PenulisOnline.Com

Endah Wijayanti – Content Creator

Category: ARTIKEL (Page 1 of 2)

Mengatur Mood Menulis

Haruskah menulis menunggu mood membaik dulu? Nggak bisa nulis kalau hati lagi sedih. Harus menunggu waktu yang tepat dulu baru bisa menulis. Susah untuk merangkai kata-kata kalau menulis di tempat yang ramai. Apalagi kalau tempatnya berisik dan dipenuhi banyak orang, mood untuk menulis bisa hilang dalam sekejap.

Kalau menulis sebatas hobi atau kegiatan yang dilakukan waktu senggang, bebas saja sih mau menunggu mood atau tidak. Tapi ketika sudah dijadikan profesi dan selalu diburu dengan deadline, maka jangan harap harus menunggu mood membaik dulu baru bisa menulis. Terlebih kalau menulis jadi cara untuk menyambung hidup, sebagai sumber penghasilan. Kalau tidak menulis, nggak bisa makan dong? Kalau telat dari tenggat waktu yang ditetapkan, nggak bisa dapat pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mungkin pemikiran ini agak sempit tapi kadang kenyataan memang tak sesuai dengan harapan.

Beberapa minggu terakhir ini, saya harus bisa memaksakan diri untuk tak terlalu mempedulikan mood. Yang penting  nulis, selesai sesuai dengan tenggat waktu dan beres. Nggak heran kadang memang tulisannya jadi terasa tak bernyawa. Tak ada maknanya dan sangat datar. Sama sekali tak menggugah. Bahkan rasanya saya sudah mulai lupa soal menulis dengan tenang tanpa harus kejar-kejaran dengan deadline. Tanpa harus diburu dengan waktu yang makin mepet atau memaksa jari-jari terus menulis meski tubuh sudah luar biasa capek.

Rasanya jadi rindu bisa menulis dengan tenang. Tidak direcoki dengan suara berisik atau gangguan ini itu. Fokus menulis, merangkai kalimat dengan hati yang ringan.

Mengatur mood menulis memang nggak bisa cuma asal teori. Nggak gampang harus “mengkhianati” emosi dan hati saat menulis sesuatu. Apalagi jika ada proyek menulisnnya menuntut harus berpatokan dengan ini itu, pusing sudah. Menulis jadi seperti mengerjakan soal matematika saja. Harus ada hitungannya dan tak boleh  meleset satu karakter pun. Ditambah lagi dengan tenggat waktu yang terus bekerjaan silih berganti. Mau istirahat rasanya jadi nggak tenang. Semacam masih ada beban dan tanggungan yang harus diselesaikan.

Bahkan untuk menulis ini pun rasanya jadi serba terburu-buru. Hehe, jadi maaf kalau tulisannya jadi ngelantur tak tentu arah karena pikiran juga lagi mbulet.

 

Stephen King, Novelis Fenomenal yang Takut dengan Angka 13

Stephen Edwin King atau yang lebih familiar dikenal dengan nama Stephen King dikenal sebagai seorang penulis kontemporer Amerika Serikat yang sukses. Sebagai novelis, karya-karyanya yang kebanyakan bergenre horor, fantasi, dan fiksi ilmiah sudah terjual sedikitnya 350 juta eksemplar di berbagai belahan dunia. Sebagian dari karya-karyanya itu sudah diadaptasi jadi film, baik film televisi maupuan film layar lebar. Ada juga yang diadaptasi menjadi buku komik.

Tercatat, pria berzodiak Virgo ini sudah menerbitkan 50 novel, 5 karya nonfiksi, dan sekitar 200 cerita pendek. Stephen punya sejumlah nama pena, seperti John Swithen dan Richard Bachman. Novel horor pertamanya yang sukses berjudul Carrie ditulis dengan nama pena Richard Bachman. Sosoknya kini dikenal sebagai seorang novelis terkenal dan fenomenal. Dan ada banyak fakta menarik soal kisah hidupnya. Termasuk soal ketakutannya dengan angka 13.

Orang Tua Stephen King Bercerai Ketika Dirinya Masih Anak-Anak

Gambar 1

Gambar 1

Orang tua Stephen King, Donald dan Nellie Ruth Pillsburry King bercerai ketika Stephen masih anak-anak. Stephen dan saudaranya, David harus membagi waktunya antara Indiana dan Connecticut selama beberapa tahun. Stephen kemudian kembali ke Maine dengan ibu dan kakaknya. Stephen lulus dari Lisbon Falls High School pada tahun 1966.

Setelah lulus sekolah, Stephen melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di University of Maine di Orono. Selama kuliah itu, ia aktif menulis untuk surat kabar universitas dan aktif di kegiatan kemahasiswaan. Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana bahasa Inggris tahun 1970, Stephen berusaha mencari pekerjaan sebagia guru tapi dewi fortuna tak langsung berpihak padanya. Untuk mengisi waktunya ia bekerja di sebuah usaha laundry dan tetap menulis di waktu senggangnya sampai akhir tahun 1971. Setelah itu, akhirnya ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di Hampden Academy.

Stephen King dan Istrinya Pernah Hidup Sangat Miskin

Gambar 2

Gambar 2

Saat akhirnya bekerja sebagai guru di Hampden Academy, Stephen menikah dengan Tabitha Spruce yang juga berprofesi sebagai penulis. Mereka pernah mengalami masa-masa buruk dan hidup miskin. Saking miskinnya, untuk menikah mereka sampai meminjam baju dan memutus sambungan telepon karena biayanya terlalu mahal. Keduanya juga pernah tinggal di sebuah trailer dan mengambil sejumlah pekerjaan untuk bisa menyambung hidup.

Stephen dan istrinya membagi waktunya antara Florida dan Maine. Mereka dikaruniai tiga anak, Naomi Rachel, Joseph Hillstrom, dan Owen Philip. Naomi menjadi seorang pendeta, sementara Joseph Hillstrom menjadi penulis fiksi horor dengan nama pena Joe Hill. Dan owen Phillip menerbitakan kumpulan cerita pertamanya tahun 2005.

Pernah Menulis Cerita Pendek untuk Majalah Porno

Gambar 3

Gambar 3

Stephen King pernah menerbitkan sejumlah cerita pendek di majalah porno. Di awal karier menulisnya, ia memanfaatkan waktu luang di sela kesibukannya mengajar dan bekerja di tempat laundromat (tempat cuci otomat) untuk menulis. Sampai akhirnya karyanya yang berjudul Carrie, sebuah novel pendek tentang gadis SMA yang siklus menstruasinya bisa menghadirkan kekuatan supernatural untuk balas dendam dan teror.

Saat masih remaja, Stephen sering mendapat banyak surat penolakan atas karyanya yang ia kirim. Dia menerima 60 surat penolakan sebelum cerita pendek pertamanya yang berjudul The Glass Floor terbit dan Stephen mendapat honor 35 dolar.

Stephen Mengaku Pernah Tak Sadar Dirinya Menulis dalam Keadaan Mabuk

Gambar 4

Gambar 4

Setelah mendapatkan kesuksesan pertamanya, Stephen kecanduan alkohol. Bahkan kisah tokoh Jack Torrence yang merupakan seorang pecandu itu sedikit terinspirasi dari otobiografi Stephen. Dalam memoarnya, Stephen bilang kalau dirinya pernah minum tallboys (sejenis bir) setiap malam dan tak ingat dirinya menulis novel Cujo. Karena kecanduan dan kebiasaan mabuknya itu, kekuarga Stephen marah dan sejak saat itu kemudian Stephen berhenti mabuk-mabukan.

Stepehen pernah menulis sebuah karya di meja seorang penulis yang pernah meninggal, Rudyard Kipling. Saat itu Stephen dan istrinya berada di Brown’s Hotel di London. Stephen tak bisa tidur dan bertanya pada staf hotel apakah ada tempat yang cocok untuk menulis. Stephen lalu diarahkan pada sebuah meja besar yang dulu merupakan miliki Rudyard Kipling, penulis The Jungle Book, Kim, dan sejumlah puisi. Kipling dulu meninggal saat duduk di meja tersebut. Di meja yang sama, Stephen membuat karya yan kemudian diberi judul Misery.

Stephen Takut dengan Angka 13

Gambar 5

Gambar 5

Dalam sebuah wawancara dengan Playboy di awal kariernya, Stephen pernah berkata kalau ia tak suka dengan angka 13. Saat menulis, jika sudah sampai di halama 13 atau kelipatannya, Stephen tak akan berhenti menulis. Dia akan menulis cepat-cepat sampai halaman 13 atau halaman kelipatannya bisa segera terlewati. Selain takut dengan angka 13, Stephen juga mengungkapkan kalau dirinya takut dengan gelap.

Banyak menulis cerita horor dan menakutkan, bukan berarti Stephen sosok penulis yang tak takut dengan apapun. Stephen juga takut dirinya nanti menderita penyakit mental yang berkaitan dengan usia yang semakin menua, seperti demensia dan Alzheimer’s. Dia takut nantinya hilang ingatan atau jadi gila.

Saat Masih Anak-Anak, Stephen Pernah Melihat Temannya Tewas

Stephen waktu masih kecil pernah menjadi seorang anak yang pendiam. Hal ini disinyalir karena ia melihat seorang temannya yang tewas ditabrak kereta api. Saat berusia empat taun, Stephen bermain dengan temannya, lalu seorang bocah berada di jalur kereta api di saat yang tak tepat. Bocah tersebut tertabrak kereta api dan tewas.

Stephen melihat hal itu tapi dalam karya non-fiksinya Danse Macabre, ia mengatakan, “Aku tak memiliki ingatan akan kejadian itu sama sekali, cuma diberitahu beberapa tahun kemudian setelah kejadian tersebut terjadi.” Ada kemungkinan alam pikiran bawah sadarnya yang menutupi ingatan tersebut. Sementara itu, ada sejumlah pendapat kalau peristiwa traumatis itu memberi dampak psikologis pada diri Stephen dan jadi inspirasinya untuk membuat sejumlah karya, walau hal itu tak diungkapkan oleh Stephen dalam memoarnya, On Writing.

image credits:
headline: http://lowcostacademicwriting.com/wp-content/uploads/2015/09/Stephen-King-012.jpg
Gambar 1: http://a2.ec-images.myspacecdn.com/images01/85/e0a0696870e5de04fe81d8a8324ba0ec/l.jpg
Gambar 2: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gamber 3: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gambar 4: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/05/STEPHEN-KING-1.jpg
Gambar 5: http://i.huffpost.com/gen/1868696/images/o-STEPHEN-KING-facebook.jpg

Ketika Pendapatan Kerjaan Freelance Mengalahkan Gaji Kerjaan Full-Time

Di kantor ngetik, pulang di rumah pun ngetik lagi. Itulah rutinitasku sekitar sebulanan terakhir ini. Kalau jam dan waktu ngetik itu kudedikasikan sepenuhnya buat bikin novel, sepertinya sebuah novel sudah terlahir saat ini, hehe.

Baru kali ini (alhamdulillah) dapat kerjaan freelance yang pendapatannya bisa ngalahin gaji bulanan. Tapi ya gitu, perjuangannya fiuh bikin capek raga dan jiwa. Sering lembur, bangun dan tidur langsung kangen-kangenan sama laptop. Bahkan pas tidur, urusan kerjaan dan deadline sampai kebawa mimpi. Parah! Parah! Pernah juga baru tidur jam 4 pagi, bukan karena full ngelembur menyelesaikan kerjaan tapi karena minum kopi dan badan udah kelewat capek. Jadinya susah buat tidur. Badan ini kadang kalau udah capek tapi masih dipaksa buat kerja atau aktivitas jadinya malah susah diajak istirahat.

Rasanya udah nggak kenal lagi sama istilah burn out. Stres? Entah, sudah lewat kayaknya. Hehe. Kerja emang jadi kayak mesin aja. Iya ini memang nggak baik. Tapi ya demi mengumpulkan modal nikah (eh?) dan dapat tawaran kerjaan, jadi sayang kan kalau rezeki ditolak.

Tadinya di awal bulan ini cuma ada satu kerjaan freelance. Tapi kemudian ada teman yang nawarin kerjaan buat menerjemahkan jurnal dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Tadinya ragu (lebih tepatnya nggak PD), soalnya udah lama nggak nerjemahin ditambah lagi topiknya juga aku nggak begitu menguasai. Akhirnya ya kerjaan itu kuambil juga. Selain karena yang nawarin temen sendiri, ya itung-itung buat menguji ketahanan otak dan pikiran buat kembali ke dunia penerjemahan. Meski ujung-ujungnya emang agak ngos-ngosan tapi sekaligus lega ketika akhirnya selesai juga.

Memang sih kerjaan baik freelance dan yang di kantor nggak jauh-jauh dari nulis. Tapi ketika saling kejar-kejaran jadinya memang bikin puyeng, hehe. Ditambah lagi nggak pernah aktif olahraga. Sesekali masih suka nyolong kesempatan minum kopi. Dan ngelembur dari hari ke hari. Waktu akhir pekan pun, kencannya sama laptop. Hari Minggu yang biasanya dibuat istirahat masih aja riweuh sama kerjaan. Jatah nonton drama Korea dan berbagai film kesayangan lain harus tergeser untuk sementara waktu demi mengejar deadline, hihihi. Kayaknya emang kudu mengatur waktu dan prioritas lebih baik lagi.

Karena sekarang kerjaan freelance tinggal satu, jadi sepertinya memang kudu meluangkan porsi waktu untuk istirahat lebih banyak lagi. Untuk pekerjaan, jujur aja punya impian bisa kerja di pojok studio punya sendiri. Mengerjakan hal-hal yang disuka. Membuat tulisan dan karya  yang benar-benar tulus dari hati. Dan (ini nih yang paling penting) bisa kaya raya dari kerjaan itu, hahaha tetap ya matre.

Ketika pendapatan kerjaan freelance lebih besar dari gaji bulanan kerjaan full-time karyawan, rasanya itu… langsung kepikiran bikin bisnis sendiri (langsung keluar otak dagangnya, hehe). Selain karena faktor ingin menambah uang tabungan, tujuanku mengerjakan lebih dari satu pekerjaan tak lain juga untuk mengukur potensi dan mental sendiri. Sejauh apa kemampuanku? Sampai batas mana ketahananku? Seberapa disiplin dan seberapa kuat menata hati serta emosi? Itu sih. Capek jelas iya. Stres? Wah, jangan ditanya lagi. Di balik itu semua, ya semoga Allah ngasih kesehatan terus buat kita semua biar bisa mengerjakan hal-hal yang kita mampu dan suka.

(kali ini tulisannya nggak ngikutin EYD nggak apa-apa kan ya? hehe, anggap aja ini teknik free writing) *ngeles

oh ya, itu gambar headline diambil dari pexels.com (karena kenyataannya saya kalau kerja pakai laptop lawas dan nggak serapi seperti yang di gambar)

 

R. L. Stine, Dulu Bocah Penakut Tapi Sekarang Jadi Penulis Cerita Horor Terkenal

Robert Lawrence “R. L.” Stine, buat kamu yang penggemar cerita-cerita horor pasti nggak asing dengan nama penulis yang satu ini. Pria yang lahir tanggal 8 Oktober 1943 ini juga sering dijuluki sebagai Stephen King-nya sastra anak-anak. Sudah ratusan buku bergenre horor yang ia tulis untuk anak-anak dan remaja. Tak heran jika ia juga dinobatkan sebagai salah satu penulis besar di bidang sastra modern. Buku-bukunya bahkan sudah terjual lebih dari 400 juta eksemplar di seluruh dunia.

Buat kamu yang masuk dalam golongan generasi 90an pastinya juga pernah memiliki masa-masa tenggelam dan asyik sendiri membaca novel Goosebumps yang sangat populer itu. Ada kisah menarik dari sosok penulis yang satu ini. Perjalanan kariernya pun dimulai saat ia masih kanak-kanak. Selengkapnya, yuk ikuti infonya lebih lengkap di sini.

Dulu Cuma Murid Biasa, Malah Nggak Begitu Suka Sekolah

Gambar 2

Gambar 2

Stine merupakan putra dari pasangan Lewis Stine dan Anne. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pengiriman dan pengepakan barang (shipping clerk) sementara ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Saat berusia sembilan tahun, Stine menemukan mesin ketik tua di loteng rumah. Dari situ, ia mulai mengetik dan membuat berbagai jenis cerita dan humor.

Stine merupakan murid biasa dengan prestasi rata-rata. Bahkan ia tak terlalu suka sekolah. Saat masih kecil, ia tak suka main di luar rumah. Ia lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di rumah untuk mengetik dan membuat berbagai jenis cerita dan humor. Kalau sudah tenggelam dalam dunianya, dia betah berlama-lama dengan mesin ketiknya.

Stine Mengaku Dirinya Dulu Anak yang Penakut

Gambar 3

Gambar 3

Dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh sparknotes.com, Stine mengaku dirinya dulu adalah bocah yang penakut. Ia takut pada berbagai hal. Rasa takutnya itulah yang membuatnya lebih suka berdiam di dalam rumah pada pagi hari untuk mengetik dan membuat cerita. “Aku sangat pemalu dan penakut. Aku baru akan bersepeda di malam hari dan selalu merasa ada seseorang yang mengintipku di garasi,” ucapnya. Saking takutnya, dia akan melemparkan sepedanya begitu saja dan langsung lari masuk ke rumah.

Meski Stine tahu kalau anak kecil seharusnya tak boleh sepenakut itu, kini ia jadi bisa memanfaatkannya. Perasaan panik dan takut yang pernah ia rasa waktu kecil bisa dijadikan sumber inspirasi menulisnya saat dewasa. Sejak kecil ia memang sudah ingin jadi penulis. Ditanya soal tips menulis, Stine mengaku kalau ia jarang memberi tips menulis karena dirinya sendiri sudah menulis sejak kecil. Kalau menulis ya menulis saja tak usah pakai disuruh menulis, begitu kira-kira tanggapannya.

Setelah Lulus Kuliah, Stine Bekerja di Majalah Anak-Anak

Gambar 4

Gambar 4

Stine berkuliah di Ohio State University dan lulus pada tahun 1965 dari jurusan bahasa Inggris. Selama kuliah, ia juga bekerja di majalah kampus, The Sundial sebagai editor. Setelah lulus, ia pindah ke New York City. Di sanalah ia membangun kariernya di bidang penulisan.

Stine diterima bekerja di Scholastic, Inc. Ia bekerja di majalah anak-anak. Di waktu senggangnya, ia menulis buku-buku humor untuk anak-anak dengan nama pena Jovial Bob Stine. Pertengahan tahun 70an, Stine mendirikan sebuah majalah humor untuk anak-anak dan remaja bernama Bananas. Majalah tersebut dipublikasikan oleh Scholastic Press antara tahun 1975 hingga 1984.

Kehilangan Pekerjaan Membuatnya Jadi Penulis Penuh Waktu

Gambar 5

Gambar 5

Stine dipecat dari Scholastic saat perusahaan tersebut melakukan reorganisasi. Setelah dipecat, Stine putar haluan menjadi seorang penuis penuh waktu. Ia gunakan waktunya sepenuhnya untuk fokus menulis. Pada masa itulah, Stine mulai menemukan minat dan ketertarikannya pada genre horor.

Karya novel horor pertamanya berjudul Blind Date yang terbit tahun 1986. Novel itu mendapat sambutan hangat dari para pembacanya. Setelah itu, Stine menulis karya berikutnya, seperti Twisted yang terbit tahun 1987 dan The Baby-Sitter yang diterbitkan tahun 1989. Dari situ, karya-karyanya yang bergenre horor makin dikenal

Novel Serial Fear Street Laku Terjual 80 Juta Eksemplar

Pada tahun 1989, Stine mula menulis novel berseri yang berjudul Fear Street. Karya tersebut merupakan karya serial tentang para remaja yang melakukan sejumlah petualangan yang berkaitan dengan hantu, pembunuh, dan karakter-karakter aneh. Buku pertama dari serial tersebut berjudul The New Girl. Serial ini sangat populer. Bahkan tercatat sampai terjual hingga 80 juta eksemplar.

Selain menulis novel bergenre horor, Stine juga ikut terlibat dalam tayangan televisi Eureeka’s Castle dan menjadi penulis utamanya. Acara tersebut ditayangkan di Nickelodeon Network dalam kurun waktu 1989 hingga 1995. Wah, sebagian besar waktu Stine memang digunakan untuk menulis dan berkarya, ya.

Goosebumps Jadi Serial yang Super Populer dan Terjual Hingga 300 Juta Eksemplar

Gambar 6

Gambar 6

Pernah tahu dong soal novel serial Goosebumps? Serial inilah yang sangat lekat dengan sosok R. L. Stine. Stine memperkenalkan serial Gooseebumps pada tahun 1992. Goosebumps merupakan cerita fiksi horor anak-anak di mana para tokohnya dihadapkan pada situasi menyeramkan. Serial ini langsung menyedot perhatian dunia. Sampai-sampai sudah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Tercatat serial Goosebumps merupakan buku terlaris kedua di dunia setelah Harry Potter.

Serial ini sangat populer. Sampai-sampai laku terjual hingga 300 juta eksemplear di seluruh dunia. Kesuksesan novel itu juga diikuti dengan tayangan televisi serial Goosebumps yang tayang sampai empat season mulai dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Selain diadaptasi jadi tayangan televisi, Goosebumps juga diadaptasi jadi tiga video game. Stine juga kemudian melebarkan sayapnya untuk menulis buku serial lainnya, seperti Mostly Ghostly, Rotten School, The Nightmare Room, dan novel Dangerous Girls (2003) dan The Taste of Night (2004). Tahun 2007, film fantasi horor berjudul The Haunting Hour: Don’t Think About It dibuat yang terinspirasi dari novel anak yang dibuatnya.

***

image credits:
Gambar 1
https://www.theguardian.com/childrens-books-site/gallery/2016/may/16/goosebumps-rl-stine-what-you-didn-t-know#img-2
Gambar 2
http://cdn.bloody-disgusting.com/wp-content/uploads/2015/10/rlstinebanner.jpg
Gambar 3
http://www.cbc.ca/gfx/topvideo/2015/rl-stine-101615.jpg
Gambar 4
https://i.ytimg.com/vi/NXmj8uAM2YY/maxresdefault.jpg
Gambar 5
http://www.barnesandnoble.com/blog/barnesy/wp-content/uploads/2014/10/RLStineatBN-2.jpg
Gambar 6
https://i.ytimg.com/vi/bX7fnOlR4-U/hqdefault.jpg

7 Cara Membahagiakan Lagi Keluarga yang Pernah Kita Kecewakan

Sekali kita mengecewakan keluarga, rasa penyesalannya akan terus terbawa seumur hidup. Seolah ada bayangan hitam yang akan terus menyelimuti kita setiap saatnya. Bahkan muncul sesak di dada setiap kali teringat sebuah kekecewaan yang telah kita torehkan di hati orang-orang tercinta kita. Sayangnya (dan memang kenyataannya), waktu tak bisa diputar kembali. Masa yang telah lalu tak pernah bisa kita dapatkan kembali.

Seperti yang sudah sering kita tahu, penyesalan selalu datang terlambat. Saat masih remaja, kita jarang mendengarkan nasihat ayah dan ibu. Lebih sering berbuat onar sampai merepotkan semua anggota keluarga. Suka seenaknya sendiri melakukan sesuatu, padahal ada keluarga yang begitu mengkhawatirkan kita setiap harinya. Mungkin dulu waktu sekolah atau kuliah kita belum bisa mempersembahkan prestasi terbaik. Dalam memilih pekerjaan pun, mungkin jalan yang kita pilih berbeda dari harapan keluarga.

Belum bisa jadi kebanggaan keluarga.
Belum memenuhi harapan keluarga.
Lebih sering meminta daripada memberi.
Tak jarang menyusahkan daripada meringankan.
Masih sering jadi beban dan bukan memberi bantuan.

Ah, betapa sering kita mengecewakan keluarga.

Saat kita makin dewasa, kita makin menyadari arti penting keluarga. Melihat ayah dan ibu yang semakin lanjut usia membuat kita kembali diingatkan betapa waktu bisa berlalu begitu cepat. Adik, kakak, dan saudara yang makin dewasa menyadarkan kita soal banyaknya hal-hal yang sering kita lewatkan begitu saja tanpa arti. Yang lebih menohok lagi adalah kita makin sering dihantui pertanyaan, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk keluarga?” “Sudahkah kamu jadi orang yang membanggakan dan bisa meninggikan derajat keluargamu?” “Jangan-jangan hidupmu selama ini tak ubahnya debu yang cepat atau lambat akan tersapu angin dan lenyap seketika?”

“When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching — they are your family. ”
― Jim Butcher

Ada satu cara untuk menebus sebuah rasa sesal. Apa itu? Tak lain adalah segera memperbaiki sesuatu, saat ini juga, dimulai hari ini juga.

1. Membuat Prestasi Baru, Buat Mereka Kembali Tersenyum Padamu

image credit: pexels

image credit: pexels

Saatnya untuk kembali melangkah. Melakukan sesuatu yang baru. Menorehkan prestasi baru. Buat orang tua dan keluarga kita kembali bangga. Mulai dengan sesuatu yang memang sudah kita kuasai dengan baik. Kembali berkarya dengan hati demi bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat lagi.

Setidaknya jaga nama baik keluarga dengan melalukan sesuatu yang bermanfaat untuk lebih banyak orang lain. Kalau saat ini kamu masih sekolah atau kuliah, ya selesaikan tugasmu dengan baik. Ciptakan sesuatu yang kamu suka dan bermanfaat untuk orang lain. Kalau kamu sudah bekerja atau membangun usaha, lakukan sesuatu yang bisa memberi dampak positif untuk orang-orang di sekitar kita.

2. Luangkan Waktu Khusus untuk Berkumpul Bersama Keluarga

image credit: pexels

image credit: pexels

Kesibukan dan rutinitas harian kita mungkin padat. Dari pagi hingga malam selalu sibuk melakukan banyak hal. Tapi coba luangkan waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga. Kebersamaan singkat bisa ciptakan sebuah kebahagiaan baru.

“I sustain myself with the love of family.”
― Maya Angelou

Makan bersama, nonton TV bareng-bareng, atau sekadar seru-seruan foto selfie bareng. Yang penting hadirkan lagi kehangatan dalam keluarga. Tersenyum dan tertawa bersama. Merasakan kembali sebuah kebersamaan akan memberi kita sebuah kekuatan. Ada energi positif yang kita dapatkan. Hanya cinta dan kasih keluarga yang bisa selalu  menguatkan kita.

3. Memberi Hadiah atau Kejutan di Saat Tak Terduga

image credit: pexels

image credit: pexels

Tak perlu menunggu momen khusus seperti hari ulang tahun atau hari pernikahan orang tua. Kapan pun kita bisa memberi kado, hadiah, atau kejutan untuk orang-orang tercinta kita. Sesuaikan dengan hobi atau minatnya. Misalnya nih, ibu kita suka sekali mengoleksi tas, jadi belikan saja tas baru yang mungkin sudah lama ia idamkan. Membelikan tas wanita terbaru untuk ibu tercinta bisa jadi cara kita untuk kembali meraih hatinya, ya nggak sih?

Tapi sebenarnya kejutan tak harus dalam bentuk kado atau barang. Bisa juga dengan hal-hal sederhana. Seperti membuatkan makan malam istimewa atau memasak masakan favorit keluarga dengan tangan kita sendiri. Tujuan dan niatnya adalah membuat orang tercinta kita merasa bahagia dengan sesuatu yang kita berikan dari hati. Sesuatu yang berasal dari hati pasti juga akan sampai ke hati.

4. Lebih Banyak Tersenyum dan Pasang Wajah Manis

image credit: pexels

image credit: pexels

Cara yang satu ini cukup sederhana. Hanya saja memang kadang sulit untuk benar-benar bisa dilakukan. Yang ada malah memasang wajah bete atau cemberut. Padahal banyak-banyak tersenyum itu baik untuk kesehatan, juga pastinya bisa jadi ladang pahala.

“Don’t cry because it’s over, smile because it happened.”
― Dr. Seuss

Tak perlu lagi menangisi sebuah penyesalan yang telah lalu. Yang berlalu tak pernah bisa kita genggam kembali. Hal terpenting adalah momen yang kita miliki saat ini. Saatnya untuk lebih banyak tersenyum. Memulai langkah baru. Menciptakan lembaran baru. Memperbaiki kesalahn yang pernah kita buat. Ambil pelajarannya dan jadikan motivasi untuk mempersembahkan yang lebih baik untuk keluarga tercinta kita.

5. Meminta Maaf Langsung, Sebuah Maaf Bisa Membuat Jalan Hidup Kita ke Depannya Lebih Lapang

image credit: pexels

image credit: pexels

Berani dan punya cukup nyali untuk meminta maaf langsung atas kesalahan yang pernah dibuat? Kalau  kita bisa, mampu, dan mau melakukannya, nggak ada salahnya untuk meminta maaf langsung ke keluarga. Jika dulu ada kesalahan yang pernah melukai hati orang terdekat kita, sekarang saatnya untuk meminta maaf.

“I also believe that parents, if they love you, will hold you up safely, above their swirling waters, and sometimes that means you’ll never know what they endured, and you may treat them unkindly, in a way you otherwise wouldn’t.”
― Mitch Albom, For One More Day

Kita bukanlah pemilik waktu atau penggenggam waktu. Tak pernah tahu kapan kita akan melihat keluarga yang kita cintai untuk terakhir kalinya. Tak terbayang rasanya jika harus berpisah dengan seseorang yang paling kita cintai tanpa sempat mengucap selamat tinggal atau sampai jumpa lagi. Keluarga adalah orang-orang yang akan selalu meneirma kita. Sekalipun mereka tak sempurna, tapi kita bisa selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik demi mereka.

6. Ajak Liburan Bersama, Ciptakan Kenangan dan Kebahagiaan yang Baru

image credit: pexels

image credit: pexels

Saatnya untuk tak lagi mengungki-ungkit semua yang telah berlalu. Ambil saja hikmah dan pelajaran yang sudah lewat. Sekarang saatnya untuk melangkah ke depan dengan menciptakan kenangan yang baru.

Berlibur dengan keluarga akan menciptakan senyum dan tawa baru. Setiap momennya pun akan jadi kenangan yang membuat ikatan keluarga makin kuat. Biarkan hati yang patah itu tumbuh kembali, Saatnya memberi kesempatan untuk diri sendiri mengubah penyesalan jadi dorongan untuk berbuat yang lebih baik demi keluarga.

7. Ulurkan Tanganmu Meringankan Beban Keluarga Sekalipun Kamu Belum Sempurna

image credit: pexels

image credit: pexels

Sebuah noda bisa hilang jika kita terus berusaha menggosok, membasuh, dan membilasnya dengan sabun serta air bersih. Sebentuk penyesalan karena dulu pernah mengecewakan keluarga bisa terobati dengan memberikan persembahan. Saatnya untuk mengulurkan tangan, meringankan beban keluarga, sekecil atau sedikit apapun itu. Meski kita belum sempurna dan dulu pernah berbuat banyak salah, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pada dasarnya kita memang manusia biasa. Pernah berbuat salah dan menorehkan luka. Bahkan kita juga pernah menyakiti hati keluarga kita sendiri. Padahal dari mereka lah kita memahami arti cinta. Dari ibu, ayah, saudara, dan kerabat itulah kita memahami arti kebersamaan dan kebahagiaan. Saatnya untuk berbahagia bersama keluarga. Membagi cinta dan menjalani hidup dengan lebih indah.

 

 

 

Roald Dahl, Si Pilot Pesawat Tempur yang Jadi Penulis Buku Anak-Anak

Pernah baca atau nonton film Charlie and the Chocolate Factory? Adalah Roald Dahl sosok yang menciptakan karya tersebut. Pria kelahiran Llandaff tanggal 13 September 1916 ini dikenal sebagai seorang penulis buku anak-anak yang terkenal. Tapi siapa sangka ternyata dulunya ia adalah seorang pilot pesawat tempur (fighter pilot) pada zaman Perang Dunia II.

Banyak sekali karya yang ia buat selama hidupnya. Beberapa yang terkenal, antara lain James and the Giant Peach yang terbit tahun 1961. Lalu yang sudah disebutkan tadi, Charlie and the Chocolate Factory yang dirilis pada tahun 1964 dan diadaptasi jadi film. Dan sebelumnya juga ada kumpulan cerita berjudul Someone Like You yang dipublikasikan tahun 1953. Tercatat sudah ada 16 buku anak-anak yang ia tulis sebelum wafat tanggal 23 November 1990 di Oxford, Inggris.

Saat Roald Berusia 4 Tahun, Ayahnya Meninggal Dunia

Gambar 2

Gambar 2

Kedua orang tua Roald berdarah Norwegia. Di liburan musim panasnya, Roald pergi ke rumah kakek neneknya di Oslo. Saat Roald masih berusia 4 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Roald kecil bersekolah di Llandaff Cathedral School. Di sekolah itu, kepala sekolah pernah memukulnya karena bercandanya yang kelewatan. Ibu Roald lalu memindahkan putranya tersebut untuk bersekolah di St. Peter’s, sebuah sekolah berasrama di Inggris seperti yang diinginkan ayahnya. Setelah itu, Roald lanjut sekolah di Repton, sebuah sekolah swasta dengan reputasi akademik yang gemilang.

Roald Tak Mau Lanjut Kuliah di Oxford

roald-dahl-3

Gambar 3

Saat bersekolah di Repton, Roald sempat memprotes soal aturan-aturan sekolah tersebut. Selama bersekolah di sana, Roald memiliki keinginan yang amat dalam untuk bertualang dan melanglang buana. Meskipun ia siswa yang beprestasi, ia menolak tawaran ibunya untuk membiayainya berkuliah di Universitas Oxford atau Cambridge.

Seperti yang dikutip dari otobiografinya, Boy: Tales of Childhood, Roald memaparkan, “Tidak, terima kasih. Aku ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah di perusahaan yang bisa membawaku ke tempat-tempat indah dan jauh seperti Afrika atau Cina.” Dan ia memang melakukan apa yang diucapkannya tersebut. Setelah lulus dari Repton tahun 1932, Roald mengikuti sebuah ekspedisi ke Newfoundland. Setelah itu, ia bekerja di Shell Oil Company di Tanzania, Afrika sampai tahun 1939.

Roald Bergabung di Angkatan Udara dan Menjadi Pilot Pesawat Tempur

Gambar 4

Gambar 4

Ketika hasrat berpetualangnya belum terpuaskan, Roald bergabung ke Angkatan Udara Britania Raya (Royal Air Force) pada tahun 1939. Setelah mengikuti pelatihan di Nairobi, Kenya, Roald akhirnya menjadi pilot pesawat tempur di Perang Dunia II. Saat bertugas di Mediterania, Roald mengalami kecelakaan pesawat di Alexandria, Mesir.

Akibat kecelakaan tersebut, Roald mengalami cedera berat di tengkoraknya, tulang belakang, dan pinggul. Roald sampai harus menjalani operasi pinggul dan dua kali operasi tulang belakang. Ia kemudian dipindah ke Washington, D.C. dan menjadi asisten atase udara.

Pertemuannya dengan C.S. Forrester Membuatnya Semangat Menulis

Gambar 5

Gambar 5

Saat berada di Washington, D.C., Roald bertemu dengan penulis C.S. Forrester yang menyemangatinya untuk menjadi penulis. Roald menerbitkan cerita pendek perdananya di Saturday Evening Post. Lalu ia lanjut menulis cerita dan artikel untuk majalan lainnya, termasuk The New Yorker.

Roald mengatakan kalau pengalaman menulisnya terjadi lancar begitu saja. Hanya saja karya pertamanya untuk anak-anak yang berjudul The Gremlins yang terbit pada tahun 1942 tak meraup sukses besar. Akhirnya, ia kembali membuat tulisan bergenre misteri dengan sasaran pembaca orang dewasa. Ia terus berkarya sampai akhirnya bisa sukses menerbitkan Someone Like You pada tahun 1953 dan Kiss, Kiss pada tahun 1959.

Roald Menulis Cerita Anak Saat Sudah Jadi Ayah

Gambar 6

Gambar 6

Pada tahun yang sama saat Someone Like You terbit, Roald menikahi seorang artis film, Patricia Neal yang memenangkan Academy Award atas perannya di Hud tahun 1961. Pernikahan itu bertahan selama tiga dekade dan dikaruniai lima orang anak, salah satunya meninggal dunia tahun 1962 karena ditabrak sebuah taksi di New York City. Putra Roald tersebut mengalami cedera parah dan mengalami hydrocephalus, sayangnya nyawanya tak tertolong kemudian.

Pernikahan Roald dan Neal tak bisa bertahan lebih lama lagi. Roald lalu bercerai dengan Neal pada tahun 1983. Tak lama kemudian, Roald menikahi Felicity Ann Crossland yang bertahan hingga akhir hayatnya.

Roald sering mendongeng atau membacakan cerita untuk anaknya sebelum tidur di malam hari. Kebiasaan itulah yang kemudian menginspirasinya untuk menulis cerita anak-anak. Menurut Roald, anak-anak itu sangat kritis dan cepat sekali merasa bosan. “Kita harus terus menyertakan hal-hal yang menggelitik. Kalau anak sudah kelihatan agak bosan, kita harus segera memikirkan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya. Sesuatu yang menggelitik. Kita harus tahu apa yang disukai anak-anak,” begitu penuturannya pada sebuah wawancara dengan New York Times.

Roald Menulis Ceritanya di Sebuah Gudang di Halamannya

Gambar 7

Gambar 7

Setiap hari pada pukul 10.00-12.00 dan 16.00-18.00, Roald Dahl menulis di sebuah gudang di halamannya. Semua karyanya ditulis dengan menggunakan pensil HB di lembaran kertas berwarna kuning (yellow legal notepads).

Kariernya sebagai penulis buku cerita anak dimulai pada tahun 1961, saat itu ia menerbitkan karyanya yang berjudul James and the Giant Peach. Tiga tahun kemudian, Roald menerbitkan maha karyanya, Charlie and the Chocolate Factory. Kedua buku tersebut kemudian diadaptasi jadi film yang kemudian terkenal.

Roald Dahl Wafat Tanggal 23 November 1990

Setelah mengalami infeksi yang tak diketahui pasti, Roald lalu dirawat di John Radcliffe Hospital di Oxford, Inggris. Ia meninggal dunia di sana pada tanggal 23 November 1990 pada usia 74 tahun. Roald dimakamkan beserta sejumlah benda. Benda-benda tersebut, antara lain gergaji mesin, pensil HB, cokelat, red wine, dan snooker cues.

Image credits:

Gambar 1
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02335/roalddahl_2335901b.jpg

Gambar 2
http://farm9.staticflickr.com/8038/7982199427_4fddd6957b_o.jpg

Gambar 3
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01693/fts-dahl-new0_1693331c.jpg

Gambar 4
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2011/09/13/article-0-00D0F88C00000190-711_634x432.jpg

Gambar 5 http://www.telegraph.co.uk/content/dam/books/2015-07/Roald-Dahls-Darkest-Hour/roald-dahl-family-large.jpg

Gambar 6
http://www.oxfordculturemania.es/wp-content/uploads/2016/02/6142946853_49c55033ed_b.jpg

Gambar 7
http://www.euclidlibrary.org/images/tickle-your-brain/_62816424_fantasticmrdahl.jpg?sfvrsn=0

5 Tips Super Simpel Meresensi Buku

Setiap orang punya selera sendiri soal buku. Ibarat makanan, ada makanan yang tak kita suka ada yang sangat kita suka. Begitu pula dengan selera soal buku. Kalau sudah soal selera, biasanya perdebatan akan sangat panjang. Suka dan tidak suka, itu memang kembali pada pribadi masing-masing.

Ketika meresensi sebuah buku, kadang saya merasa deg-degan juga. Apakah penilaian saya ini sudah obyektif? Jangan-jangan masih serba asal menghakimi? Bagaimana kalau resensi saya malah menjatuhkan buku atau karya tersebut? Nanti kalau para fans tidak terima, wah saya bisa kena marah. Kalau penulisnya tak terima, aduh saya mungkin akan dicaci. Hehe, jadi paranoid sendiri, nih.

Saya pun masih terus belajar cara meresensi buku yang baik. Buku adalah sebuah karya. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Urusan sempurna tak sempurnanya buku, semua itu bisa ditentukan dengan standar dan kriteria tertentu. Kalau variabel penilaian yang digunakan berbeda, jelas hasil keseluruhannya juga akan berbeda.

Berikut lima tips yang saya pahami soal meresensi buku. Tips-tipsnya sederhana saja dan masih bisa dikembangkan lagi.

1. Deskripsikan Isi Buku dengan Singkat

Tuliskan gambaran umum tentang buku tersebut. Buku ini tentang apa, sih? Genre-nya apa? Novel kah? Non-fiksi? Memoar? Kumpulan cerita? Jelaskan secara singkat dan umum tentang buku tersebut.

Waktu saya dulu menjadi editor buku, atasan saya selalu meminta saya untuk menjabarkan sebuah buku dalam satu kalimat dalam memutuskan apakah sebuah buku akan diterbitkan atau tidak. Kurang lebih perintahnya begini, “Dalam satu kalimat, jelaskan isi buku tersebut.” Saya rasa cara ini juga bisa dilakukan ketika mengawali resensi sebuah buku.

Hanya saja deskripsi singkatnya usahakan tak mengandung spoiler. Jabarkan secara umum tentang nyawa buku tersebut. Dan pertahankan rasa penasaran pembaca akan buku tersebut.

Jangan lupa juga menuliskan identitas buku, mulai dari siapa penulisnya, penerbitnya, editornya, dan sebagainya. Sebaiknya ditulis dengan lengkap. Supaya yang membaca resensi kita bisa mendapat gambaran si buku dengan jelas.

2. Jabarkan Hal-Hal yang Kita Suka

Fokuskan pada apa yang kita suka dan rasakan dari membaca buku tersebut.

Misal, dalam meresensi sebuah novel, jabarkan hal-hal berikut ini:

  • Siapa tokoh favoritmu? Apa alasannya?
  • Apakah tokoh-tokohnya terasa nyata?
  • Apakah ceritanya logis dan terus bikin penasaran?
  • Bagian apa yang paling kamu suka dari buku tersebut?
  • Adegan mana yang paling berkesan dari buku itu?

Di bagian ini, kita bisa menyertakan sinopsis singkat tentang buku tersebut. Bukan rangkuman dari setiap bab, hanya soal alur ceritanya (kalau cerita fiksi) tanpa membocorkan akhir cerita. Atau tentang poin-poin yang dimuat dalam buku tersebut.

3. Paparkan Sejumlah Hal yang Tak Kita Suka

Apakah ada hal-hal yang kita suka dari buku tersebut? Apa alasan kita tak menyukainya? Di bagian ini, kita bisa memberikan opini dan sudut pandang kita tanpa terlalu menyudutkan nyawa karya tersebut. Sebisa mungkin kita jujur soal bagian-bagian yang tak kita suka dari buku yang kita resensi. Tapi sekali lagi, faktor selera juga sangat berpengaruh besar ketika memaparkan soal bagian-bagian apa saja yang tak kita suka dari buku yang sedang kita ulas.

4. Bukunya Lebih Cocok Dibaca oleh Siapa?

Saatnya untuk memberi rekomendasi. Rekomendasi ini terkait siapa target pembaca yang paling pas untuk buku tersebut, kalangan apa yang sekiranya bakal dapat banyak manfaat dari buku itu, dan sebagainya. Selain itu, kita juga bisa memberikan perbandingan antara buku yang kita resensi dengan buku lainnya. Apakah ada buku lain yang mirip atau “satu nyawa” dengan buku yang sedang kita ulas? Adakah kesamaan antara buku yang sedang kita ulas dengan buku lainnya?

5. Pemberian Peringkat atau Bintang

Kita bisa memberi peringkat, skor, atau jumlah bintang tertentu pada buku yang kita ulas. Tentunya nilai akhir tersebut ditentukan berdasarkan ulasan yang kita buat. Di bagian ini, kita juga bisa memberikan kesimpulan singkat soal buku yang kita ulas. Cukup satu atau tiga kalimat saja sebagai penutupnya.

Meresensi buku itu bukan merangkum. Tak sekadar merangkum keseluruhan isi buku tapi juga menyampaikan apresiasi dan kritik yang membangun. Namun, lebih dari itu semua, meresensi itu juga bagian dari menikmati sebuah karya.

 

Mental Juang B.J. Habibie sebagai Semangat Generasi Muda Membangun Bangsa

image credit: owgram.com

“Apa yang seharusnya dilakukan oleh anak muda Indonesia untuk membuat negeri ini lebih baik?
Meningkatkan disiplin, produktivitas dan kualitas berpikir, bekerja, serta berkarya sesuai kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Untuk mencapai ini, anak muda Indonesia harus cinta pada sesama manusianya, cinta pada karya sesama manusianya, cinta pada lingkungan hidupnya, cinta pada pekerjaannya, dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.” (Tugas Generasi Muda Indonesia, Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!).

B.J. Habibie menuliskan, “Kita adalah keturunan bangsa pejuang, yang tidak mengenal lelah dan kalah.” Setelah Indonesia merdeka, tugas kita lah untuk meneruskan perjuangan para pahlawan untuk membangun negeri. Hanya saja, terkadang semangat untuk berjuang itu luntur. Padahal saat ini banyak kemudahan dan fasilitas yang didapat generasi muda untuk berkarya. Lalu, apa masalahnya? Masalahnya adalah karena tidak ada tujuan dan terlena dengan berbagai kesenangan duniawi yang ada.

Bercermin dari kisah seorang Habibie, ada mental juang luar biasa yang bisa dijadikan bekal semangat para generasi muda untuk membangun bangsa. Pengalaman hidupnya sudah cukup untuk membuat setiap penerus bangsa termotivasi berkarya dengan cinta. Berkarya untuk kemajuan negara. Bekerja dengan cara yang  bermartabat. Lebih penting lagi, memanfaatkan semua kesempatan waktu dan usia yang dipunya.

Berikut lima petikan pengalaman dan perjuangan Habibie yang akan membuat kita kembali optimis untuk membangun negeri dengan lebih baik. Semoga detik berikutnya, kita kembali memiliki semangat untuk kembali berkarya.

Buku dan Ilmu adalah Bekal untuk Masa Depan

Saat masih belia, Habibie menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tenggelam dalam buku dan ilmu pengetahuan. Membaca sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Sampai-sampai sang kakak, Titi Sri Sulaksmi sering kesulitan untuk mengajak Habibie bermain di luar. Bukannya Habibie tak pernah bermain hanya saja kecintaannya pada buku sungguh sangat kuat. Banyaknya buku yang tersedia di rumah membuatnya sering larut sendiri. Ketekunannya saat itu pun menjadi bekal paling dasar akan kesuksesannya di masa depan.

Dengan hadirnya internet, generasi modern saat ini bisa belajar dan mendapatkan sumber informasi dengan sangat mudah. Hanya saja, kemudahan itu juga hadir dengan godaan. Ada banyak sumber hiburan dan kesenangan yang bisa didapat di internet. Alhasil, kalau tak bisa benar-benar mengendalikan diri, kita akan lebih terlena untuk bermain-main dan bukannya belajar. Padahal untuk masa depan yang lebih cemerlang, belajar seharusnya sudah jadi sebuah kebutuhan.

Ada info menarik nih!
Pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang dilaksanakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2006 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat.

Memiliki Tujuan Pasti dalam Hidup

Penting sekali untuk memiliki tujuan pasti dalam hidup. Mengenai apa yang paling ingin dicapai dan diwujudkan. Lalu, benar-benar berjuang untuk  mengejar dan mendapatkannya. Seperti kisah Habibie semasa kecil. Saat duduk di bangku sekolah, ia sudah tahu dengan pasti cita-citanya. Ia ingin menjadi insinyur. Hasrat dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuatnya berani untuk menetapkan sebuah tujuan.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memiliki tujuan hidup yang pasti? Apakah tujuan hidup kita bisa memberi arti pada negeri? Atau malah selama ini kita hanya membuat angan kosong dan menjalani hidup tanpa makna?

kutipan habibie 2

Keterbatasan Tak Perlu Dijadikan Halangan

Habibie pernah tidur beralas tikar saat tinggal dengan pamannya di Jakarta. Saat itu, oleh ibundanya, Habibie pindah ke Jakarta untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Habibie terpaksa tidur di ruang tamu karena kondisi keluarga pamannya yang banyak anak. Setelah itu, ia pindah ke Bandung dan tinggal di keluarga Syamsuddin, kepala Kantor Tera untuk Indonesia di Bandung.

Usai lulus ujian SMA tahun 1954, Habibie berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia bidang elektronika di Bandung yang kini namanya menjadi Institut Teknologi Bandung. Enam bulan belajar di sana, ia kemudian berhasil mendapat izin belajar di Jerman dari Kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi. Itu bukan berarti ia bisa belajar di Jerman dengan gratis sepenuhnya. Habibie diberi kemudahan oleh Mendikbud untuk membeli valuta asing sebagai biaya menempuh pendidikan selama di Jerman. Sementara untuk biaya berangkat dan biaya hidup, ia harus menanggungnya sendiri.

Walau tak mendapat beasiswa penuh saat belajar di Rheinisch Westfaelische Technische Honchschule Aachen, Fakultet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman, Habibie tetap bisa berjuang hingga lulus dengan nilai magna cum laude. Keterbatasan biaya tak menyurutkan semangatnya. Justru jadi lecutan dan motivasi untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya sebaik dan secepat mungkin.

Membangun Negeri adalah Tugas Anak Bangsa

Karier Habibie terus naik setelah lulus kuliah. Jabatan sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi pernah disandangnya saat bekerja di perusahaan pesawat pengangkut sipil dan militer Hamburger Flugzeugbau Bay (HFB) yang bergabung dengan perusahaan pesawat tempur milik keluarga Messerschmidt di Augsburg dan perusahaan pesawat helikopter dan senjata milik keluarga Bolkow di Stuttgart bergabung menjadi perusahaan Messerschmidt Bolkow Blohm atau MBB. Namun, dengan jabatan yang tinggi tersebut, tersimpan keinginan untuk bisa pulang ke Indonesia dan membangun negeri.

Sampai pada suatu hari, Habibie bertemu dengan Ibnu Sutowo di Dusseldorf pada bulan Desember 1973. Habibie tercekat ketika Direktur Utama Pertamina tersebut berkata, “Di Indonesia, orang-orang sedang membangun, kamu kok malah di sini?” Bertahun-tahun hidup dan bekerja di Jerman, akhirnya jiwa nasionalismenya kembali bangkit. Habibie pun kembali ke bumi pertiwi.

kutipan habibie 3

Kita terlahir sebagai seorang Indonesia, jadi kalau bukan kita sendiri siapa yang akan membangun negeri ini? Seorang Habibie pun yang sudah sukses dan berkarier gemilang Jerman rela kembali ke ibu pertiwi untuk Indonesia yang lebih baik.

Pemuda Zaman Sekarang Memiliki Tantangannya Sendiri

“Perbedaan paling mencolok karakter pemuda zaman sekarang dengan zaman Habibie muda dulu adalah bahwa pemuda zaman Habibie tidak materialistik, lebih sadar pada nilai-nilai budaya, nilai-nilai Pancasila, rendah hati, dan mempunyai rasa malu!” (Pemuda Zaman Sekarang, Habibie: Tak Boleh Kalah dan Kalah). Setiap zaman dan generasi memiliki tantangannya sendiri. Terlebih semakin modern dan dinamis sebuah zaman, tantangan dan perjuangannya akan makin berat.

kutipan habibie 1

Belajar dari mental juang Habibie, perjalanannya hingga bisa sukses dan tetap dihormati hingga usia senja, semua itu sebenarnya sudah bisa jadi bekal yang cukup untuk membuat kita bersemangat berkarya membangun negeri. Melakukan sesuatu yang kita bisa dan kuasai untuk kehidupan yang lebih baik. Membuat hidup lebih berarti lagi.

Jadi, karya terbaik apa yang akan kita buat untuk tanah air tercinta?

Bagaimana Naskah Diterima Penerbit dan Lolos Diterbitkan?

Bagaimana caranya agar naskah bisa diterima penerbit?

Bagaimana supaya tulisan kita bisa diterbitkan?

Bagaimana sih proses sebuah naskah bisa lolos dan diterbitkan?

Saya memang tak punya banyak pengalaman soal dunia penerbitan buku. Namun, pengalaman beberapa bulan menjadi editor buku di sebuah penerbit di Bandung sekitar empat tahun lalu sudah cukup memberi saya gambaran akan dunia penerbitan. Jadi, sekarang saya akan berbagi pengalaman soal bagaimana sebuah naskah bisa diterima penerbit lalu lolos diterbitkan.

Oh iya, setiap penerbit pastinya punya prosedur sendiri soal tata cara dan ketentuan menerbitkan sebuah naskah. Tapi kurang lebih gambarannya adalah seperti yang akan saya utarakan berikut ini.

Kirimkan Naskahmu!

Mau tulisanmu diterbitkan? Ya, kirimkan naskahmu ke penerbit. Caranya bisa macam-macam tergantung kebijakan setiap penerbit. Ada yang bisa menerima via e-mail tapi ada juga yang harus dalam bentuk hard copy. Pastikan dulu naskah yang kamu buat memang sesuai dengan visi misi atau sehati dengan penerbit yang akan kamu tuju.

Sewaktu saya  menjadi editor dulu, saya pernah mendapat kiriman beberapa naskah novel. Ada yang bagus tapi karena tidak sesuai dengan semangat yang diusung oleh penerbit tempat saya bekerja, mau tak mau naskah tersebut harus saya tolak. Setiap penerbit punya warna dan gaya berbeda. Kalau mau mengirim naskah ke sebuah penerbit, pastikan naskahmu membawa “nyawa” yang sama seperti penerbit tersebut.

Hubungi Editor Penerbit

Kalau mau agak repot sedikit, nggak ada salahnya untuk coba menghubungi editor penerbit yang kamu incar. Kamu bisa tanya-tanya soal naskah yang sedang dibutuhkan. Syukur-syukur kamu bisa melobi atau menawarkan diri untuk menulis naskah sesuai dengan permintaan editor.

Dulu pernah saya didatangi oleh seorang penulis. Ia datang ke kantor dan langsung mencari editor yang menerima naskahnya (tak lain adalah saya sendiri). Dia menanyakan soal naskahnya. Juga tentang kemungkinan apakah naskahnya akan diterbitkan atau nggak. Waktu itu saya agak deg-degan sebenarnya karena sejujurnya naskahnya belum saya baca semua, cuma sempat dibaca sekilas. Jadi waktu ngobrol pun, saya bilang kalau memang naskah dia akan diterbitkan pastinya akan saya hubungi. Tampaknya si penulis ini pengen banget naskahnya diterbitkan. Sampai-sampai dia tanya soal berapa juta sih biaya yang dikeluarkan untuk menerbitkan sebuah buku. Wah, itu anu…

Menurut pengalaman saya, dalam kurun waktu satu tahun penerbit pasti sudah punya rencana soal buku apa saja yang akan diterbitkan. Setidaknya sudah bikin rencana tentang naskah apa saja yang ingin dicari. Setelah itu, penerbit akan mencari atau menghubungi penulis yang sekiranya bisa menulis naskah yang diinginkan penerbit. Penerbit kemudian bikin perjanjian tentang penulis tersebut terkait dengan deadline dan sejumlah aturan. Jadi, tugas editor lebih mudah. Tinggal kerja bareng saja sama penulis yang sudah ditentukan.

Setiap Naskah Pasti Akan Diseleksi

Setiap naskah yang masuk pasti akan diseleksi. Tak hanya soal ide ceritanya saja tapi juga soal penggunaan bahasa. Misal nih ya, kalau naskahnya terlalu banyak typo atau salah tanda baca, hm… sepertinya bakal langsung diabaikan. Naskah yang masuk ke redaksi juga nggak cuma satu atau dua saja. Bisa belasan bahkan mungkin bisa ratusan. Penting untuk memastikan naskah yang kamu kirim sudah matang, minimal ejaan dan tanda bacanya sudah sempurna.

Naskah ditolak? Jangan sakit hati. Mungkin  masalahnya bukan karena naskahmu nggak bagus tapi karena nggak berjodoh saja. Kamu bisa tanyakan alasannya kenapa naskahmu ditolak. Kalau kamu bertanya dengan sopan dan baik pada editornya, yakin deh kamu akan mendapat penjelasan.

Saya dulu sudah beberapa kali menolak naskah via e-mail. Ada satu penulis yang tampaknya tersinggung saat itu. Sebelumnya dia cukup intens mengirim e-mail pada saya terkait dengan perkembangan tulisannya. Tapi karena memang tulisannya tak cocok dengan kebutuhan di penerbit saat itu, dengan terpaksa saya menolaknya. Sejak e-mail penolakan dari saya itu, ia tak pernah lagi mengirim e-mail lagi. Apakah saya terlalu kejam, ya?

Setelah Naskah Dinyatakan Diterima, Jangan Senang Dulu!

Ketika naskahmu akhirnya diterima penerbit, jangan senang dulu. Justru pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Kamu akan terus didampingi dan dikawal oleh editor. Bahkan mungkin kamu sebagai penulis harus melakukan sejumlah revisi dan perbaikan di naskahmu sesuai dengan permintaan editor. Diskusi hingga berdebat pun mungkin akan terjadi.

Tapi justru di sinilah proses kreatif yang menyenangkan itu terjadi. Seperti menantikan bayi dalam kandungan untuk segera lahir, ada rasa deg-degan, antusias, dan cemas yang bakal kamu rasa. Meski harus begadang untuk menyelesaikan revisian atau harus lembur untuk memperbanyak dan memperdalam riset, semua akan terbayar dengan manis pada akhirnya nanti.

Penting juga untuk memastikan soal royalti dan perjanjian. Apakah naskahmu memakai sistem jual putus atau royalti  sekian persen? Hal ini penting untuk didiskusikan. Harus ada perjanjian tertulis, hitam di atas putih. Bagaimana pun kamu berhak untuk mendapat imbalan atas karyamu.

Pantang Menyerah Sebelum Naskah Diterbitkan

Ingin naskahmu diterbitkan dan tulisanmu dibaca banyak orang? Ya, jangan pantang menyerah. Terus mencoba. Gagal? Coba lagi. Ditolak? Coba cari pintu lain. Tips dan kuncinya memang sederhana tapi untuk bisa melakukannya sungguh bukan hal yang mudah.

Jadi, sudah siap untuk mengirim naskahmu ke penerbit?

***

image credit: pexels

7 Langkah Menulis Esai yang Super Mudah

Menulis memang soal latihan. Belajar teori saja tak akan pernah cukup kalau tidak langsung mencobanya langsung. Ibaratnya ya seperti naik sepeda. Selamanya kita nggak akan bisa naik sepeda kalau cuma baca panduannya saja tanpa mencoba langsung turun ke jalan dengan mengayuhnya.

Kali ini kita akan sama-sama belajar soal langkah-langkah menulis esai yang sempurna. Kathy Livingston dalam Guide to Writing a Basic Essay memaparkan ada tujuh langkah yang perlu kita ikuti untuk menulis sebuah esai yang efektif. Langkah-langkahnya ternyata cukup sederhana dan bisa langsung kita coba.

1. Memilih Topik

Tentukan dan tetapkan topiknya. Kita perlu tujuan dalam menulis esai. Esai yang ditulis harus punya misi. Apa yang ingin kita sampaikan melalui esai kita? Topik apa yang akan kita jabarkan dalam tulisan kita? Kalau perlu kerucutkan lagi topik tersebut sampai menemukan sebuah fokus utama.

2. Buat Diagram untuk Bakal Esaimu

Buatlah diagram. Ambil selembar kertas, tulis topikmu di tengah halaman. Lalu buat tiga atau lima cabang dari topik tersebut lalu buat ide pokok untuk setiap cabangnya. Kalau ada hal-hal yang mau ditambahkan bisa langsung bikin cabang-cabang baru.
Atau kita juga bisa tulis topik kita di bagian paling atas halaman, kemudian di bawahnya langsung kita tuliskan ide pokok apa saja yang ingin kita sampaikan. Lengkapi setiap ide pokok dengan info-info penunjang atau yang akan dibutuhkan.

3. Tulis Pernyataan Esai (Essay Statement)

Sudah punya topik dan gagasan yang ingin disampaikan, sekarang saatnya bikin pernyataan esai. Pernyataan esai ini ibaratnya pusat atau kepala dari esaimu nantinya. Biasanya cuma terdiri dari satu kalimat yang memiliki dua bagian, yaitu topik dan poin esaimu.
Sebagai contoh, kamu mau menulis soal tips sukses wawancara kerja. Pernyataan esaimu bisa seperti ini, “Untuk sukses dalam wawancara kerja, ada lima hal utama yang perlu dipersiapkan.” Pernyataan esai inilah yang akan jadi panduan utama para pembacamu ketika membaca esaimu.

4. Tulis Poin-Poin untuk Setiap Paragraf

Setiap paragraf memiliki struktur yang sama. Mulai dari ide pokok, lalu berlanjut ke poin-poin yang menjabarkan, menjelaskan, dan mendukung ide pokok tersebut. Pastikan isi paragraf mendukung ide pokok yang sudah ditulis sebelumnya.

5. Tulis Bagian Pembukanya

Sudah punya kerangka tulisannya, kini bikin bagian pembukanya. Sebisa mungkin bikin kalimat yang langsung menarik perhatian pembaca. Entah itu dengan menampilkan sebuah informasi, dialog, cerita, kutipan, atau mungkin ringkasan singkat topikmu. Apapun sudut pandang yang kamu ambil, pastikan tidak menyimpang dari pernyataan tesis yang sudah dibuat.

6. Tulis Kesimpulannya

Kesimpulan ini berisi penutup dari topikmu juga rangkuman dari semua gagasan yang kamu paparkan. Paragraf kesimpulan ini bisa terdiri dari tiga atau lima kalimat saja yang mewakili semua. Beri penekanan lagi yang mengacu pada pernyataan tesismu.

7. Perhatikan Hal-Hal Kecil yang Mungkin Terlewat

Cek lagi urutan dan logika esaimu. Perhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewat. Cek lagi apakah semua info yang kamu butuhkan sudah terpenuhi semua. Jangan sampai ada paragraf yang isinya acak-acakan tak karuan.

Oh ya, setelah esaimu jadi, pastikan kamu menyempatkan waktu untuk mengeditnya lagi. Kalau bisa minta bantuan seseorang yang lebih berpengalaman untuk membantu memoles atau memberi masukan pada esaimu.

Tapi yang terpenting dari semua adalah menulislah sekarang juga. Detik ini juga. Sekalipun itu hanya satu kalimat.

***

image credit of headline: pixabay

3 Tips Menciptakan Tokoh Utama yang Memikat untuk Karya Fiksi Terbaikmu

Lagi ubek-ubek Pinterest dan nemu ini. Tentang tips membuat karakter utama untuk sebuah karya fiksi. Pas banget nih buat yang sedang punya rencana untuk nulis cerpen atau novel.

7886156f884a19082305851a28ce8589

Image Credit: Pinterest

Secara umum ada tiga tips untuk membuat karakter utama yang menarik dalam sebuah karya fiksi.

1. Punya Keunikan

Poin pertama ini penting sekali. Si tokoh utama harus unik. Beda dari yang lain. Punya sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang lain pada umumnya.

Sisi unik ini bisa digali dari berbagai macam cara. Mulai dari soal penampilan atau karakter wajah, kepribadian, atau kebiasaannya. Kalau kita membaca sebuah novel, pastinya yang jadi perhatian utama kita adalah tokoh utamanya. Kalau tokoh utamanya biasa saja dan cenderung membosankan, wah ya sudah alamat novel itu nggak akan dibaca sampai habis.

2. Beri Dia Konflik

Biasanya dalam sebuah karya novel, yang diperhatikan dan paling memikat pembacanya adalah bagaimana cara si tokoh utama berjuang dan mengatasi masalahnya. Kalau hidupnya terlalu sempurna, kesannya malah jadi terlalu dibuat-buat. Beri masalah pada tokoh utama tersebut. Kasih dia sesuatu yang menantang. Lalu kemudian giring dia untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang bermunculan saat dia fokus menuntaskan masalahnya.

Ketidaksempurnaan ini bisa digali dari masa lalu si tokoh, masa sekarang yang sedang dijalaninya, atau kecemasan masa depannya. Munculkan konflik dari masalah yang ia punya. Lalu perlahan uraikan konflik itu hingga mencapai titik selesainya masalah.

3. Pribadinya Jangan Dibikin Sempurna

Tak ada manusia yang sempurna, begitu pula dengan tokoh utama dalam sebuah karya fiksi. Namun dari sebuah ketidaksempurnaan tersebut, ada banyak hal yang bisa diperdalam. Mulai dari soal usahanya mengatasi (atau menutupi) kekurangannya tersebut. Atau konflik-konflik yang justru muncul karena ada sisi gelap di kepribadiannya tersebut.

Nah, jadi sudah siap untuk bikin tokoh utama yang memikat hati?

[Image credit of headline: pexels]

Bagaimana Cara Cepat Mahir Bahasa Inggris?

Sewaktu PPL atau saat dulu memberi les, banyak murid yang bertanya, “Bagaimana supaya pintar bahasa Inggris?” “Bagaimana biar mahir berbahasa Inggris?”

Jujur saja saya sempat agak ragu menjawab pertanyaan itu. Saya sendiri pun belum mahir-mahir amat berbahasa Inggri, jadi kalau ditanya itu rasanya belum sepenuhnya pede ngasih jawaban, hehe. Satu-satunya jawaban yang paling aman adalah “lakukan yang berkaitan dengan hobi atau sesuatu yang kamu suka.” Kalau suka mendengarkan lagu, ya perbanyaklah mendengarkan lagu berbahasa Inggris. Kalau suka baca novel, baca novel yang berbahasa Inggris. Suka nonton film? Tonton film barat tanpa harus menggunakan subtitle bahasa Indonesia.

Ada banyak cara sebenarnya untuk bisa belajar dan mahir bahasa Inggris. Namun, menurut saya ada tiga cara yang paling ampuh untuk bisa cas cis cus bahasa Inggris.

1. Ikut Kelompok Studi

Harus dipaksa dulu. Buat bisa mahir bahasa Inggris sih intinya ya harus mau dipaksa belajar. Yang paling mudah adalah ikut kelompok studi atau bikin kegiatan belajar kelompok. Biasanya kalau ada teman yang bisa diajak belajar bareng, jadi lebih semangat buat belajarnya.

Ikut kelompok studi ini bisa bermacam-macam cara dan bentuknya. Mulai dari ikut les, pergi ke kampung Inggris di Pare, Kediri, atau membentuk geng sendiri dengan teman-teman. Enaknya belajar bahasa Inggris bareng ini adalah bisa saling koreksi kalau ada yang salah juga bisa saling belajar satu sama lain. Akan lebih optimal lagi kalau ada tutor atau seseorang yang memang sudah terbukti mahir berbahasa Inggris untuk jadi ketua atau penunjuk jalan yang benar biar nggak tersesat.

2. Hubungkan dengan Hobi Pribadi

Seperti yang sempat saya ungkapkan di atas, salah satu cara bisa cepat mahir berbahasa Inggris adalah sesuikan atau hubungkan dengan hobi pribadi. Dengan begitu, belajar bahasa Inggris akan terasa lebih fun dan tak membebani.

Banyak teman saya yang keren bahasa Inggrisnya karena mereka sering main game. Dari main game itu mereka secara tidak langsung nyemplung untuk belajar bahasa Inggris karena instruksi dan informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Bisa juga gabung ke kegiatan atau komunitas yang mengedepankan bahasa Inggris. Misalnya saja bergabung di kelompok debat bahasa Inggris. Sudah terbukti mereka yang sering ikut lomba debat bahasa Inggris, kemampuannya khususnya dalam hal speaking jadi lebih super. Kaitkan dengan hal yang kita suka, maka belajar bahasa Inggris nggak akan terasa terlalu membebani.

3. Nulis!

Yang ini mungkin agak bikin stres duluan, ya. Boro-boro menulis dengan bahasa Inggris, menulis pakai bahasa Indonesia saja masih belepotan. Tapi justru cara ini bisa dibilang salah satu yang paling efektif untuk belajar bahasa Inggris secara utuh.

Saat nulis dalam bahasa Inggris, kita akan dipaksa untuk mengaplikasikan kemampuan grammar yang kita punya. Selain itu, penguasaan kosakata (vocabulary) dan kemampuan berpikir juga akan digunakan di sini. Apa yang sudah kita pelajari bisa kita ulang dan rangkum dalam sebuah tulisan. Agak pe-er memang tapi kalau bisa mencobanya, wah ada rasa puas tersendiri pastinya.

Jadi, mau belajar bahasa Inggris dengan cara apa, nih?

(Gambar dari SINI)

 

Menulismu dengan Hati atau Malah “Makan Ati”?

Tak hanya sekali sejumlah teman saya bilang kalau pekerjaan saya saat ini sudah sesuai dengan passion saya. Beberapa sahabat dekat saya jelas tahu kalau saya memang suka menulis sejak di bangku sekolah. Sekarang, ketika mereka tahu saya bekerja di bidang media dan kerjaan tiap hari nggak pernah jauh dari yang namanya menulis, mereka menganggap saya memang sudah di lahan yang tepat.

Tapi, tunggu dulu. Apakah saya juga sudah merasa berada di jalan yang benar? Apakah bidang yang saya cemplungi ini memang sudah sesuai dengan passion saya sendiri?

Dulu Saya Menulis dengan Suka-Suka

Dulu saya menulis karena memang saya suka. Menulis terasa membebaskan bisa membantu saya mengeluarkan semua uneg-uneg. Menulis bisa membantu saya mengeluarkan ampas pikiran. Setelah menulis, ada rasa lega yang luar biasa.

Menulis buku harian atau menulis di blog, dulu saya melakukannya karena suka. Suka-suka juga saya melakukannya. Tanpa harus mengikuti aturan tertentu atau patokan tertentu. Pokoknya nulis. Toh, saya menulis untuk diri saya pribadi. Jadi, orang lain nggak berhak ikut campur apalagi mengatur-ngatur cara saya menulis, begitu yang saya pikirkan dulu. Alhasil, hasil tulisan saya benar-benar tak beraturan dan sangat acak. Kalau saja setiap kepingan tulisan itu kembali dikumpulkan, mungkin akan jadi tumpukan lego yang masih belum disusun jadi apa-apa. Hanya sekumpulan isi pikiran yang masih acak-acakan, super berantakan.

Menulis seperti bermain. Menulis membantu saya untuk bernapas. Itu yang dulu saya rasakan.

Menulis dengan Tenggat Waktu

Gambar via nature.org

Gambar via nature.org

Berkuliah di jurusan bahasa, ada serangkaian mata kuliah writing yang harus saya ikuti saat itu. Mulai dari Writing I. Writing II, Writing III, hingga Extensive Writing. Tugas dan ujian utama di mata kuliah itu apalagi kalau bukan menulis. Ada aturan menulis yang harus diikuti. Ada pakem-pakem tertentu yang harus dipelajari untuk membuat tulisan yang bagus. Pastinya juga ada tenggat waktu yang harus selalu dipatuhi.

Suka menulis bukan berarti suka juga ketika menulis karena keharusan dan demi deadline. Kalau dulu menulis bisa membuat saya bebas berlarian ke mana saja, kini menulis jadi harus membuat saya mengikuti alur tertentu, ada jalur tertentu. Nekat lari-larian bakal menabrak pembatas dan penghalang yang ada. Tapi di kelas-kelas writing tersebut, saya memang banyak belajar. Belajar membuat tulisan yang memang layak dibaca dan bisa memberi manfaat buat orang lain.

Menulis dengan diberi tenggat waktu memang memberi tekanan tersendiri. Saya jadi teringat pengalaman dulu waktu jadi editor buku. Ada seorang penulis yang sebenarnya berpotensi sekali untuk menghasilkan sebuah buku. Tapi dia tak mau mengambil peluang tersebut. Alasannya karena ia tak suka menulis jika diberi deadline. Padahal dari sisi redaksi, penting sekali untuk memastikan setiap pekerjaan dan penulisan bisa selesai sesuai dengan waktu yang sudah direncanakan. Agar proses berikutnya bisa berjalan lancar dan buku bisa diterbitkan tepat waktu tanpa harus tumpang tindih dengan pekerjaan lain.

Ketika Alasanmu Menulis adalah Karena Butuh Uang

Gambar via homecrux.

Gambar via homecrux.

Ada masa-masa ketika saya memang mengandalkan kemampuan menulis untuk mendapatkan uang. Saat itu saya ikut bergabung ke semacam agen penulis. Jadi setiap hari saya mendapat rincian artikel apa saja yang harus saya buat dan selesaikan di hari yang sama. Topiknya pun sangat beragam nggak karuan. Entah karena saat itu saya masih dodol atau memang butuh uang (atau memang karena keduanya), saya mau saja mengerjakan semua itu dan memang jelas ada uang yang saya dapat setiap kali selesai menyelesaikan semua proyek. Uang dapat tapi kepuasan batin? Wah, nol besar! Nggak ada rasa bahagia atau puasnya sama sekali.

Saat itu rasanya saya bukan manusia, tapi robot tukang ketik. Apa yang saya tulis seolah tak ada aliran emosinya sama sekali. Jari-jari saya pun rasanya bergerak dengan sendirinya, otomatis. Saat tulisan sudah selesai dibuat pun, sudah nggak ada rasa lega apalagi bahagia. Yang saya rasa cuma semacam ada kepulan asap panas yang menyembul dari ubun-ubun setiap kali selesai menulis.

Mungkin masalah utamanya bukan karena menulis untuk dapatkan uang. Tapi karena ada sejumlah hal yang hilang dari proses menulis itu sendiri: emosi, hati, perasaan, dan apresiasi. Saya sih jelas bahagia dapat uang dari hasil menulis. Tapi ketika menulis dilakukan “tanpa nyawa” rasanya jadi nggak ada gunanya juga menulis.

Menulismu dengan Hati atau Malah “Makan Ati”?

Gambar via blogspot.

Gambar via blogspot.

Dulu, bagi saya saat yang tepat untuk menulis adalah ketika pikiran tenang dan bisa benar-benar fokus. Berada di ruangan yang sejuk dan tenang, lalu fokus merangkai jalinan kata. Tak ada gangguan apalagi suara gaduh. Saya termasuk tipe orang yang daya konsentrasinya gampang buyar kalau ada suara berisik di sekitar saya (suara berisik ya, bukan musik). Apalagi kalau ada orang yang ngobrol atau mengajak saya ngobrol, buyar sudah semua hal yang tadinya akan saya tulis. Paling sebal lagi kalau ada orang yang malah menggosip saat saya sedang menulis, duh rasanya ingin meledak saja isi kepala dan emosi dalam dada, hehe.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mau tak mau harus berusaha untuk beradaptasi menulis di berbagai situasi. Dengan adanya sejumlah target yang harus dicapai, adanya tolak ukur saat keberhasilan sebuah tulisan dinilai dengan angka-angka, dan juga kondisi yang membuat saya belum bisa punya kendali penuh untuk menyesuaikan situasi sesuai dengan keinginan hati, “menulis dengan hati” sepertinya jadi hal yang makin jauh dari jangkauan saya. Bahkan bisa terlihat jelas tulisan saya yang mana yang ditulis saat pikiran sedang jernih dan mana yang ditulis saat sedang super jenuh. Sedihnya, kadang menulis jadi terasa “makan ati”. Ada saat-saat tertentu, menulis membuat saya merasa terpenjara. Tak berdaya di dalam jeruji dan tak berkutik. Sesak sekali rasanya. Mungkin saya terlalu naif atau penuntut, ah ya ini memang masih jadi kelemahan saya.

Terlepas dari semua, saya akan menjadikan semua pengalaman itu sebagai batu bata. Saya akan menumpuk batu bata itu satu per satu. Mengerjakannya setiap hari meski kadang tubuh rasanya sudah terasa amat lelah. Hingga nanti saya bisa membangun rumah atau malah kastil dari tumpukan batu bata yang sudah saya susun. Lalu saya akan memiliki sudut saya sendiri, sudut yang sejuk untuk bisa membebaskan saya menulis lebih banyak hal dengan kejujuran dan ketulusan hati.

If you feel like running
The grass is greener inside your heart
And I’ll be there if it falls apart
Love who you’re becoming
Sometimes we win but sometimes we fall
Story still remains untold
(Be Somebody, Boyce Avenue)

Sumber gambar headline: thewritepractice.

“Bagaimana Caranya Menjadi Penulis?”

Pertanyaan ini sering saya dengar juga saya tanyakan pada diri sendiri. Bagaimana caranya menjadi penulis? Bagaimana agar tulisan bisa disukai dan dibaca banyak orang? Apakah menyenangkan jadi penulis? Atau jangan-jangan justru jadi penulis itu tak semudah kelihatannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih sering muncul di benak saya. Dan sebuah tulisan dari Fahd Pahdepie ini sungguh menggugah. Saya repost di sini tulisannya.

 

Dalam banyak kesempatan seminar atau bedah buku, seringkali saya mendapatkan pertanyaan yang senada, “Bagaimana caranya menjadi penulis?”

Saya tak pernah bercita-cita menjadi penulis, sebenarnya, meski sejak kecil saya selalu memimpikannya. Setiap kali membaca sebuah buku yang saya sukai, saya selalu penasaran dengan orang yang menuliskan semua itu: Betapa hebat mereka karena bisa memikirkan sesuatu yang belum orang lain pikirkan. Dan jika pun ada orang lain yang sudah memikirkannya, para penulis tetap lebih hebat karena sudah menuliskan pikirannya menjadi kata-kata—menjadi cerita!

Tapi… “Apa bedanya impian dan cita-cita?” Suatu hari seorang peserta seminar saya bertanya. Saya berpikir sejenak, tak ingin memberikan jawaban standard yang mengecewakan. Beberapa detik kemudian, saya menjawab pertanyaan itu dengan yakin: “Kau memimpikan sesuatu meski kau belum tahu apa itu sebenarnya, bagaimana persisnya, apa yang harus kau lakukan untuk meraihnya… Kau hanya menginginkannya, sungguh-sungguh menginginkannya.

“Cita-cita adalah sesuatu yang berbeda,” sambung saya, “Cita-cita terbentuk dari keinginan yang sudah bisa kau bayangkan. Ibarat kau ingin mencapai suatu tempat, kau sudah tahu petanya!”

Si penanya tampak tak puas dengan jawaban saya. Seperti juga Anda, barangkali. Tapi saya memutuskan untuk bersikukuh dengan jawaban itu. “Maaf bila jawaban saya kurang memuaskan,” ujar saya waktu itu, “Tapi itulah cara saya membedakan mimpi dan cita-cita. Saya mungkin tak pernah bercita-cita menjadi penulis, karena saya tak tahu caranya. Tapi saya selalu bermimpi ingin menjadi penulis!”

“Bukankah pemimpi adalah mereka yang hanya bisa bermimpi?” Si penanya mengejar saya dengan pertanyaan berikutnya.

“Mungkin,” jawab saya, “Tapi itu tidak buruk, kan? Dari pada tidak punya keinginan dan impian sama sekali.”

Si penanya mengangkat dua bahunya. Ia tampak belum puas.

“Mungkin punya cita-cita memang selangkah lebih maju. Tapi cita-cita hanya akan jadi sekadar kata-kata jika tak punya impian di dalamnya. Orang yang mati-matian mengejar cita-cita ibarat seorang pengemudi yang kerepotan mengikuti peta di tangannya. Bagus saja, sebenarnya. Karena toh peta itu akan membuatnya sampai ke tujuan. Tapi gara-gara peta itu mungkin saja ia tak menikmati perjalannya, kan?”

Si penanya mengangguk-angguk.

“Buat saya, orang yang punya impian adalah mereka yang menikmati perjalanan! Mereka tahu akan kemana. Mereka tahu apa yang mereka inginkan. Meski mereka tak pernah tahu persisnya. Mereka ragu-ragu. Mungkin tersesat di jalan. Mungkin mengambil jalan memutar. Mungkin perlu bertanya pada orang lain tentang arah yang benar. Mungkin harus bereksperimen dengan arah mata angina atau membaca cuaca. Tapi mereka akan punya perjalanan yang menakjubkan!”

Mungkin itulah yang membawa saya ke titik ini. Sekarang saya seorang penulis dan sudah punya beberapa buku yang di terbitkan—bahkan beberapa di antaranya berlabel best seller. Tapi saya tak punya formula untuk menjadi penulis! Kalau ditanya “Bagaimana caranya menjadi penulis?” atau “Bagaimana menerbitkan buku best seller?” Bah! Saya tak tahu jawabannya. Karena saya hanya seorang pemimpi. Seorang pengelana yang bahkan belum tahu apakah ia sudah sampai di tujuan atau belum—sebab nyatanya ‘tujuan akhir’ selalu berubah-ubah.

Dengan spirit itu pulalah saya membuat sebuah website bernama inspirasi.co, sebuah kanal digital yang memfasilitasi para pemimpi seperti saya untuk berbagi cerita di sepanjang perjalanan mereka. Di sana mungkin tak akan ditemukan jalan pintas untuk menjadi penulis hebat, juga tak akan ditemukan kertas resep menerbitkan buku best-seller. Di sana orang-orang hanya akan berkumpul, membagi karya mereka, menceritakan proses kreatif mereka, dan saling menginspirasi satu sama lain. Tentu saja kanal itu bukan hanya untuk penulis, tetapi juga kreator lainnya. Ada lima bentuk karya yang bisa diunggah ke sana: tulisan, foto, grafis, video, dan audio.

Satu-satunya jawaban terbaik yang bisa saya berikan jika ditanya “Bagaimana caranya menjadi penulis?” adalah ini: Mulailah memiliki pergaulan dan attitude seorang penulis. Untuk membentuk dua hal itu, Anda butuh teman, Anda butuh komunitas… Mungkin inspirasi.co bisa menjadi jawabannya dan para inspirator (member inspirasi.co) bisa menjadi sahabat yang terus menemani Anda dalam proses berkarya.

Bagi saya, berkarya, dalam bidang apapun, adalah proses terus menerus antara mengapresiasi dan diapresiasi. Ia merupakan perjalanan panjang yang meminta Anda untuk menerima lalu memberikan sesuatu… termasuk menerima komentar dan dikomentari. Semua itu akan membuat kita lebih matang dan dewasa dalam berkarya.

Akhirnya, untuk Anda yang memiliki impian untuk jadi penulis, kita punya nasib yang sama… Bergabunglah bersama saya. Mari saling bergandengan tangan sepanjang perjalanan.

Jakarta, 21 Maret 2016

FAHD PAHDEPIE

CEO Inspirasi.co

Tulisan asli bisa dibaca di SINI.

Sumber gambar headline dari SINI.

Ketika Zona Nyaman Tak Lagi Memberi Kebahagiaan

Pernah nggak kamu mengalami situasi seperti ini? Ketika kamu merasa sebenarnya sih semua berjalan baik-baik saja. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang rasanya hilang dari dirimu. Kepuasan dan kebahagiaan yang tadinya kamu pikir bisa kamu dapatkan, tiba-tiba digantikan dengan rasa kosong tanpa arti.

Kalau kamu pernah berada di situasi seperti itu, bisa saja itu karena sudah saatnya kamu keluar dari zona nyamanmu. Saatnya kamu mengambil sebuah tantangan baru dalam hidupmu. Zona nyaman yang saat ini kamu tinggali sudah tak lagi memberi kepuasaan apalagi kebahagiaan untuk batinmu.

Kamu butuh sesuatu yang baru dan lebih menantang dalam hidupmu.

“Life always begins with one step outside of your comfort zone.”
― Shannon L. Alder

Lingkaran Zona Nyaman Sudah Jadi Perangkap dan Penghambat Hidupmu

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

Ibaratnya saat ini kamu berada di sebuah lingkaran. Kamu tepat berada di tengahnya. Dari dalam lingkaran itu, kamu melihat jauh di sana ada sebuah gunung tinggi menjulang. Setiap pagi saat kamu melihatnya, matahari pagi di balik gunung itu bersinar mengalirkan rasa hangat ke seluruh alam semesta.

Ingin sekali kamu bisa melihat lebih dekat indahnya matahari dari balik gunung itu. Tapi syaratnya kamu harus keluar dari lingkaran yang kamu tinggali saat ini. Yah, di luar sana mungkin akan ada banyak bahaya yang akan kamu hadapi. Di luar lingkaranmu, kamu mungkin akan mengalami berbagai kesulitan. Tapi kalau kamu memang benar-benar ingin melihat keindahan yang baru, mau tak mau kamu harus berani melangkah keluar dari zona nyamanmu itu.

“Coming out of your comfort zone is tough in the beginning, chaotic in the middle, and awesome in the end… because in the end, it shows you a whole new world! Make an attempt.”
― Manoj Arora, From the Rat Race to Financial Freedom

Sebuah Pintu Baru Sedang Menunggumu

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

Ada pintu baru yang sedang menunggumu. Kalau kamu berani membukanya, kamu akan menemukan dunia yang baru. Dunia yang selama ini hanya ada dalam anganmu. Dan untuk bisa mencapai dunia itu, yang perlu kamu lakukan adalah keberanian untuk membukanya.

Kalau saat ini zona nyaman mulai membosankan, itu sudah jadi pertanda kalau kamu harus segera melakukan sesuatu. Berdiam diri saja tak akan mengubah apapun. Ambillah tantangan baru. Beranilah untuk melakukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya. Menakutkan dan berisiko memang. Tapi bukankah seekor lebah harus terbang kesana kemari mengalahkan rasa lelah untuk mendapat manisnya madu?

Yang Paling Menakutkan adalah Memulai, Tapi di Situlah Titik Baliknya

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

Rasa takut, ragu, dan cemas lumrah dialami setiap manusia. Saat kita kecil dulu, kita pasti awalnya takut untuk melangkah saat baru mulai belajar berjalan. Tapi ketika berhasil membuat satu langkah, kita akan mendapatkan titik baliknya. Langkah-langkah baru akan tercipta dengan dirinya sendiri. Rasa takut yang ada berubah jadi antusiasme baru karena berhasil melakukan sesuatu yang berbeda.

“Comfort is your biggest trap and coming out of comfort zone your biggest challenge.”
― Manoj Arora, From the Rat Race to Financial Freedom

Berani memulai untuk keluar dari zona nyaman, tak semua orang bisa melakukannya. Hanya mereka yang ingin mendapatkan kehidupan dan masa depan yang lebih baik yang bisa melakukannya.

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

Kalau kamu sudah mulai kehilangan semangat menjalani hari-harimu, tak ada lagi makna yang bisa kamu dapat dari aktivitasmu, atau merasa ada kepingan yang hilang dari dirimu, saatnya kamu keluar dari zona nyaman yang sudah lama menjebakmu.

Hidup hanya sekali. Setiap detik yang ada sungguh sangat berharga dalam hidup. Ada banyak kesempatan baru yang bisa kamu dapat atau ciptakan. Hanya saja tinggal bagaimana kamu membuat pilihan: terus berdiam diri di zona nyaman atau bergerak membuka pintu baru mendapatkan kebahagiaan baru. You decide!

Museum Malang Tempo Doeloe, Ada Apa Saja di Dalamnya?

Museum Malang Tempo Doeloe
Alamat: Jl. Gajahmada, Kidul Dalem, Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia
Telepon:+62 341 6802301

Sudah lama saya mendengar tentang museum ini. Tapi baru beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk mengunjunginya. Cukup penasaran juga sebenarnya ada apa saja sih di dalam museum ini?

Dari namanya saja sudah bisa tertebak kalau di museum ini kita bisa melihat berbagai peninggalan sejarah, khususnya semua yang berkaitan dengan Malang. Saya sendiri sebagai orang asli Malang sebenarnya tak banyak tahu tentang sejarah kota sendiri. Jadi ketika akhirnya bisa mengunjungi museum ini cukup excited juga sebenarnya.

Menurut info yang saya dapat, museum ini diresmikan tanggal 22 Oktober 2012. Museum biasanya identik dengan kesan membosankan dan angker. Tapi di Museum Malang Tempo Doeloe ini kesan angker terkalahkan dengan desain interior yang apik dengan cita rasa modern. Di museum ini kita bisa tahu urutan sejarah kota Malang yang cukup lengkap. Mulai dari zaman purbakala 1,5 juta tahun lalu, masa kejayaan sejumlah kerajaan, hingga masa penjajahan.

Sebenarnya memang paling afdol keliling museum ini ditemani dengan pemandu. Jadi kita bisa mendapat banyak informasi yang lebih lengkap tentang urutan sejarah dan berbagai silsilah kerajaan. Saat itu saya cukup beruntung bisa mengikuti rombongan dengan seorang pemandu. Meski saya nggak bisa mengingat semua penjelasan sejarahnya, tapi jadi cukup menarik bisa mengikuti alur sejarah di dalam museum tanpa tersesat atau kebingungan.

Ditemani pemandu di Museum Malang Tempo Doeloe.

Ditemani pemandu di Museum Malang Tempo Doeloe.

Yang paling menarik di museum ini adalah benda-benda peninggalan sejarahnya. Mulai dari mesin ketik hingga kamera yang super jadul. Saya paling suka dengan mainan-mainan tradisionalnya yang mengingatkan saya akan masa-masa dulu ketika belum mengenal internet, komputer, apalagi ponsel.

Barang wajib yang harus dibawa ke museum ini adalah kamera atau minimal ponsel dengan kamera yang memadai.

Barang wajib yang harus dibawa ke museum ini adalah kamera atau minimal ponsel dengan kamera yang memadai.

Unik ya.

Unik ya.

Banyak hal menarik yang bisa diabadikan di museum ini.

Banyak hal menarik yang bisa diabadikan di museum ini.

Sekalipun kita tak suka pelajaran sejarah, jalan-jalan ke museum ini seru juga. Minimal bisa mendapat foto-foto unik dan kreatif. Pecinta fotografi nggak akan bosan untuk mengabadikan setiap sudutnya.

Oh ya, setelah dari museum, kita bisa menikmati aneka kuliner lezat di Restoran Inggil yang tak jauh dari lokasi museum. Atau mau jalan-jalan ke alun-alun tugu? Bisa banget! Tinggal ngesot saja langsung deh sampai ke salah satu alun-alun tercantik di kota Malang.

alun-alun malang

Info Tambahan:
Lokasi museum ini juga mudah terjangkau kendaraan umum. Kalau dari Terminal Landungsari bisa naik angkot jurusan AL atau ADL lalu turun di Alun-Alun Tugu. Kemudian, menyeberang ke arah balaikota lalu masuk ke gang Jalan Gajahmada. Jalan sedikit dan sampai deh di depan museum langsung. Sementara kalau dari Terminal Arjosari bisa juga naik angkot jurusan AL atau ADL. Nanti minta turun langsung di depan balaikota Malang. Lalu temukan Jalan Gajahmada dan tinggal jalan sekitar lima menit, sampai sudah di depan museumnya.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: