bisa menjaga kestabilan finansial. Selain menabung, ternyata ada alternatif yang lebih efektif untuk mengatur keuangan demi masa depan, yaitu investasi. Tapi bukannya investasi itu penuh risiko? Ya, hal itu yang pertama kali terbersit di pikiran saya saat mendengar soal investasi. Sampai akhirnya saya mengetahui soal reksadana. Beberapa bulan terakhir ini pun saya selalu menyisihkan sebagian gaji saya untuk dibelikan reksadana. Manfaatnya pun sungguh langsung terasa.

 Mengacu pada Undang Undang Nomor 8 tahun 1995, reksadana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk selanjutnya diinivestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Investasi sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Tak usah menunggu kaya baru investasi. Bahkan dengan menyisihkan sebagian uang yang kita miliki, kita sudah bisa berinsvestasi. Akan lebih baik lagi jika sudah mulai berinvestasi di usia 20-an. Karena apa? Karena manfaat dan keuntungannya sangat besar. Berikut lima keuntungan terbaik bila sudah mulai berinvestasi di usia 20-an.

1. Uang Kita Aman Dikelola Manajer Investasi

Sibuk bekerja dari pagi hingga sore, enam hari seminggu membuat waktu jadi sangat terbatas untuk mengurusi hal-hal lain di luar pekerjaan. Hal ini kerap jadi alasan kita untuk malas mencoba investasi. Terlebih jika kita tak punya latar belakang ilmu ekonomi, seperti saya, jelas rasanya sudah mikir bakal ribet duluan sebelum mencoba reksadana. “Namun, demi #WujudkanImpianmu kamu juga perlu mencoba sesuatu yang baru,” itu yang saya katakan pada diri sendiri. Dan ternyata proses investasi reksadana sangatlah mudah. Sudah ada manajer investasi yang mendedikasikan waktunya untuk mengelola dana, sehingga kita tak perlu repot-repot menggunakan waktu yang memang sudah terbatas.

Selain itu, risikonya juga terbilang kecil. Reksadana ini dikelola oleh para profesional pasar modal yang memiliki akses pada informasi dan perdagangan efek. Sehingga mereka pun bisa meneliti berbagai peluang investasi terbaik untuk para nasabahnya. Dana investasi kita ditempatkan pada beberapa macam instrumen investasi di pasar modal. Dengan kata lain, risiko kerugian investasi secara keseluruhan jadi lebih kecil.

Berinvestasi reksadana bisa dilakukan dengan sangat mudah. Salah satu caranya adalah memilih investasi online. Jadi, perusahaan penyelenggara reksadana umumnya memiliki situs sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah download prospektus mereka. Kalau sudah mantap untuk berinvestasi, kita tinggal download formulir pembelian. Nanti, kita akan melakukan transfer ke bank custodian, mengisi formulir pembelian, dan mengirimkannya ke perusahaan penyelenggara reksadana. Pihak perusahaan penyelenggara akan mengkonfirmasi subscription kita.

Saat ini ada POEMS ProFunds, yaitu sistem reksadana online yang disediakan oleh dan milik Phillip Securities Indonesia. Apa itu POEMS? POEMS adalah kepanjangan dari Philip’s Online Electronic Mart System. Kita akan sangat terbantu dengan POEMS ProFunds ini untuk membuat analisis yang matang sebelum akhirnya membuat keputusan investasi reksadana.

poems

Banyak fitur yang tersedia di aplikasi POEMS. Mulai dari info terbaru, grafik saham, status pemesanan, stock screener, dan juga Smart Safe yang bisa digunakan untuk membatasi serta melindungi profit. Satu lagi yang paling menarik dan sangat membantu adalah adanya supermarket reksadana yang menyediakan sedikitnya 40 produk yang dilengkapi prospektus masing-masing. Sehingga kita tak akan kebingungan untuk memutuskan membeli yang mana.

poems profunds

Dengan saham dan reksadana online berada dalam satu platform, kita bisa berinvestasi dengan lebih nyaman dan mudah. Buat kamu yang sibuk dengan pekerjaan dan berbagai kesibukan lain, jelas kehadiran POEMS ProFunds sangat membantu sekali. Kita pun bisa dengan mudah memaksimalkan dana mengendap menggunakan fitur autosweep. Sehingga, return yang kita dapat jadi lebih maksimal. Berinvestasi pun jadi lebih leluasa karena reksadana bisa sangat diandalkan sebagai jaminan transaksi saham.

poems profunds nasabah

Sekalipun kamu bukan nasabah, kamu tetap bisa #WujudkanImpianmu untuk berinvestasi dengan cara mudah. Yang kamu lakukan cukup membuka rekening efek dengan deposit awal satu juta rupiah. Kalau kamu mahasiswa, caranya lebih gampang, cukup deposit awal senilai 100 ribu rupiah saja. Dengan cara itu, kamu sudah bisa menikmati tiga keunggulan investasi reksadana tanpa ribet.

2. Keuangan Lebih Terkontrol Meski Gaji Pas-Pasan

Setiap kali gajian, sebagian selalu saya sisihkan untuk diinvestasikan. Meski gaji pas-pasan, saya merasakan betul manfaatnya untuk lebih mudah mengontrol keuangan dengan berinvestasi reksadana. Walau memang harus agak dipaksa, tapi kalau nggak disiplin dan mengendalikan diri, jelas pemborosan akan terus terjadi. Agar bisa #WujudkanImpianmu kamu memang harus bisa belajar mengendalikan diri sejak dini.

Reksadana memang wadah yang tepat untuk orang-orang yang punya dana pas-pasan. Punya dana pas-pasan akan membuat kita sulit membeli suatu instrumen apalagi untuk mendiversifikasikan portofolionya. Untuk para investor pemula, membeli reksadana bisa menjadi langkah pertama yang aman.

3. Lebih Percaya Diri Menatap Masa Depan dengan Keuangan yang Stabil

Di usia 20-an, biasanya kita sudah mendapat pekerjaan dan hidup lebih mandiri. Cuma godaannya kadang kita jadi mudah tergoda tren kekinian. Belanja jadi boros hanya karena faktor tren atau ikut-ikutan. Kalau kebiasaan ini dibiarkan terus, bisa-bisa nanti di hari tua kita tak punya cadangan uang atau tabungan. Alangkah lebih baik jika saat ini agak mengerem kebiasaan supaya bisa memiliki masa depan yang lebih baik dengan keuangan yang stabil. Saatnya untuk #WujudkanImpianmu dengan berinvestasi reksadana. Gaya hidup yang paling menguntungkan di zaman yang serba dinamis ini bukanlah yang foya-foya melainkan yang lebih bisa menyesuaikan kondisi dan kemampuan dengan prioritas paling utama.

Untuk sukses berinvestasi di reksadana, ada dua hal penting yang perlu kita lakukan. Pertama, jangan mudah panik. Di usia 20-an kadang kita masih susah mengendalikan diri dan terbawa emosi. Tapi dengan berinvestasi di reksadana, kita akan terlatih untuk tak gampang panik. Misalnya, hanya karena bulan ini minus, jangan langsung ambil keputusan gegabah karena siapa atahu beberapa saat lagi akan naik. Kedua, jangan mudah terpancing euforia pasar. Jangan sampai terlalu mudah termakan gosip atau kabar berita yang tak jelas kebenarannya.

4. Reksadana Mudah Dimonitor, Jadi Kita Punya Banyak Waktu untuk Mengerjakan yang Lain

Investasi reksadana yang kita punya juga harus dimonitor. Ibarat setelah menebar benih, kita harus selalu menyirami dan memberinya pupuk agar bisa tumbuh menjadi tanaman yang sehat dan besar. Begitu pula saat sudah punya reksadana. Kita juga harus memonitornya. Tapi jangan dibayangkan kalau memonitornya bakal ribet dan susah. Gampang saja, kok.

Umumnya reksadana perlu dimonitor sebulan sekali. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada perubahan dalam internal investor maupun secara eksternal (kondisi pasar). Lalu, apa saja hal utama yang perlu dimonitor? Pertama, membandingkan kinerja reksadana dengan tolak ukur dan reksadana sejenis lainnya. Kedua, menghitung hasil investasi masing-masing portofolio untuk membandingkannya dengan tujuan investasi yang ingin dicapai. Ketiga, perlu tidaknya melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud berkaitan dengan tujuan awal kita berinvestasi dan berhubungan juga dengan kondisi pasar.

Mudahnya memonitor reksadana ini membuat kita punya waktu lebih banyak untuk mengerjakan hal dan prioritas lain. Masih bisa bekerja seperti biasa dan beraktivitas rutin tanpa khawatir uang di reksadana akan hilang atau berkurang. Ada banyak waktu yang bisa kamu lakukan untuk #WujudkanImpianmu yang paling besar.

Oh ya, penting juga untuk memilih pengelola reksadana dengan latar belakang terpercaya. Penting untuk memastikan stabilitas dan likuiditasnya sudah teruji dengan baik.

Dari berbagai manajar investasi yang bergabung dengan POEMS ProFunds, Manulife Asset Manajemen Investasi (MAMI) adalah yang paling terpercaya. Alasan pertama, MAMI sudah sangat berpengalaman dalam pengelolaan dana masyarakat. Alasan kedua, MAMI menawarkan berbagai jenis reksadana, sebut saja pendapatan tetap, pasar uang, syariah, saham, dan campuran. Alasan ketiga, kita bisa berinvestasi dengan dana pas-pasan. Dengan 100 ribu per bulan kita sudah bisa punya investasi reksadana. Alasan keempat, bisa membantu kita mendapatkan keuntungan besar dalam investasi reksadana jangka panjang. Kita bisa memilih investasi online reksadana saham Manulife Dana Saham yang berfokus pada saham unggulan.

manulife reksadana

Untuk investor pemula, kita bisa memilih Reksadana Pasar uang yang merupakan salah satu produk investasi yang disediakan MAMI. Salah satu kelebihan dari Reksadana Pasar Uang ini adalah hasil investasi reksadana tak dipitong pajak, sifatnya pun likuid dalam arti bisa dicairkan kapan saja. Jadi, kalau kita sewaktu-waktu membutuhkan uang, kita bisa segera mencairkan reksadana tersebut. Salah satu produk MAMI yang tak kalah menguntungkannya adalah Manulife Syariah Sektoral Amanah. Jadi, reksadana tersebut dikelola berdasarkan atau berbasis prinsip-prinsip syariah.

5. Nggak Gampang Stres dengan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Menyimpan uang dalam bentuk deposito atau tabungan bisa membuat nilai uang itu berkurang karena inflasi. Harga barang-barang dan kebutuhan pokok pun akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebut saja nilai uang 100 ribu rupiah tahun ini dengan tahun depan pasti berubah. Ibaratnya kalau dengan uang 100 ribu rupiah, kita bisa menggunakannya untuk uang makan selama 3 hari, tahun depan bisa jadi cuma cukup untuk dua hari saja.

Kalau sedari awal kita sudah menginvestasikan sebagian uang kita untuk reksadana, setidaknya kita nggak akan gampang stres dengan kenaikan inflasi. Karena nilai uang yang kita investasikan di reksadana akan tetap stabil. Sebagai contoh, kalau dalam setahun ada kenaikan inflasi sebesar 4 persen sementara kita dapat keuntungan 6 persen dari investasi reksadana dalam waktu satu tahun, bisa dibilang nilai uang kita masih bisa lebih tinggi 2 persen. Jadi hati terasa lebih tenang, kan? Kamu juga bisa #WujudkanImpianmu dan masa depanmu dengan lebih baik melalui investasi reksadana yang dimulai di usia 20-an.

 

 

 

Seribu Rupiah untuk Seratus Kata

“Seribu rupiah untuk seratus kata.”
Mendengar itu, saya langsung tercengang, serendah itukah “harga” seorang penulis?

Zaman yang serba dinamis menuntut segala sesuatunya serba cepat. Termasuk di dunia menulis. Saat ini dengan makin berkembangnya teknologi dan internet, makin banyak yang mencari jasa penulis. Sebut saja penulis artikel SEO, review, dan penulis konten sebuah situs. Penulis dituntut untuk bisa bekerja cepat, menghasilkan banyak tulisan dalam waktu singkat tapi harus original. Sayangnya, hal itu masih jarang diimbangi dengan harga yang pantas.

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat bertanya pada seorang kawan yang dulu pernah bekerja sebagai penulis lepas untuk SEO blog. Dia bilang kalau untuk seratus kata, dia mendapat upah seribu rupiah. What? Saya sempat kaget juga. Serendah itukah bayarannya? Karena ini menulis bukan sekadar mengetik. Butuh otak, pikiran, hati, dan tenaga untuk membuat sebuah tulisan. Apalagi tulisan yang dibuat itu untuk tujuan bisnis dalam arti si pemberi kerja mempekerjakan teman saya untuk meraup keuntungan. Tapi masak iya upah menulis seratus kata dihargai seribu rupiah?

Rasanya hati ngenes ketika sebuah karya dihargai dengan nilai yang terlalu kecil. Ya, bagaimana ya, seorang penulis juga butuh makan dan minum. Belum lagi dengan kebutuhan untuk membeli kuota internet. Belum lagi kalau jatuh sakit dan butuh biaya untuk obat serta perawatan.

Saya pernah juga sebenarnya mengalami dibayar sangat kecil untuk menulis (untuk kepentingan konten berbagai blog dan situs). Bodohnya saya juga kok ya mau saja dibayar “segitu” (nggak tega mau menyebut nominalnya) untuk tulisan yang dibuat dengan sangat menguras otak. Mungkin karena memang dulu merasa masih butuh pengalaman jadi belum banyak memikirkan soal mencari kekayaan, hehe. Namun, makin ke sini saya makin sadar kalau sebuah tulisan itu juga karya. Karya yang sangat dicintai si penulisnya. Sungguh tak tega jika melepas apa yang dicintai dengan nominal uang yang sangat kecil. Well, mungkin kesannya matre, ya. Tapi nggak bisa dipungkiri kalau sebuah kerja keras juga butuh penghargaan, lebih utamanya pengakuan.

Pada akhirnya, semua juga kembali pada niat dan kepuasan batin setiap orang. Ada yang menulis memang karena uang. Ada yang karena tuntutan pekerjaan. Ada yang terpaksa. Ada juga yang sukarela. Ada yang memang untuk bersenang-senang juga ada yang menulis untuk melepas penat. Tiap orang punya pilihan dan keputusannya sendiri. Kalau saya sendiri? Hm, maunya sih menulis dengan bahagia sekaligus sejahtera, hehe. Saya berharapnya setiap tulisan saya tidak ada yang sia-sia, bisa dinikmati banyak orang dan memberi manfaat.

 

Dua Cangkir Kopi Senja

Untuk kesekian kalinya, Lilna dan Bigita diundang ke studio televisi untuk wawancara. Kisah petualangan mereka menjelajahi berbagi kota di Indonesia dan menuliskan pengalamannya di blog Dua Cangkir Kopi Senja (DCKS) jelas telah menarik perhatian media. Di monitor, tampak foto-foto Lilna dan Bigita berpose di sejumlah perkebunan kopi di Indonesia. Lalu, host acara tersebut bertanya, “Tujuan selanjutnya ke mana?” Lilna mengatur posisi dudukan kacamatanya lalu menjawab, “Belitung.” Kemudian Bigita menimpali, “Kali ini kami akan mengadakan acara yang sangat istimewa di Belitung. Benar-benar berbeda dari rangkaian acara yang kami buat di kota-kota lain di Indonesia.”

Lilna lalu menjelaskan alasan memilih Belitung karena daerah ini tak punya perkebunan kopi tapi budaya menyesap kopi di pulau ini sudah berusia puluhan tahun. Bahkan ada sejumlah kedai kopi tua yang usianya sudah ratusan tahun. Pasti menarik dan menyenangkan sekali jika bisa menggali sejarah dan budayanya. Hanya saja Lilna masih merahasiakan konsep acara yang akan digelar. Lebih tepatnya lagi, Lilna dan Bigita sendiri belum menemukan konsep yang benar-benar matang untuk acara di Belitung nantinya.

Sepulang dari talk show tersebut, Lilna dan Bigita pergi ke sebuah kafe. Di kafe tersebut, keduanya tak saling berkata dan sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Lebih tepatnya, mereka sibuk dengan laptop masing-masing. Lilna sibuk dengan usaha barunya di bidang clothing, menjual berbagai macam kaos bertema kopi secara online. Sementara Bigita, perhatiannya makin tersedot membaca berbagai komentar yang bermunculan di blog DCKS.

“Dasar ya anak-anak zaman sekarang, suka pakai akun anonim buat ngasih komentar jelek-jelek,” Bigita memecah keheningan. Sementara Lilna masih saja serius menatap monitor laptopnya sendiri. “Masak mereka bilang bilang tulisanku ini cuma copy paste dari Wikipedia. Padahal setiap tulisan di blog itu aku buat dengan pemikiran dan perenungan yang dalam, bukan asal-asalan,” cerocos Bigita. Ia menoleh ke arah Lilna sejenak, raut mukanya langsung masam. “Bener-bener ya aku sekarang kayak ngomong sama tembok. Lil, kamu mendengarku nggak sih?” Andai saja Bima tak datang detik itu juga, Bigita mungkin akan ngomel lebih panjang pada Lilna.

Bima, pria jangkung ini telah bekerjasama dengan Lilna dan Bigita di beberapa kota. Berkat bantuannya, semua acara di kota-kota yang disinggahi Lilna dan Bigita sukses besar. Mulai dari acara seminar tentang kopi, acara ngobrol santai, hingga meracik kopi dengan dibantu artisan profesional. Kali ini, Bima pun kembali digandeng untuk acara di Belitung. Hanya saja masalahnya mereka belum menemukan konsep yang benar-benar pas untuk acara yang akan diselenggarakan di Belitung. Di kafe saat itu, Lilna dan Bigita saling diam, belum gencatan senjata. Rencana yang tadinya akan mematangkan konsep untuk acara di Belitung jadi batal. Bima merasa Lilna dan Bigita harus lebih dulu menuntaskan urusan pribadi sebelum kembali berdiskusi.

“Pokoknya besok lusa, kita sudah harus punya ide dan gagasan terbaru untuk acara kita di Belitung nanti. Time is ticking, girls! Dan pastikan waktu kita ketemu lagi, nggak boleh ada yang sibuk dengan laptop masing-masing. Ingat acara yang akan kita buat jadwalnya bulan depan. Aku nggak mau acara ini gagal. Acaranya harus lebih spektakuler dari kota-kota lain. Bukan sekadar seminar tentang kopi, mengadakan kelas meracik kopi, atau bikin gathering para pecinta kopi. Acaranya harus lebih spektakuler dari itu semua,” ujar Bima dengan wajah yang memerah karena mulai emosi.

Namun, dalam waktu hampir seminggu belum ada titik cerah sama sekali. Lilna baru mengalami kerugian besar karena ada klien yang menipunya di bisnis clothing yang baru ia buat. Bigita makin sering uring-uringan dengan berbagai kritik yang ia baca di blog juga media sosial. Setiap kali mereka berdua bertemu, yang ada hanyalah saling menyalahkan dan lepas tangan.

Lilna menyalahkan Bigita yang nggak pernah lagi mengurus soal kopi karena sibuk sendiri mengoceh perkara komentar-komentar di media sosial. Bigita juga meluapkan emosinya karena seringkali Lilna lebih mementingkan soal bisnisnya daripada proyek DCKS. “Kita hapus saja semua tulisan kita di DCKS. Toh, ternyata banyak orang yang membenci blog kita,” Bigita naik pitam. “Iya hapus saja semua. Kita juga jarang dapat untung banyak dari blog itu,” Lilna tak mau kalah. “Ini nih kebiasaanmu yang nggak pernah hilang. Yang kamu pikirkan cuma soal untung, duit terus. Nggak ngerti kenapa selama ini aku bisa betah kerja bareng kamu, Lil,” Bigita meninggikan suaranya.

Mereka seperti berada di ujung jembatan dan saling berseberangan. Berbeda sekali dengan image yang terlihat di media bahwa mereka kompak, saling mendukung, dan sahabat baik. Kini, yang terlihat di sorot mata keduanya hanya rasa saling benci. Tak ada lagi Lilna yang dengan tubuh mungilnya selalu terlihat ceria meski agak kekanak-kanakan. Juga tak ada lagi Bigita, si bongsor yang selalu menyunggingkan senyuman hangatnya. Saat ini, keduanya berada di dua kutub berbeda.

Bima hampir putus asa dengan pertengkaran Lilna dan Bigita. “Kalian berdua lagi kompakan PMS, ya?” katanya tak habis pikir dengan pertengkaran keduanya. “Kalau begitu, begini saja. Kita berangkat dulu ke Belitung. Tentang acaranya, kita tunda dulu sementara waktu. Jangan merilis tanggalnya terlebih dahulu. Kita datang saja dulu ke Belitung, siapa tahu nanti di sana kita bisa dapat ide baru,” usul Bima.

Lilna, Bigita, Bima, dan beberapa anggota kru akhirnya tiba di Belitung tiga hari kemudian. Cuaca hari itu di kota Tanjung Pandan, Belitung sangat terik. Keringat membasahi pelipis Bigita. Lilna bolak-balik melepas kacamatanya untuk menyeka keringat yang mengalir di wajahnya.

Siang itu, mereka mampir ke Warung Kopi Ake untuk menikmati es kopi susu yang sangat legendaris. Warung kopi yang didirikan tahun 1922 itu memang sangat termasyur. Tak lain warung kopi itu muncul seiring munculnya tambang timah di Belitung. Para pekerja tambang yang kebanyakan didatangkan dari Tiongkok daratan itulah yang kemudian menciptakan kebiasaan minum kopi di Belitung.

Segelas kopi panas tersaji di meja. Bigita mengangkat gelas hati-hati sekali, meniupnya perlahan, menghirup aromanya dengan mata terpejam, lalu mulai menyeruput kopi kental tersebut. Otaknya yang tadi seolah mengepul kini lebih mencair. Rasa hangat yang meresap ke dalam tubuh membuat otot-otonya lebih rileks. Panas yang tadi begitu menggolak di ubun-ubun perlahan menguap. Digantikan oleh perasaan yang begitu nyaman.

Bigita lalu meninggalkan Lilna yang masih duduk mengipasi badannya di sudut ruangan. Ia pun beranjak ke dapur, mengintip proses peracikan kopi di warung tersebut. A Kiong, cucu pertama Abok, pendiri Warung Kopi Ake menceritakan kalau dulu kopi yang dibuat diseduh dengan air yang dijerang di atas arang. Tapi sekarang sudah tak lagi. Hanya saja cara peracikannya masih coba dipertahankan sampai sekarang, yaitu menyeduh kopinya harus dengan air yang mendidih supaya sari kopinya bisa keluar dengan baik.

Lilna sedang menikmati kopinya ketika ada seorang kakek menghampiri mereka. Kakek itu mengenalkan dirinya sebagai Opa J. Dia mengaku sudah jadi langganan tetap Warung Kopi Ake sejak dulul ia bekerja sebagai penambang timah. Kini, ia hidup seorang diri. Istrinya sudah lama meninggal dan sejak menikah mereka juga tak dikaruniai anak. “Hanya segelas kopi yang bisa membuat saya bertahan hidup setiap harinya,” paparnya. “Bagi saya kopi itu adalah kenangan. Baik atau buruk, semua kenangan itu tak akan pernah bisa terlupa. Sekalipun pahit, kenangan itu tetaplah jadi bagian dari hidup kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah berdamai dengannya dan melanjutkan hidup,” cerita Opa J kemudian jadi panjang lebar. Ia pun menceritakan soal kebiasaan orang-orang Belitung minum kopi, di mana momen ngopi bersama rekan-rekannya jadi ajang menyenangkan untuk memaki hidup tapi juga berdamai dengan semua kepahitannya.

Lilna menangkap sebuah ide dari obrolannya dengan Opa J. Ia pun mencatat sesuatu di buku agendanya yang sudah kusut. Tak lama kemudian Bigita muncul lagi dan ikut berkenalan dengan Opa J. Opa J lalu mengajak mereka ke kedai kopi tertua kedua di Tanjung Pandan, Warung Kopi Kong Djie. Warung yang didirikan tahun 1943 oleh warga asli Bangka bernama Kong Djie itu tak hanya dipenuhi oleh sekumpulan bapak yang asyik bermain catur tapi juga anak-anak muda yang asyik menikmati layanan Wi-Fi gratis di sana.

Sekali lagi, Bigita terpukau dengan rasa kopi yang berpadu sempurna dengan susu dan menimbulkan sensasi sendiri di indera perasanya juga hatinya. Bigita pun langsung nyelonong ke tempat peramuan kopinya, seperti kebiasaannya untuk mengumpulkan materi demi tulisan blog terbaru. Seperti dulu. Seperti yang sudah-sudah sebelum ia mulai sering bertengkar dengan Lilna. Proses peramuannya sangat sederhana sebenarnya. Aroma kopi  yang begitu khas itu tak lain adalah karena pengaruh air yang digunakan. Air yang digunakan untuk menyeduh kopi masih dimasak menggunakan tungku arang. Melihat air dituang ke gelas dan asapnya yang mengalun di udara serta aroma kopi yang menyeruak membuat hasrat Bigita pada kopi kembali terpantik.

Dari pengalaman berkeliling dari satu warung kopi ke warung kopi lain di Belitung yang dipandu oleh Opa J, hubungan Lilna dan Bigita perlahan kembali menghangat. Intensitas Lilna dan Bigita kembali mengobrol, bercanda, dan saling meledak kembali normal berkat gelas demi gelas kopi yang mereka nikmati bersama.

Senja sudah bersemayam. Rapat kembali diadakan. Lilna, Bigita, dan Bima duduk mengelilingi sebuah meja kayu. Di depan mereka ada sebuah teko berisi kopi penuh dan tiga cangkir. Kopi hitam, kental, dan panas adalah amunisi wajib setiap kali mengadakan rapat. Tak jauh dari mereka ada api unggun yang menyala. Kali ini mereka harus mematangkan konsep acara yang akan diselenggarakan tak lama lagi.

Setelah diskusi yang cukup panjang, Bima menyimpulkan, “Oke, jadi kita akan bikin acara Bersama Kenangan. Siapapun yang mau bergabung di acara ini harus mendaftar terlebih dahulu. Nanti kita kasih mereka peta dan petunjuk tentang berbagai kedai kopi di Tanjung Pandang juga berbagai tempat eksotis yang bisa mereka kunjungi di sini. Tapi mereka punya misi untuk mendokumentasikan semua hal yang berkesan yang mereka temui selama tiga hari tersebut. Nanti kita bantu untuk mengkompilasinya lalu kita buat acara pameran foto yang menampilkan karya-karya mereka. Bigita nanti bertugas untuk menyajikan kopi istimewa untuk para pengunjung. Lilna nanti bisa jadi pemandu di acara pameran.”

Malam itu jadi lebih panjang untuk Lilna dan Bigita. Mereka menghabiskan waktu semalaman berbincang ditemani kopi hangat dan api unggun. Lilna meminta maaf karena akhir-akhir ini ia lebih mementingkan bisnisnya sendiri. Bigita juga merasa bersalah karena lebih sering menuruti egonya sendiri dan gampang emosi karena hal-hal sepele.

Mereka lalu menghubungi Bunda Erika via telepon untuk menceritakan konsep acara di Belitung yang baru dibuat. “Wah, itu keren sekali. Sayangnya, sepertinya saya tak bisa hadir nanti. Tapi tenang saja, saya akan menghubungi sejumlah kenalan saya para pecinta kopi yang lain dan menginfokan acara kalian,” kata wanita yang sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri oleh Lilna dan Bigita. Lilna dan Bigita sudah bersahabat sejak kecil. Tepatnya karena mereka tinggal di panti asuhan yang sama milik Bunda Erika. Sering melihat Bunda Erika menikmati kopi setiap senja, Lilna dan Bigita lambat laun jadi ikut mencintai kopi. Sampai kemudian setelah lulus SMA, mereka bertualang dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari tahu banyak hal soal kopi.

Malam itu, Bigita jadi lebih bebas mengungkapkan uneg-unegnya soal banyaknya yang mengkritik soal tulisannya di blog. Lilna yang kali ini mendengarkan dengan penuh perhatian menanggapi, “Bagaimana pun tiap orang pasti punya pendapat masing-masing soal kopi.” Bigita menyesap kopi pahitnya yang tinggal separuh, “Itu ada benarnya juga. Tapi ini nih ada satu orang yang selalu ngajak berdebat tentang kopi. Namanya Arnan, setidaknya itu yang pernah dia bilang soal identitasnya. Semua pendapatku soal kopi selalu ia bantah. Misalnya, tentang kopi tubruk, dia nggak setuju kalau kopi tersebut mewakili jiwa berani yang dimiliki manusia. Dia bilang kopi tubruk itu melambangkan dendam yang terpendam di hati seseorang.” Bigita akhirnya tak tahan juga untuk tak menceritakan seorang pria yang sering mengkritik dan memberi komentar negatif soal tulisannya di blog. Awas saja ya kalau ketemu, begitu batin Bigita setiap kali membaca kritik dari Arnan.

Lilna juga lebih terbuka soal ambisinya memiliki bisnis sendiri. Dia sadar dirinya masih harus belajar banyak tentang bidang ini. Tapi juga dia masih punya tanggung jawab besar untuk acara di Belitung ini. Malam itu, setelah beberapa bercangkir-cangkir kopi tandas, Lilna dan Bigita tampak sudah mengakhiri perang dingin mereka.

Bima dan tim mulai sibuk untuk mematangkan semua persiapannya. Meski jadwal mundur dari yang sudah dibuat sebelumnya, tapi sambutan para pecinta DCKS masih tetap antusias. Di media sosial, radio, dan televisi, promosi untuk acara paling istimewa di Belitung makin digencarkan.

Berbagai proses izin dan semuanya sangatlah menguras tenaga tapi semua bekerja sebaik mungkin. Yang mendaftar di acara itu tak hanya para pecinta kopi tapi juga backpacker, blogger, reporter, penulis, seniman, para pekerja kantoran yang sengaja ambil cuti, para fans DCKS, anak-anak muda, dan juga generasi tua yang punya kenangan khusus soal Belitung. Tak hanya itu sejumlah komunitas unik ikut meramaikan acara. Salah satunya Komunitas Patah Hati yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang sedang berusaha untuk move on dari kenangan pahit yang pernah mereka rasa.

Saat melihat daftar peserta, Bigita melihat nama Arnan masuk di dalamnya. Ada rasa kesal setiap kali mendengar nama Arnan tapi ia juga penasaran dengan sosoknya. Di hari pertama acara digelar, Bigita langsung mencari sosok Arnan. Ia coba melacaknya melalui media sosial dan akhirnya ia mengetahui Arnan saat itu berada di Museum Kata. Bigita langsung menemui Arnan.

Arnan ternyata punya senyuman yang sangat manis, jauh berbeda dengan persepsi Bigita tentang sosok Arnan si pria judes karena kata-kata pedasnya di media sosial tiap kali mengkritik Ben. Di Museum Kata itu, ditemani dua gelas kopi kuli yang panas mereka berdua malah mengobrol akrab. “Kakakku namanya sama denganmu. Bigita. Dia juga sangat mencintai kopi, sepertimu. Tapi dia malah dengan bodohnya gantung diri malam itu,” cerita Arnan.

Rupanya Arnan punya seorang kakak bernama Bigita yang ingin sekali menjadi penulis puisi. Siang malam ia habiskan waktunya di kamar untuk menulis puisi. Setelah tamat SMA, Bigita mengurung diri di kamar untuk membuat berlembar-lembar puisi. Orang tuanya tak merestui Bigita menjadi penulis puisi karena katanya tak bermasa depan. Hampir setiap hari, Arnan mendengar Bigita dan ayahnya bertengkar. Arnan paham orang tuanya ingin Bigita bisa sukses dengan jalur karier yang lebih baik. Tapi ia juga paham tentang kecintaan Bigita pada puisi.

Bigita, kakak Arnan itu juga pecinta kopi. Hampir setiap malam, ia sering mencium aroma kopi hitam yang kental. Jika aroma kopi sudah tercium, itu tandanya Bigita sedang tenggelam dalam dunianya dan menulis berlarik-larik puisi. “Kamu tahu apa film favorit Bigita?” Arnan melanjutkan ceritanya, “Dia sangat suka Dead Poets Society. Film itu sungguh menginspirasinya, sayangnya juga memberinya ide buruk untuk bunuh diri.” Suatu malam, Arnan bercerita seperti biasa ia mencium aroma kopi  yang begitu kental dari kamar kakaknya. Hanya saja suasana saat itu terasa berbeda, terasa lebih senyap dari biasanya. Benar saja, ketika keesokan paginya, Arnan masuk ke kamar kakaknya itu, ia melihat Bigita gantung diri. Nyawanya tak tertolong. Kejadian itu membuat atmosfer rumahnya jadi makin tak nyaman. Orang tuanya jadi saling diam dan mendiamkan.

Arnan akhirnya memutuskan untuk merantau dan mencoba hidup mandiri. Selama bertahun-tahun ia membenci aroma kopi karena mengingatkan dirinya soal Bigita. Sampai akhirnya ia mencoba mencicipi kopi tubruk Bigita saat ia mampir ke kotanya beberapa waktu lalu. “Saat itu air mataku langsung mengalir,” akunya pada Bigita. “Kenangan itu kembali bermunculan, seperti hantu yang berusaha mencekik leherku. Aku rindu kakakku. Tapi aku mengklamufase rasa rindu itu dengan amarah padamu. Karena kamu begitu mirip dengannya.”

Tak disangka obrolan demi obrolan mengalir begitu saja. Seperti kawan lama, mereka saling berbagi cerita. Rasa benci dan dendam yang sempat dipendam Bigita pada Arnan sirna dengan sendirinya. Ternyata memang kita tak bisa menghakimi seseorang sebelum bertatap mata dan berbicara langsung dengannya.

Puncak acara Bersama Kenangan akhirnya tiba. Pameran pun digelar di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir pantai. Rumah kayu itu milik kenalan Opa J yang sengaja disewa oleh Bima dan tim sebagai tempat pameran foto hasil jepretan para peserta yang sudah mendaftar.

“Hidup itu tak lain terdiri dari lompatan-lompatan kenangan. Kita tak bisa melupakan atau mencoba menghapusnya dari hidup kita. Karena menghapus kenangan sama dengan mencoba untuk menghapus diri kita sendiri dari kehidupan di dunia ini,” Opa J membaca deretan kata di sebuah foto senja di tepi pantai. Lilna yang saat itu berada di sampingnya ikut menoleh. Ia tersenyum mendapati Opa J datang memenuhi undangannya.

“Foto ini kamu yang menjepretnya?” tanya Opa J pada Lilna. Lilna mengangguk. Foto itu ia ambil beberapa hari lalu saat berkunjung ke sebuah pantai terkenal di Belitung. “Fotonya bagus dan kalimatnya juga indah,” puji Opa J. “Terima kasih,” sahut Lilna. Opa J dan Lilna kembali mengobrol hangat, seperti seorang kakek dan cucu. Sesekali Opa J memberi petuah dan nasihat pada Lilna. Lilna sangat bahagia bisa berkenalan dengan Opa J. Bersama Opa J, Lilna merasa menemukan kembali kepingan kenangan bahagia yang tak pernah sempat ia miliki dahulu, tentang memiliki seorang kakek.

Acara pameran makin ramai. Suasana pantai yang mulai senja makin menambah syahdu acara. Bigita sibuk meracik kopi andalannya, Kopi Senja yang sederhana untuk menemani kehangatan senja setiap peserta. Arnan juga hadir membantu Bigita mengatur pesanan. Sementara Lilna sibuk mendampingi sejumlah tamu penting yang hadir.

Berbagai media yang datang pun mewawancarai Lilna. Para peserta dihibur dengan penampilan band akustik, sesekali disisipi pemutaran video hasil karya para peserta yang baru keliling Belitung. Semua menikmati acara itu. Sebagai penutup, Arnan tampil membacakan salah satu puisi karya mendiang kakaknya.

             Bersemayam seorang pujangga dalam arwahku

            Tiap senja menyapa, selalu ada senandung kata yang mengalun

            Mengalun bersama aroma kopi panas dalam cangkir emas

            Tiada yang lebih indah selain tenggelam dalam kata-kata

            Berusaha menjumpai kenangan dalam setiap helaan rindu

            Berdamai dengan masa lalu melalui setiap sesapan hangatnya kopi

            Kopi dan sendiri bukan berarti aku sepi

            Hanya saja ada bagian dalam diriku yang membutuhkan keduanya

            Ada jiwa dan nuraniku yang ingin bercerita dan berkata-kata

            Seperti kataku tadi, ada arwah seorang pujangga dalam diriku

            Tunggulah aku menghabiskan kopiku

            Nanti kau akan mengerti betapa hidup ini begitu berarti.

Arnan membacakan puisi tersebut dengan suara yang lembut. Mengayun halus seperti kain beludru. Semua yang mendengarnya ikut terhanyut, terseret pada dimensi yang belum dikenal sebelumnya. Suara tepuk tangan memecah keheningan, Arnan membungkukkan badannya mengucap terima kasih dan tatapan matanya sepintas mengunci sepasang mata yang ada di sana, milik seorang perempuan bernama Bigita. Arnan tersenyum, Bigita canggung  tapi akhirnya mencoba untuk ikut tersenyum.

Tiba-tiba saja, Lilna mengejutkan Bigita dengan memeluknya dari belakang. “Acara kita sukses. Sukses besar!” pekik Lilna. Bigita tak kalah bahagianya. Ia makin erat memeluk sahabatnya itu. Alunan musik akustik memenuhi udara. Tamu-tamu masih berdatangan. Aroma kopi menyelimuti seluruh ruangan.

“Setelah ini, kita akan pergi ke mana lagi?” tanya Lilna. Bigita memegang kedua bahu Lilna, “Ke tempat yang belum pernah kita jelajahi. Kembali mencari arti dan makna diri. Sampai akhir nanti saat kita sudah tak bisa melangkahkan kaki lagi.”

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

***

(image credit: turner.com)

Mental Juang B.J. Habibie sebagai Semangat Generasi Muda Membangun Bangsa

image credit: owgram.com

“Apa yang seharusnya dilakukan oleh anak muda Indonesia untuk membuat negeri ini lebih baik?
Meningkatkan disiplin, produktivitas dan kualitas berpikir, bekerja, serta berkarya sesuai kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Untuk mencapai ini, anak muda Indonesia harus cinta pada sesama manusianya, cinta pada karya sesama manusianya, cinta pada lingkungan hidupnya, cinta pada pekerjaannya, dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.” (Tugas Generasi Muda Indonesia, Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!).

B.J. Habibie menuliskan, “Kita adalah keturunan bangsa pejuang, yang tidak mengenal lelah dan kalah.” Setelah Indonesia merdeka, tugas kita lah untuk meneruskan perjuangan para pahlawan untuk membangun negeri. Hanya saja, terkadang semangat untuk berjuang itu luntur. Padahal saat ini banyak kemudahan dan fasilitas yang didapat generasi muda untuk berkarya. Lalu, apa masalahnya? Masalahnya adalah karena tidak ada tujuan dan terlena dengan berbagai kesenangan duniawi yang ada.

Bercermin dari kisah seorang Habibie, ada mental juang luar biasa yang bisa dijadikan bekal semangat para generasi muda untuk membangun bangsa. Pengalaman hidupnya sudah cukup untuk membuat setiap penerus bangsa termotivasi berkarya dengan cinta. Berkarya untuk kemajuan negara. Bekerja dengan cara yang  bermartabat. Lebih penting lagi, memanfaatkan semua kesempatan waktu dan usia yang dipunya.

Berikut lima petikan pengalaman dan perjuangan Habibie yang akan membuat kita kembali optimis untuk membangun negeri dengan lebih baik. Semoga detik berikutnya, kita kembali memiliki semangat untuk kembali berkarya.

Buku dan Ilmu adalah Bekal untuk Masa Depan

Saat masih belia, Habibie menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tenggelam dalam buku dan ilmu pengetahuan. Membaca sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Sampai-sampai sang kakak, Titi Sri Sulaksmi sering kesulitan untuk mengajak Habibie bermain di luar. Bukannya Habibie tak pernah bermain hanya saja kecintaannya pada buku sungguh sangat kuat. Banyaknya buku yang tersedia di rumah membuatnya sering larut sendiri. Ketekunannya saat itu pun menjadi bekal paling dasar akan kesuksesannya di masa depan.

Dengan hadirnya internet, generasi modern saat ini bisa belajar dan mendapatkan sumber informasi dengan sangat mudah. Hanya saja, kemudahan itu juga hadir dengan godaan. Ada banyak sumber hiburan dan kesenangan yang bisa didapat di internet. Alhasil, kalau tak bisa benar-benar mengendalikan diri, kita akan lebih terlena untuk bermain-main dan bukannya belajar. Padahal untuk masa depan yang lebih cemerlang, belajar seharusnya sudah jadi sebuah kebutuhan.

Ada info menarik nih!
Pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang dilaksanakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2006 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat.

Memiliki Tujuan Pasti dalam Hidup

Penting sekali untuk memiliki tujuan pasti dalam hidup. Mengenai apa yang paling ingin dicapai dan diwujudkan. Lalu, benar-benar berjuang untuk  mengejar dan mendapatkannya. Seperti kisah Habibie semasa kecil. Saat duduk di bangku sekolah, ia sudah tahu dengan pasti cita-citanya. Ia ingin menjadi insinyur. Hasrat dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuatnya berani untuk menetapkan sebuah tujuan.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memiliki tujuan hidup yang pasti? Apakah tujuan hidup kita bisa memberi arti pada negeri? Atau malah selama ini kita hanya membuat angan kosong dan menjalani hidup tanpa makna?

kutipan habibie 2

Keterbatasan Tak Perlu Dijadikan Halangan

Habibie pernah tidur beralas tikar saat tinggal dengan pamannya di Jakarta. Saat itu, oleh ibundanya, Habibie pindah ke Jakarta untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Habibie terpaksa tidur di ruang tamu karena kondisi keluarga pamannya yang banyak anak. Setelah itu, ia pindah ke Bandung dan tinggal di keluarga Syamsuddin, kepala Kantor Tera untuk Indonesia di Bandung.

Usai lulus ujian SMA tahun 1954, Habibie berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia bidang elektronika di Bandung yang kini namanya menjadi Institut Teknologi Bandung. Enam bulan belajar di sana, ia kemudian berhasil mendapat izin belajar di Jerman dari Kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi. Itu bukan berarti ia bisa belajar di Jerman dengan gratis sepenuhnya. Habibie diberi kemudahan oleh Mendikbud untuk membeli valuta asing sebagai biaya menempuh pendidikan selama di Jerman. Sementara untuk biaya berangkat dan biaya hidup, ia harus menanggungnya sendiri.

Walau tak mendapat beasiswa penuh saat belajar di Rheinisch Westfaelische Technische Honchschule Aachen, Fakultet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman, Habibie tetap bisa berjuang hingga lulus dengan nilai magna cum laude. Keterbatasan biaya tak menyurutkan semangatnya. Justru jadi lecutan dan motivasi untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya sebaik dan secepat mungkin.

Membangun Negeri adalah Tugas Anak Bangsa

Karier Habibie terus naik setelah lulus kuliah. Jabatan sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi pernah disandangnya saat bekerja di perusahaan pesawat pengangkut sipil dan militer Hamburger Flugzeugbau Bay (HFB) yang bergabung dengan perusahaan pesawat tempur milik keluarga Messerschmidt di Augsburg dan perusahaan pesawat helikopter dan senjata milik keluarga Bolkow di Stuttgart bergabung menjadi perusahaan Messerschmidt Bolkow Blohm atau MBB. Namun, dengan jabatan yang tinggi tersebut, tersimpan keinginan untuk bisa pulang ke Indonesia dan membangun negeri.

Sampai pada suatu hari, Habibie bertemu dengan Ibnu Sutowo di Dusseldorf pada bulan Desember 1973. Habibie tercekat ketika Direktur Utama Pertamina tersebut berkata, “Di Indonesia, orang-orang sedang membangun, kamu kok malah di sini?” Bertahun-tahun hidup dan bekerja di Jerman, akhirnya jiwa nasionalismenya kembali bangkit. Habibie pun kembali ke bumi pertiwi.

kutipan habibie 3

Kita terlahir sebagai seorang Indonesia, jadi kalau bukan kita sendiri siapa yang akan membangun negeri ini? Seorang Habibie pun yang sudah sukses dan berkarier gemilang Jerman rela kembali ke ibu pertiwi untuk Indonesia yang lebih baik.

Pemuda Zaman Sekarang Memiliki Tantangannya Sendiri

“Perbedaan paling mencolok karakter pemuda zaman sekarang dengan zaman Habibie muda dulu adalah bahwa pemuda zaman Habibie tidak materialistik, lebih sadar pada nilai-nilai budaya, nilai-nilai Pancasila, rendah hati, dan mempunyai rasa malu!” (Pemuda Zaman Sekarang, Habibie: Tak Boleh Kalah dan Kalah). Setiap zaman dan generasi memiliki tantangannya sendiri. Terlebih semakin modern dan dinamis sebuah zaman, tantangan dan perjuangannya akan makin berat.

kutipan habibie 1

Belajar dari mental juang Habibie, perjalanannya hingga bisa sukses dan tetap dihormati hingga usia senja, semua itu sebenarnya sudah bisa jadi bekal yang cukup untuk membuat kita bersemangat berkarya membangun negeri. Melakukan sesuatu yang kita bisa dan kuasai untuk kehidupan yang lebih baik. Membuat hidup lebih berarti lagi.

Jadi, karya terbaik apa yang akan kita buat untuk tanah air tercinta?

Review Buku “Perjalanan, Cinta, & Makna Perempuan”

Judul: Perjalanan, Cinta, & Makna Perempuan
Penulis: Nazura Gulfira
Editor: @fachmycasofa
Desain Sampul dan Isi: @wendyarief
Penata Letak Isi: @wendyarief & Diyantomo
Proofreader: Hartanto
Cetakan Pertama: Mei 2016
Penerbit: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Sebuah pembelajaran tidak selalu berjalan sebentar, tetapi kadang memerlukan proses yang panjang supaya bisa bertahan lama. Nikmati saja proses itu, tidak usah dihiraukan apa kata orang tentang kita dan proses yang kita jalani. Karena orang lain hanya melihat apa yang mereka bisa lihat dan dengar, tetapi tidak merasakan apa yang kita alami. Justru yang paling penting adalah diri sendiri dan orang-orang terdekat yang tahu, seberapa banyak kita berubah lebih baik.

 Setiap perempuan pasti memiliki kegalauannya sendiri. Mulai dari soal pendidikan, karier, cinta, hingga pergelutan batin sendiri. Sementara itu, setiap perempuan juga pasti punya sudut pandang, prinsip, dan juga motivasi diri dalam menjalani hidupnya masing-masing.Nazura Gulfira, dalam bukunya  mengupas berbagai sisi kehidupannya sebagai seorang perempuan. Buku yang berisi 14 judul tulisan Nazura ini tak lain adalah catatan harian yang tak lepas dari pengalaman-pengalamannya. Melalui berbagai pengalamannya, Nazura mengupas berbagai topik seperti soal beasiswa, hijab, hobi, kuliah di luar negeri, traveling,keluarga, jodoh, dan juga serba-serbi kehidupannya.

Tentang Dilema Pendidikan dan Jodoh
Dalam tulisan yang berjudul Perempuan, S3, dan Jodoh, Nazura memaparkan alasannya juga sudut pandangnya mengenai topik yang sering membuat pare perempuan dilema. Jodoh dulu apa lanjut kuliah? Menikah dulu atau mengambil beasiswa untuk kuliah lagi?

buku nazura 1

Menurut saya, topik ini sangat menarik. Pendidikan dan jodoh bisa jadi dilema tersendiri bagi seorang perempuan yang tak ada habisnya. Nazura pun memiliki sikap dan sudut pandang sendiri tentang hal ini. Memutuskan untuk lanjut S3 di usia yang masih muda dan belum menikah membuatnya harus bisa bertahan dengan berbagai komentar dari orang-orang di sekitarnya. Tak mudah memang. Tapi ia punya alasan tersendiri dan motivasi hingga membuatnya tetap kukuh dengan keputusannya tersebut.

Refleksi Diri dan Soal Menjadi Lebih Dewasa
Salah satu tulisan favorit saya di buku ini adalah yang berjudul Surat untuk Ayah-Bunda. Di tulisan ini, Nazura seperti melakukan semacam refleksi diri. Tentang berbagai pengalaman yang pernah ia dapatkan. Juga makna serta pelajaran yang ia peroleh dari tinggal di luar negeri, bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, dan perjalanan yang pernah ia lakukan.

buku nazura 2

Bahasanya Ringan, Seperti Membaca Buku Harian
Membaca buku ini menurut saya tak akan membuat kening berkerut. Bahasanya sangat ringan. Bahkan seperti sedang diajak mengobrol dengan sahabat dekat. Seolah kita sedang membaca buku harian teman dekat kita sendiri. Melalui tulisan-tulisannya, Nazura memberikan sudut pandangnya yang berbeda tanpa harus menghakimi orang lain.

Berbagai Gambar dan Foto Makin Mempercantik Buku Ini
Tata letak isi buku ini juga sangat cantik. Tak hanya berisi teks atau tulisan saja. Tapi juga dipercantik dengan berbagai gambar dan foto penunjang yang menarik. Benar-benar bikin nyaman mata.

buku nazura 3

Hanya saja pada halaman 110, saya menemukan sedikit typo.

  • “wah ini mah bakalan lapor lagi,” (Awalnya, saya sempat bingung dengan kata lapor karena konteks bahasannya adalah soal makanan. Setelah saya baca lagi, oh maksudnya “lapar” bukan “lapor”.)
  • Mulai dari yang tadinya harus minum 2-3 kali sehari, sekarang hanya 1-2 kali seminggu. (Sepertinya ada satu kata yang hilang dari kalimat tersebut. Rasanya agak kurang masuk akal kalau minum hanya 1-2 kali seminggu. Mungkin maksudnya minum minuman manis. Sehingga, kalimatnya menjadi, “Mulai dari yang tadinya harus minum minuman manis 2-3 kali sehari, sekarang hanya 1-2 kali seminggu.”)

Sayangnya, saya tak menemukan halaman data diri atau biodata penulis. Biasanya setelah membaca tulisan seseorang apalagi yang berbentuk catatan harian seperti ini, kita jadi penasaran dengan penulisnya dan ingin mengenalnya lebih dalam. Jadi menurut saya, kalau ada halaman data diri penulis Nazura, akan sangat memudahkan para pembaca yang ingin mengenal sosoknya lebih jauh.

Pada dasarnya, setiap perempuan itu unik dan istimewa dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selain itu, setiap perempuan juga punya hak untuk mengambil sikap dan menentukan pilihan dalam hidupnya. Buku Perjalanan, Cinta, & Makna Perempuansungguh membuka mata kita soal perempuan dan dilema serba-serbi yang menyertai hidup.

Overall, buku ini sangat ringan, menarik, dan menyenangkan untuk dibaca. Khususnya buat kamu yang lagi galau soal berbagai aspek dalam hidupmu.

Page 1 of 5

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: