PenulisOnline.Com

Endah Wijayanti – Content Creator

Category: BUKU

Sehidup Sesurga – Fahd Pahdepie: “Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.”

Judul: Sehidup Sesurga
Penulis: Fahd Pahdepie
Penyunting: Gita Romadhona
Penyelaras aksara: eNHa
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer Cover: Jeffri Fernando
Ilustrator isi: Teguh Pandirian
Cetakan: pertama, Juni 2016
Jumlah halaman: 210
Penerbit: PandaMedia

“Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.” Baca kalimat itu, rasanya hati langsung meleleh. Siapa sih yang tak mau dicintai selama-lamanya dalam sebuah pernikahan yang sempurna? Hanya saja sekarang pertanyaannya, bisakah kita mendapatkan pernikahan yang sempurna? Sanggupkah kita bahagia selamanya dalam sebuah rumah tangga? Bagaimana kalau ternyata pernikahan tidak berjalan sesuai harapan? Atau malah bakal banyak konflik dan masalah yang terjadi?

Bagi yang akan menikah atau baru melangkah ke gerbang pelaminan, pasti ada perasaan tak menentu yang kita rasa. Antara bahagia tapi juga cemas. Deg-degan merasa tak sabar tapi juga dilanda ras gelisah. Menyimpan penuh harapan tapi juga takut terlalu menuntut kesempurnaan. Membuka sebuah lembaran baru yang masih kosong lalu kita takut sendiri untuk mengisi lembaran-lembarannya.

sehidup-sesurga-1

Sehidup Sesurga, buku kumpulan cerita karya Fahd Pahdepie ini ibarat sebuah jendela yang mengizinkan kita melongok soal kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang sederhana yang dibangun dengan cinta mengharap ridlo-Nya.

Buku ini dibagi menjadi delapan bagian, antara lain:

  1. Apakah Engkau Sudah Siap Menikah?
  2. Mengatur Langkah Setelah Menikah
  3. Membangun Rumah, Menyusun Tangga
  4. Musuh Dalam Satu Selimut
  5. Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa
  6. Sebab Tidak Ada Pernikahan Yang Sempurna
  7. Belajar Dewasa Dengan Menjadi Orang Tua
  8. Menjaga Harta Yang Paling Berharga

Tulisan-tulisan Fahd ini sepintas seperti curahan hati. Tapi ternyata ada refleksi, hikmah, dan proses pembelajaran di dalamnya. Topik yang dibahas juga tak jauh-jauh dari soal membangun cinta, menjaga cinta, serta menjalani peran sebagai orang tua. Hal-hal kecil dan sederhana tapi punya makna yang begitu dalam sebuah pernikahan.

Salah satu bagian yang paling berkesan menurut saya (dan yang mungkin sering digalaukan para jomblo) adalah tentang kesiapan menikah. Fahd membahas soal persiapan diri untuk menikah dan anjuran Rasulullah untuk berpuasa. Bagaimana dalam praktik puasa dari sahur hingga berbuka itu mengandung pelajaran tentang mempersiapkan diri untuk menikah. Ternyata ada pelajaran yang begitu berharga dari puasa, tak hanya sekadar menahan lapar dan haus. Rasanya benar-benar tersentil dengan ulasan dan tulisan tersebut.

sehidup-sesurga-2

Selain menceritakan kehidupan pernikahannya dengan istri tercintanya, Rizqa, Fahd juga menyelipkan cerita tentang pengalaman rumah tangga sahabatnya. Seperti dalam tulisan Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa, Fahd menceritakan sahabatnya yang makin rajin shalat setelah menikah. Dari pengalaman sahabatnya tersebut, Fahd mengambil sebuah hikmah berharga.

Mungkin dulu saat menegurmu, aku gagal menunjukkan bahwa aku mengajakmu shalat karena mencintaimu. Tapi, istrimu berhasil melakukannya! Istrimu mengajakmu karena ia begitu menghargai, menghormati sekaligus menyayangimu. Sementara, barangkali, dulu aku mengajakmu hanya ingin mengejar pahala atau sekedar jengah karena melihatmu tak sejalan dengan pengertianku tentang iman dan kebaikan.

Lalu di tulisan Ke Manakah Kita Berhijrah, di paragraf pembuka, Fahd menulis, “Bagi saya, pernikahan adalah sebuah ‘hijrah’. Setelah menikah, saya dan Rizqa memutuskan pergi dan berpisah dari kehidupan kami yang lama. Kami memulai hidup baru, menandainya dengan pergi dari rumah orang tua, ke mana saja asal tidak tinggal bersama mereka–yang tidak membebani dan merepotkan mereka. Kami ingin hidup mandiri, maka kami mengontrak sebuah rumah.” Dari situ kita kemudian akan memahami bahwa hijrah itu juga tak mudah. Butuh perjuangan dan banyak yang harus dihadapi. Meski perjuangannya tak mudah tapi selalu ada cara yang bisa ditempuh untuk hijrah jadi lebih baik.

Selain membahas soal cinta dan kehidupan pernikahan, Fahd juga menceritakan pengalaman serta kesehariannya menjadi orang tua. Betapa setelah menjadi orang tua, ada banyak proses pembelajaran yang diikuti. Pengalamannya sebagai orang tua jadi memberi gambaran umum yang bisa jadi bekal tiap pasangan yang sebentar lagi akan memiliki buah hati. Rasanya tak pernah bisa kita berhenti belajar saat sudah membangun keluarga.

Secara keseluruhan, buku ini sangat mudah dinikmati. Tak terlalu menggurui dan bisa membuka sudut pandang baru soal membangun rumah tangga. Hanya saja saya menemukan tulisan yang persis sama di halaman 133-134 dengan halaman 205-206, yaitu tentang nasihat seorang suami kepada istrinya. Hm, kurang tahu pasti kenapa, entah salah cetak atau memang sengaja dimuat dua kali.

Menurut pengalaman saya, Sehidup Sesurga ini bisa dibaca melompat-lompat, dalam arti tak harus berurutan dari tulisan pertama hingga terakhir. Karena setiap cerita memiliki makna sendiri. Mau membaca sesuai mood pun bisa. Kalau selama ini kita sering disilaukan dengan kisah-kisah romantis ala negeri dongeng yang rasanya cuma khayalan dan nggak akan pernah kejadian di dunia nyata, membaca Sehidup Sesurga menyadarkan kita bahwa dengan kisah yang sederhana kita tetap bisa bahagia membangun pernikahan yang indah.

Siapkah kita membangun rumah tangga kita sendiri menuju surga?

Review Buku “Perjalanan, Cinta, & Makna Perempuan”

Judul: Perjalanan, Cinta, & Makna Perempuan
Penulis: Nazura Gulfira
Editor: @fachmycasofa
Desain Sampul dan Isi: @wendyarief
Penata Letak Isi: @wendyarief & Diyantomo
Proofreader: Hartanto
Cetakan Pertama: Mei 2016
Penerbit: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Sebuah pembelajaran tidak selalu berjalan sebentar, tetapi kadang memerlukan proses yang panjang supaya bisa bertahan lama. Nikmati saja proses itu, tidak usah dihiraukan apa kata orang tentang kita dan proses yang kita jalani. Karena orang lain hanya melihat apa yang mereka bisa lihat dan dengar, tetapi tidak merasakan apa yang kita alami. Justru yang paling penting adalah diri sendiri dan orang-orang terdekat yang tahu, seberapa banyak kita berubah lebih baik.

 Setiap perempuan pasti memiliki kegalauannya sendiri. Mulai dari soal pendidikan, karier, cinta, hingga pergelutan batin sendiri. Sementara itu, setiap perempuan juga pasti punya sudut pandang, prinsip, dan juga motivasi diri dalam menjalani hidupnya masing-masing.Nazura Gulfira, dalam bukunya  mengupas berbagai sisi kehidupannya sebagai seorang perempuan. Buku yang berisi 14 judul tulisan Nazura ini tak lain adalah catatan harian yang tak lepas dari pengalaman-pengalamannya. Melalui berbagai pengalamannya, Nazura mengupas berbagai topik seperti soal beasiswa, hijab, hobi, kuliah di luar negeri, traveling,keluarga, jodoh, dan juga serba-serbi kehidupannya.

Tentang Dilema Pendidikan dan Jodoh
Dalam tulisan yang berjudul Perempuan, S3, dan Jodoh, Nazura memaparkan alasannya juga sudut pandangnya mengenai topik yang sering membuat pare perempuan dilema. Jodoh dulu apa lanjut kuliah? Menikah dulu atau mengambil beasiswa untuk kuliah lagi?

buku nazura 1

Menurut saya, topik ini sangat menarik. Pendidikan dan jodoh bisa jadi dilema tersendiri bagi seorang perempuan yang tak ada habisnya. Nazura pun memiliki sikap dan sudut pandang sendiri tentang hal ini. Memutuskan untuk lanjut S3 di usia yang masih muda dan belum menikah membuatnya harus bisa bertahan dengan berbagai komentar dari orang-orang di sekitarnya. Tak mudah memang. Tapi ia punya alasan tersendiri dan motivasi hingga membuatnya tetap kukuh dengan keputusannya tersebut.

Refleksi Diri dan Soal Menjadi Lebih Dewasa
Salah satu tulisan favorit saya di buku ini adalah yang berjudul Surat untuk Ayah-Bunda. Di tulisan ini, Nazura seperti melakukan semacam refleksi diri. Tentang berbagai pengalaman yang pernah ia dapatkan. Juga makna serta pelajaran yang ia peroleh dari tinggal di luar negeri, bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, dan perjalanan yang pernah ia lakukan.

buku nazura 2

Bahasanya Ringan, Seperti Membaca Buku Harian
Membaca buku ini menurut saya tak akan membuat kening berkerut. Bahasanya sangat ringan. Bahkan seperti sedang diajak mengobrol dengan sahabat dekat. Seolah kita sedang membaca buku harian teman dekat kita sendiri. Melalui tulisan-tulisannya, Nazura memberikan sudut pandangnya yang berbeda tanpa harus menghakimi orang lain.

Berbagai Gambar dan Foto Makin Mempercantik Buku Ini
Tata letak isi buku ini juga sangat cantik. Tak hanya berisi teks atau tulisan saja. Tapi juga dipercantik dengan berbagai gambar dan foto penunjang yang menarik. Benar-benar bikin nyaman mata.

buku nazura 3

Hanya saja pada halaman 110, saya menemukan sedikit typo.

  • “wah ini mah bakalan lapor lagi,” (Awalnya, saya sempat bingung dengan kata lapor karena konteks bahasannya adalah soal makanan. Setelah saya baca lagi, oh maksudnya “lapar” bukan “lapor”.)
  • Mulai dari yang tadinya harus minum 2-3 kali sehari, sekarang hanya 1-2 kali seminggu. (Sepertinya ada satu kata yang hilang dari kalimat tersebut. Rasanya agak kurang masuk akal kalau minum hanya 1-2 kali seminggu. Mungkin maksudnya minum minuman manis. Sehingga, kalimatnya menjadi, “Mulai dari yang tadinya harus minum minuman manis 2-3 kali sehari, sekarang hanya 1-2 kali seminggu.”)

Sayangnya, saya tak menemukan halaman data diri atau biodata penulis. Biasanya setelah membaca tulisan seseorang apalagi yang berbentuk catatan harian seperti ini, kita jadi penasaran dengan penulisnya dan ingin mengenalnya lebih dalam. Jadi menurut saya, kalau ada halaman data diri penulis Nazura, akan sangat memudahkan para pembaca yang ingin mengenal sosoknya lebih jauh.

Pada dasarnya, setiap perempuan itu unik dan istimewa dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selain itu, setiap perempuan juga punya hak untuk mengambil sikap dan menentukan pilihan dalam hidupnya. Buku Perjalanan, Cinta, & Makna Perempuansungguh membuka mata kita soal perempuan dan dilema serba-serbi yang menyertai hidup.

Overall, buku ini sangat ringan, menarik, dan menyenangkan untuk dibaca. Khususnya buat kamu yang lagi galau soal berbagai aspek dalam hidupmu.

“What I Talk about When I Talk about Running”: Lebih dari Soal Obsesi tentang Menulis dan Berlari

Judul Buku: What I Talk about When I Talk about Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: BENTANG PUSTAKA
Penerjemah: Ellnovianty Nine Sjarif & A. Fitriyanti
Penyunting: A. Fitriyanti
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa Aksara: Pritameani
Penata Aksara: Anik Nurchyati
ISBN: 9786022910862
Tahun Terbit: April 2016
Halaman: 198 Halaman
Berat: 0,16 Kg
Format: Soft Cover
Harga: 49 Ribu Rupiah di Gramedia Basuki Rahmat, Malang

Sempat dilanda “dilema” saat akhirnya buku What I Talk about When I Talk about Running ini akhirnya berada di tangan. Mau baca buku ini dulu atau lanjut nonton drama Korea, hehe. Beberapa bulan terakhir, waktu saya lebih banyak saya habiskan untuk menuruti hobi nonton drama Korea dibandingkan baca buku. Hingga akhirnya saya mencoba untuk “kembali ke jalan yang benar” dengan mulai rutin baca buku lagi. Nanti kalau sudah selesai baca buku, baru deh lanjut nonton drama Korea lagi (eh?)

Baca buku dulu atau nonton drama Korea dulu? Ah, baca buku dulu deh.

Baca buku dulu atau nonton drama Korea dulu? Ah, baca buku dulu deh.

Yups, karya Haruki Murakami ini langsung mencuri perhatian saya saat membaca resensinya di internet beberapa waktu lalu. Meski bisa dibilang saya bukan fans berat novel-novel karya penulis berdarah Jepang ini, buku What I Talk about When I Talk about Running menawarkan daya tarik tersendiri. Tak lain karena membahas soal menulis dan juga hobi lari. Apa hubungan keduanya? Ada kaitan apa antara soal menulis dan berlari?

Akhirnya awal Juni ini saya agendakan ke toko buku khusus untuk membawa pulang buku ini. Saat membaca halaman-halaman awalnya, saya pun langsung terpikat dan buku ini bisa jadi “amunisi semangat” baru di tahun 2016 ini.

Tapi penderitaan adalah pilihan.

Tapi penderitaan adalah pilihan.

Memoar Murakami tentang Obsesinya terhadap Menulis dan Berlari

Jadi buku ini isinya tentang apa? Buku ini merupakan memoar Murakami. Menurut saya, bisa dibilang karyanya ini lebih seperti buku harian yang berisi tentang pengalaman dan cara Murakami membuat refleksi kehidupan melalui kata-katanya. Murakami menceritakan soal keputusannya untuk rutin melakukan olahraga lari, keuntungan menekuni hobi berlari, dan kaitannya dengan proses kreatif serta kariernya sebagai seorang penulis.

Menulis novel

Menulis novel memiliki kemiripan dengan melakukan maraton penuh.

Ada banyak kalimat-kalimat yang sangat menggugah dari memoar ini. Bertebaran makna filosofis yang nggak bikin kening berkerut, malah bikin makin semangat. Cara Murakami membuat refleksi diri seakan membuat kita kembali berkaca pada diri sendiri. Kita ikut terbawa untuk kembali menanyakan soal kehidupan, karier, dan juga hakikat diri. Kalimat Murakami juga sangat mengalir (terima kasih banyak untuk penerjemah dan editornya), tak terkesan menggurui tapi kita seakan diajak ikut mengobrol santai dengan Murakami sambil menikmati segelas teh hangat.

Antara Musim Panas 2005 dan Musim Gugur 2006

Menyenangkan bisa membaca kisah seseorang yang sangat menginspirasi dari perjalanan hidupnya. Semua tulisan yang terkumpul di buku ini ditulis di antara musim panas 2005 dan musim gugur 2006. Murakami memaparkan kalau tulisan-tulisannya ini dibuat sedikit demi sedikit di sela-sela kesibukannya. Sembilan bab dalam buku ini membawa kita ikut bernostalgia melewati lorong-lorong perjalanan Murakami yang ditulis di Hawaii, Tokyo, Massachusetts, Hokkaido, Kanagawa, hingga Niigata.

Buku yang ringan tapi mengenyangkan.

Buku yang ringan tapi mengenyangkan.

Pada Akhirnya, Tak Sekadar Soal Obsesi tentang Menulis dan Berlari

Dalam salah satu bab, Murakami menceritakan kegagalannya dalam sebuah kompetisi lari maraton. Saat itu ia sudah merasa sangat siap untuk mengikuti lomba tersebut. Namun, saat jarak tempuh tinggal 5 km lagi, ia mengalami kram kaki yang sangat parah. Ada pergulatan batin yang ia alami. Antara menyerah saja dan naik bus yang sudah disediakan panitia atau lanjut ke garis finish meski harus dengan berjalan dan mendapat catatan waktu yang buruk. Akhirnya, ia memilih untuk lanjut. Saat itu musim dingin, sungguh perjuangan yang berat menuntaskan kompetisi dengan kondisi seperti itu.

Pada akhirnya, Murakami berhasil menyelesaikan kompetisi tersebut tapi dengan catatan waktu yang buruk. Dari situ ia menyadari sesuatu. “Dinding pemisah antara kepercayaan diri yang sehat dan harga diri yang berlebihan memang cukup tipis,” tulisnya. Mengalami pengalaman buruk tersebut, Murakami mengkoreksi dirinya sendiri. Ia pun menyadari kalau persiapannya saat itu kurang. Kurang latihan tapi sudah merasa percaya diri duluan, akibatnya sebuah kegagalan ia alami. Namun, dari pengalaman tersebut ia ambil pelajarannya dan memastikan tak akan jatuh di lubang yang sama ke depannya nanti. Benar adanya kalau pengalaman memang guru yang terbaik, ya. Tergantung bagaimana cara kita mengambil sikap dan membuat pilihan dalam hidup.

Ibarat sebuah lingkaran, titik tengah buku ini adalah tentang menulis dan lari. Tapi diameter dan jari-jari lingkarannya meluas membahas lebih banyak hal tentang kehidupan. Saya saja sampai menempelkan banyak sticky notes di sejumlah halaman di buku ini karena ada banyak poin penting yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Khususnya sejumlah kalimat  yang bakal bisa jadi pembakar semangat kalau lagi down atau merasa mau menyerah saat akan memperjuangkan sesuatu.

Rasanya ada banyak percikan kembang api di otak saya ketika membuka halaman demi halaman buku ini. Menyenangkan rasanya bisa menemukan sudut pandang baru dan memahami sesuatu dari kacamata berbeda. Seperti kenyataan bahwa “Dunia tak sesederhana itu.”

Motivasi!

Dunia tak sesederhana itu.

Membaca buku ini sesungguhnya membuat kecepatan membaca saya melambat. Bukan karena kalimatnya yang rumit, tapi pada titik tertentu, usai membaca sebuah paragraf, saya dibuat merenung sendiri. Mencoba mencerna “nutrisi” buku ini dengan mengkaitkannya dengan kehidupan pribadi (juga berbagai kegalauan yang sempat melanda, hoho). Waktu untuk merenung dan merasa tertampar inilah yang membuat saya agak lama untuk menuntaskan satu halaman atau satu bab.

Pada akhirnya, buku ini memang tak sekadar soal menulis dan lari.

Buat para penulis atau calon penulis, buku ini benar-benar memperkaya jiwa. Setidaknya, motivasi untuk lanjut menulis akan kembali terbakar. Buat para kreator atau pekerja kreatif, buku ini bisa memberi wawasan baru soal menjaga motivasi dan seni berkarya. Buat yang lagi galau atau nggak bisa move on karena satu dan lain hal, buku ini bisa jadi pintu untuk membuat kita berani melangkah ke depan. Buat saya, kalian, dan kita, buku ini bisa memberi napas baru untuk kembali membuat hidup kembali berdetak.

Membaca memoar seseorang ternyata bisa jadi cermin untuk membantu kita memperbaiki diri sendiri.  Saya pun menobatkan What I Talk about When I Talk about Running ini sebagai salah satu buku paling inspiratif yang saya baca hingga pertengahan tahun 2016 ini.

 

 

Supernova “Inteligensi Embun Pagi”: Mengundang Banyak Tanya, Duh Saya Butuh Teman Diskusi!

Judul Supernova 6 : Inteligensi Embun Pagi
No. ISBN                 :  9786022911319
Penulis                     : Dee Lestari
Penerbit                   : Bentang Pustaka
Tanggal terbit         : Februari – 2016
Jumlah Halaman    : 724
Berat Buku              : 570 gr
Jenis Cover             : Soft Cover
Dimensi (L x P)      : 13x20mm
Kategori                   : Romance

Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.

Hidup mereka takkan pernah sama lagi.

Dulu waktu masih SMA, saya pernah meminjam novel Akar dari perpustakaan kota. Hanya saja ketika di rumah dan membaca novel itu, saya sama sekali tak tertarik. Lebih tepatnya ada perasaan takut dan ngeri. Entah kenapa saat itu rasanya “otak saya ini nggak nyampe” buat baca novel Dee ini, hehe. Akhirnya novel itu saya kembalikan ke perpustakaan tanpa membacanya.

Kemudian di bangku kuliah, saya mulai membaca karya Dee yang lain. Seperti Rectoverso, Filosofi Kopi, dan Perahu Kertas. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan karya-karyanya. Akhirnya saya putuskan untuk membeli sejumlah karyanya yang lain seperti Madre, Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Partikel, Gelombang, dan akhirnya Inteligensi Embun Pagi.

Oke, jujur untuk serial Supernova ini masih ada semacam perasaan “ini ceritanya tentang apa sih”. Ada berbagai macam istilah yang menurut saya terlalu asing dan membuat pening. Anehnya itu jadi adiksi tersendiri. Ada rasa penasaran yang terus mengekor tiap kali selesai menuntaskan setiap halaman.

Novel Inteligensi Embun Pagi membuat saya seakan ikut dalam sebuah petualangan. Berpindah-pindah mengikuti perjalanan Gio, Alfa, Bodhi, Elektra, Zarah, dengan para Infiltran, Sarvara, juga Umbra. Setiap adegannya pun terasa sangat mulus dan dirangkai dengan cantik.

Ada banyak stick notes yang saya pakai untuk menandai sejumlah halaman di novel ini.

Ada banyak stick notes yang saya pakai untuk menandai sejumlah halaman di novel ini.

Saya telah menghabiskan sejumlah stick notes untuk menandai beberapa halaman. Khususnya halaman-halaman yang memberi info penting agar saya tak tersesat membaca novel ini. Saya termasuk pembaca yang gampang lupa. Kadang kalau bacanya lagi nggak fokus, saya bisa ketinggalan sejumlah info kunci penting. Jadi ya begitulah novel saya ini jadi lebih warna-warni dengan stick notes.

Demi bisa lebih mudah mengikuti alurnya, saya sampai membuka-buka novel Supernova yang sebelumnya. Mencari lagi referensi atau info-info yang sebelumnya sempat tertinggal. Barulah ketika sudah kembali ingat dengan sejumlah adegan atau rangkaian cerita, barulah saya ber-“ooh” dan lanjut membacanya lagi.

Lalu, novel Inteligensi Embun Pagi ini ceritanya tentang apa, sih?

Luca menepuk bahu Gio. “Ada 63 gugus lain yang sekarang ini bersiap seperti kalian semua. Dibutuhkan Peretas Puncak untuk menghubungkan kalian semua. Kelak, pada hari jejaring kalian berhasil membuka jerat penjara ini, embun pertama yang jatuh ke muka Bumi membawa kesadaran yang menggetarkan semua.”

(halaman 30)

Saya sendiri bingung kalau harus menjelaskan secara runtut ceritanya. Ada banyak hal seru dan terus mengundang tanya dari petualangan para Peretas ini. Secara garis besar yang bisa saya tangkap, keenam Peretas ini akhirnya menemukan satu misi yang sama. Tentu saja tak mudah untuk menyelesaikan misi itu. Ada banyak konflik yang terjadi. Satu masalah selesai, muncul lagi masalah baru. Demi menyelesaikan sebuah masalah kadang ada pengorbanan yang harus dilakukan. Rasa curiga, rasa ragu, takut, cemas, dan keyakinan, semuanya rasa itu mewarnai setiap adegannya.

inteligensi embun pagi 3

Mengenai peradaban lain, dimensi lain, evolusi, juga tentang makhluk-makhluk yang datang dari peradaban lain, jauh lebih maju dari kita. Sosok dan wujudnya seperti manusia. Tapi mereka punya misi khusus. Misi yang berkaitan dengan pergeseran kutub bumi di mana utara jadi selatan dan selatan jadi utara. Pergeseran kutub ini pun sebenarnya sedang terjadi dengan kecepatan yang meningkat tiap tahun. Ujung-ujungnya tentang hari kiamat. Ah, maafkan saya yang sepertinya kebingungan sendiri menjelaskan inti ceritanya.

Novel ini juga dilengkapi Glosarium yang sangat membantu untuk mencoba memahami sejumlah istilah yang masih asing. Hanya saja rasanya untuk kemampuan saya memahami cerita Supernova yang masih sangat super cetek, sepertinya Glosarium-nya perlu lebih banyak penambahan kata, hehe.

Membaca Inteligensi Embun Pagi seperti mengharuskan saya untuk membaca lebih banyak buku lagi. Khususnya yang berhubungan dengan sains. Selalu menarik bisa mengungkap dan menyingkap berbagai fenomena yang ada di bumi juga dimensi lain. Duh, sepertinya saya butuh teman diskusi yang bisa diajak ngobrol banyak hal tentang novel Supernova ini.

inteligensi embun pagi dee 4

Banyak poin penting di novel ini yang saya kira berhubungan langsung dengan kehidupan dan keseharian kita sendiri. Seperti ketika Bodhi merasakan sebuah keraguan, “Bagaimana kita bisa tahu langkah kita berikutnya benar atau salah? Sesuai sekuens atau tidak? Disabotase atau tidak?” Lalu Kell menanggapinya dengan jawaban yang menurut saya jleb banget, “… You just have to trust your heart. Your process. There’s no other way to do it.” Benar sekali, kadang kita dilanda sebuah keraguan yang dalam karena kurang percaya diri atau rasa takut dalam diri. Tapi apalagi yang bisa dilakukan jika tidak langsung mencoba. Ikut mengalir dalam prosesnya. Meyakini kalau yang kita lakukan memang sudah yang terbaik dan hasilnya apapun itu pasti adalah yang paling baik. Tak mudah memang, tapi setidaknya itulah pilihan yang paling masuk akal: mengikuti proses yang ada.

Kebaikan dan kejahatan. Dunia hitam dan putih. Novel ini juga tak jauh dari tema umum tersebut. Saya menemukan paragraf yang cukup menarik di Keping 79, “Kejahatan yang paling mengerikan tidak akan muncul dengan api dan tanduk, tetapi jubah malaikat. Ia membius dengan kebajikan. Mereka yang terbius akan rela mempertaruhkan nyawa untuk membela apa yang mereka kira kebajikan.” Hm, betapa sering kita tertipu daya muslihat manusia. Sering kita tak menyadari bahwa orang-orang yang terlihat paling baik ternyata bisa menjerumuskan kita. Saat ini, orang jahat tak hanya mereka yang berwajah seram atau berpenampilan sangar. Lebih menyeramkan dari itu, orang jahat juga bisa berkamuflase jadi sesosok malaikat. Bukan bermaksud jadi paranoid sih, hanya saja ini kenyataan yang saat ini masih sering terjadi di dunia, bukankah begitu?

supernova inteligensi embun pagi 6

Oh ya, ada satu kalimat yang sering terulang-ulang di novel ini, “Niat menggerakkan pikiran.” Saya merasa kalimat ini tak hanya untuk membuat ceritanya menarik atau membuat para karakternya terlihat lebih kuat. Lebih dari itu. Kalimat tersebut seperti sengaja dituliskan untuk kita semua. Tentang bagaimana sebuah niat bisa sangat mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Bahkan hasil yang kita dapat dari sebuah proses atau perjuangan juga bisa sangat bergantung dari niat yang kita tancapkan di pikiran sejak awal.

Tulisan saya ini mungkin agak acak, ya. Mau bagaimana lagi, bahkan setelah selesai membaca Inteligensi Embun Pagi ini saya sempat tercenung sendiri. Lebih tepatnya muncul lebih banyak pertanyaan lagi, kok bisa begini? Lalu apa selanjutnya? Sungguh, saya memang butuh teman diskusi untuk membahas berbagai lapisan yang tersusun di novel ini.

Di bagian “Dari Penulis” saya menemukan kalimat Dee yang benar-benar menggugah tentang kegiatan menulis.

“Menulis memang tidak pernah merupakan proses satu sisi. Menulis adalah kerja sama. Kita bekerja sama dengan Ide yang telah memilih kita menjadi partnernya. Bahu-membahu, melalui kerja keras dan komitmen, inspirasi yang berwujud abstrak akhirnya menjadi konkret. Di pojok tempat saya menulis, saya tampak sendirian. Sesungguhnya saya tidak sendiri. Saya sedang berdansa dengan partner saya di alam abstrak.” (halaman 704)

inteligensi embun pagi 5

Saat menulis, kita memang tak pernah sendiri. Sementara itu, kepingan Supernova masih menyimpan banyak misteri di benak saya.

 

 

 

 

Sudut Pandang Baru tentang Jodoh dari Novel “Jodoh” Karya Fahd Pahdepie

Penulis: Fahd Pahdepie
Terbit: Desember 2015
Judul buku : Jodoh
Penerbit: Bentang Pustaka
Format: 13 x 20,5 cm
Edisi : Soft Cover
ISBN : 978-602-291-118-0
Penyunting: Ika Yuliana K.

Apa itu jodoh?

Barangkali kau sering bertanya-tanya tentangnya.
Barangkali imajinasimu tentang belahan jiwa begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang sana, yang tengah menunggumu untuk berlayar.

Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu, sehingga seringkali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.

Tetapi laut, ombak, dan isinya selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.

Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk berlayar—jauh sebelum mereka mengenal ketakutan; jauh sebelum mereka bisa membaca arah atau menebak cuaca; bahkan jauh sebelum mereka disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang waktu, takdir, cinta, dan jodoh itu sendiri.

Wah, Fahd menulis novel tentang jodoh berjudul Jodoh! Awal tahu kalau penulis favorit saya ini akan merilis novel Jodoh saya langsung antusias. Tak sabar rasanya untuk mengatasi rasa penasaran, “Apa lagi yang akan ditulisnya kali ini? Jodoh seperti apa yang akan dibahas kali ini?”

Secara umum, novel ini menceritakan seorang perempuan dan laki-laki bernama Keara dan Sena. Sudah bisa ditebak kalau keduanya sedang bergulat tentang takdir jodoh. Sena yang sudah jatuh cinta pada Keara sejak bangku SD. Cinta itu pun terus berlanjut hingga bangku SMP saat sama-sama bersekolah di pondok pesantren. Cinta pertama. Cinta monyet. Hasrat untuk memiliki. Kesungguhan untuk saling menjaga. Semua gejolak itu dirasakan oleh Keara dan Sena. Sayang, selepas SMA keduanya harus berhadapan dengan takdir yang cukup berat. Sampai akhirnya Sena menemukan sendiri arti dan makna jodoh dari semua pengalamannya selama ini.

resensi novel jodoh fahd pahdepie

Jujur, agak sedih mengetahui kalau novel ini memiliki sad ending, setidaknya itu yang saya rasa. Tapi justru di akhir cerita itulah saya seperti mendapat semacam sudut pandang baru. Apalagi kalau bukan sudut pandang tentang jodoh.

“Kita berjodoh meski impian dan rencana-rencana kita tak tercapai. Kita berjodoh karena bagaimanapun Tuhan telah mengizinkan kita bertemu, menuliskan kisah kita berdua, dan berbahagia di salah satu persimpangan kehidupan yang pernah kita alami bersama.

Kita berjodoh, Key. Untuk apapun alasannya, yang menyedihkan atau membahagiakn, yang bisa kita terima atau tak bisa bisa kita terima, yang termaafkan atau tak termaafkan.

Kita berjodoh karena takdir telah mempertemukan kita di salah satu perseimpangan waktu, membuat kita jadi lebih dewasa, membuat hidup kita jadi lebih bermakna.”

Seperti biasa Fahd selalu menyisipkan kalimat-kalimat yang indah dan bikin hati terasa adem. Saat dibaca berulang kali pun rasanya tak pernah bikin bosan. Mengenai cinta, jatuh cinta, sakit hati, mencintai, dan juga kerinduan. Tapi menurut saya untuk sebuah novel, Jodoh seperti belum memiliki satu kesolidan. Hm, gimana ya kira-kira menjelaskannya. Meski di salah satu narasi di dalamnya menyebutkan kalau novel ini dibuat dengan alur yang seakan melompat-lompat agar pembaca bisa mengintrepetasinya sendiri, tapi rasanya tetap serasa ada yang kurang dari novel ini.

Di sejumlah bagian alur terasa cukup lambat. Tapi di bagian lain jadi melompat-lompat. Mungkin ini masalah selera saja, ya. Saya merasa jadi keutuhan cerita ini kurang terpoles sempurna. Tapi hal itu tak membuat saya berhenti membaca novel ini. Bahkan saya membaca novel ini dalam “sekali duduk” sekitar 2-3 jam sebelum tidur malam. Apalagi di novel ini banyak ditemukan kutipan larik-larik puisi Sapardi Djoko Damono yang indah.

novel jodoh fahd pahdepie

Ada banyak hal menarik yang saya temukan di novel ini. Salah satunya tentang Cinta Platonik.

“Konon, pada mulanya dua manusia yang saling mencintai diciptakan berpasangan dalam tubuh yang sama dengan dua kepala, dua leher, dua badan, dua pasang tangan, dua pasang kaki, dan seterusnya, tetapi hanya dikaruniai satu hati, satu jiwa.

Plato menyebut konsep ini sebagai “belahan jiwa”: dua manusia berbagi masing-masing setengah jiwa untuk satu dan lainnya.”

(halaman. 129)

Unik juga membayangkan bagaimana ketika dua manusia yang satu tubuh itu akhirnya saling mencari. Berusaha untuk menemukan belahan jiwanya yang terpisah. Seperti yang kembali dituliskan oleh Fahd, “…masing-masing kita adalah pengelana belahan jiwanya.” Sering disadari atau tidak, kita pasti seringkali bertanya-tanya siapa ya belahan jiwa itu? Bagaimana ya wajahnya? Seperti apa dia? Dan kita akan terus berkelana mencarinya membuat kisah kita sendiri demi sebuah akhir bahagia yang kita harapkan.

novel jodoh

Saya juga suka sekali dengan bagian ini,

“Cinta tak sesederhana kata-kata “aku cinta kamu dan dunia harus mengerti itu”, cinta adalah “aku cinta kamu dan karenanya aku juga harus mengerti dunia di sekelilingmu.”

(halaman. 199)

Yes! That is soooo true! Meski saya sendiri (saat ini) tidak dalam keadaan sedang jatuh cinta, tapi saya sangat setuju dengan pertanyaan itu. Jatuh cinta, dicintai, dan mencintai tak seharusnya membuat kita jadi egois. Justru dengan cinta itu kita akan lebih banyak belajar. Belajar lebih dewasa. Memahami dunia yang jauh lebih luas di luar sana. Berani untuk berdamai dengan ego sendiri. Mau dan mampu untuk memperjuangkan kebaikan untuk lebih banyak orang dengan cinta dan ketulusan.

Seperti pengalaman saya yang sudah-sudah, setiap kali selesai membaca karya Fahd Pahdepie saya merasa ada sebuah kelegaan tersendiri. Serasa ada sebuah pintu baru yang terbuka di dalam pikiran. Dan membuat ruang bernapas saya terasa lebih luas. Terima kasih Bang Fahd sudah menulis karya yang indah ini, saya akan menantikan karya-karya Anda yang berikutnya 🙂

 

 

Resensi Novel: Faith and the City (Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra)

Judul Buku : Faith and the City
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2015
Harga : Rp60,000
Tebal : 232 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2433-3

Sinopsis:
Setelah malam penganugerahan Hero of The Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein beserta kedua anak gadis mereka Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasutri penyatu jembatan yang terpisah, pasangan yang dirundung kebahagiaan, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Rangga, tugas belajar dan riset telah menunggu setia di Wina.

Out of the blue, Cooper dari Global NewYork TV hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan sebuah penawaran mustahil tertolak oleh Hanum: menjadi produser sebuah acara Global NewYork TV yang meliput dunia Islam dan Amerika.

Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namun mengintai mahligai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.

Akankah Hanum mampu mengelak dari pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya?

Atau jangan-jangan impian yang menjadi kenyataan, tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?

Saat membaca judulnya, tanpa ragu saya langsung membelinya. Apalagi saya sudah terpikat dengan karya Hanum-Rangga sebelumnya. Jadi saya berharap cukup banyak dengan novel ini.

Ketika membaca Bab Pertama, barulah saya tahu kalau novel ini merupakan lanjutan dari novel sebelumnya Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang telah difilmkan pada bulan Desember 2015. Kali ini topik besar yang diangkat adalah tentang ambisi dan nurani. Latar yang disuguhkan adalah seputar dunia media, lebih tepatnya dunia pertelevisian.

FAITH AND THE CITY

Hanum dan Rangga tadinya memutuskan kembali ke Wina karena tugas mereka sudah selesai. Tapi siapa sangka, saat sedang check-in di bandara JFK, Andy cooper tiba-tiba muncul. Ia menawari Harum sebuh kontrak kerja di Global NewYork TV. Hanum yang memang ngefans berat sama Andy tak perlu pikir dua kali untuk menerima tawaran tersebut. Dari situ cerita baru dimulai.

Andy Cooper melimpahkan tanggung jawab baru pada Hanum untuk memegang sebuah program TV tentang muslim di Amerika yang bernama Insights Muslims. “Insights Muslims. Kau harus mencari profil muslim yang kontroversial. Wawancara kehidupan mereka, perkara mereka, perasaan mereka dengan banyak fenomena yang memojokan islam akhir-akhir ini. ” (halaman 39). Di sini pergulatan dimulai. Hanum dituntut menaikkan rating dan share tetapi ia juga ingin menyuguhkan tayangan yang berkualitas, tak asal-asalan, atau memaksa narasumber mencucurkan air mata. Di samping itu, Hanum juga punya ambisi besar untuk membuktikan dirinya bukanlah jurnalis kacangan.

Ada yang diperjuangkan, maka ada yang dikorbankan. Di tengah perjuangan Hanum sebagai jurnalis mulai berbuah manis, hubungannya dengan Rangga tak lagi hangat. Konflik dan perdebatan makin sering terjadi. Pilihan-pilihan dan keputusan baru harus dibuat. Hati dua insan saling menyakiti dan disakiti. Ambisi, cinta, dan nurani, semuanya bersimpangan. Mau tak mau harus ada jalan keluar yang diambil.

NOVEL HANUM

”Allah Sang Sutradara memberikan kesempatan kepada kita untuk setidaknya 5 kali sehari istirahat mengembalikan kesadaran sebagai manusia ,agar terbangun dan tidak terhanyut dalam peran dunia yang menghanyutkan.” (halaman 220)

Saya jadi tahu cukup banyak tentang dunia pertelevisian. Bekerja di bidang media memang punya tantangannya tersendiri. Ada banyak kepentingan yang terlibat. Belum lagi dengan ambisi dari diri sendiri untuk bekerja dan berkarya menghasilkan sesuatu yang positif. Dari novel ini, saya belajar untuk bagaimana tetap bisa mengedepankan kebenaran dan hati nurani ketika membuat sebuah karya atau menampilkan sesuatu pada publik. Bukan hal yang mudah memang. Tapi selalu ada cara untuk membuktikan kalau kejujuran dan kebenaran tak akan pernah menyesatkan.

Sayangnya, menurut saya alur novel ini cukup mudah ditebak. Meski begitu, saya tetap bisa menikmati novel ini dan membacanya sampai tamat. Saya berharap novel Hanum-Rangga berikutnya mengangkat topik tentang sejarah dan peradaban Islam lebih banyak lagi. Mungkinkah di novel berikutnya? Kita tunggu saja.

 

Ulasan Buku “Rumah Tangga” – Fahd Pahdepie

Judul     : Rumah Tangga
Penulis   : Fahd Pahdepie
Penerbit : Panda Media
Tahun    : 2015
Tebal     : 286 hal
Jenis      : Kumpulan Cerita

Ulasan ini sebelumnya sudah dipublikasikan di SINI.

Buat kamu yang sedang bersiap membangun rumah tangga, sedang berumah tangga, atau ingin lebih matang menjalani kehidupan rumah tangga, buku karya Fahd Pahdepie yang satu ini wajib kamu baca. Dari judulnya saja “Rumah Tangga”, kita langsung bisa menangkap gambaran umum isi buku setebal 286 halaman ini. Tapi benarkah isinya melulu tentang persoalan rumah tangga? Yuk, simak ulasan singkatnya di bawah ini.

Saya pribadi merupkan penggemar karya-karya Fahd Pahdepie. Saya juga mengoleksi karya-karyanya yang sebelumnya seperti Curhat Setan, Rahim, Hidup Berawal Dari Mimpi, Menatap Punggung Muhammad, dan Perjalanan Rasa. Bahasa dalam karya-karya Fahd terbilang ringan tapi punya makna yang dalam. Hal-hal sederhana yang ia bahas bisa terasa begitu istimewa dan pastinya berkesan. Membaca kalimat-kalimat yang ia tulis bisa membawa kita merenungkan banyak hal. Bahkan membaca kalimat yang sama berkali-kali selalu memberi kesan menyenangkan yang berbeda-beda.

Berumah dalam cinta, di tangga menuju surga.

Di buku “Rumah Tangga” ini, Fahd membuat kumpulan cerita yang berisi persoalan cinta, membangun rumah tangga, keluarga, anak-anak, hingga makna kehidupan itu sendiri. Karya Fahd yang didedikasikan untuk istri dan dua putranya ini (Rizqa, Kalky, dan Kemi) sebagian besar berisi pengalaman dan perjalanannya membangun rumah tangga selama lima tahun. Dituturkan dengan cara sederhana, kita bisa merasa begitu dekat dengan tulisan-tulisan Fahd.

“Seperti pada buku-buku saya lainnya, saya tetap menggunakan cara bercerita yang lebih banyak memakai sudut pandang orang kedua. Saya ingin memosisikan pembaca sedekat mungkin, menjadikan mereka teman bicara, yang dengannya saya bisa berbisik perlahan, tertawa tanpa suara, atau saling berkata ‘aha’! karena kita pernah sama-sama berada di situasi yang sama serta melakukan hal yang serupa (been there, done that!)” (Rumah Tangga hlm. vii)

HL 2 2po

Seolah Mengobrol dengan Teman Dekat

Fahd benar-benar mengajak ngobrol para pembacanya di buku “Rumah Tangga”. Banyak sekali pengalaman yang ia bagi, mulai dari proses awal melamar, menikah, hingga membangun rumah tangga dengan istri tercinta Rizqa. Tanpa menggurui, Fahd menuturkan berbagai hal yang serasa dekat dengan keseharian kita.

Selama ini kita mungkin sudah sering mendengar kisah orang-orang terkenal membangun cintanya. Tapi kadang kita merasa, “Ah, kisah mereka kan beda kelas dengan kita yang orang ‘biasa-biasa saja’.” Di buku “Rumah Tangga” ini kita diajak untuk bisa menemukan makna dan hakikat cinta kita sendiri, mencari mutiara kita sendiri di tengah kehidupan kita yang ‘bukan orang terkenal atau orang hebat’.

Tulus, Hangat, Romantis, dan Puitis
Fahd dan istrinya Rizqa jadi cerminan bagaimana pasangan bisa membangun cinta secara sederhana tapi indah. Bagaimana keseharian mereka bisa jadi pelajaran untuk siapa saja yang ingin membangun rumah tangga menuju surga. Ada juga puisi-puisi Fahd dan Rizqa yang romantis tapi bukan romantis picisan. Membacanya pun terasa ada rasa hangat di dada.

Meski sebagian besar isinya tentang perjalanan rumah tangga Fahd selama lima tahun, tapi ada banyak hal lain yang dibahas. Mulai dari persoalan keluarga hingga tentang menemukan arti kebahagiaan kita sendiri. Semua disampaikan dengan bahasa yang ringan dan sederhana.

Hanya saja sayangnya, beberapa tulisan di “Rumah Tangga” ada yang sudah pernah dibukukan di karya Fahd yang sebelumnya. Sehingga buat saya pribadi yang menggemari dan mengkoleksi karya Fahd merasa sedikit kecewa karena tadinya berharap semua tulisan di buku ini adalah tulisan yang benar-benar baru. Tapi hal itu tak mengurangi rasa bahagia saya membaca habis buku ini.

HL 3 2 po

Siapkah Kamu Membangun Rumah Tanggamu Sendiri?

Kita adalah dua orang biasa yang saling jatuh cinta. Lalu, kita bersandar pada kekuatan satu sama lain. Terus berusaha memaafkan kekuarangan satu sama lain.

Kita adalah dua orang yang saling berbagi rahasia menyublimkan diri masing-masing. Saling percaya dan berusaha saling menjaga.

Kita adalah dua pemimpi yang kadang-kadang terlalu lelah untuk berlari. Namun, kita berjanji saling berbagi punggung untuk bersandar, berbagi tangis saat harus bertengkar.

Kita adalah dua orang egois yang memutukan menikah.

Kemudian, setiap hari, kita berusaha mengalahkan diri masing-masing.(Fahd Pahdepie)

Satu kesan kuat yang saya dapat setelah membaca buku ini adalah “Siapkah kita membangun rumah tangga kita sendiri?” Tiap orang pasti punya kisah dan perjuangannya sendiri membangun cinta dan rumah tangga. Menghabiskan sisa hidup dengan seseorang yang kita cintai tidak selalu berjalan mulus. Ada halangan dan ujian yang bakal datang. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa saling menguatkan satu sama lain dan melakukan yang terbaik dalam rumah tangga yang kita bangun.

Terima kasih Fahd Pahdepie sudah menulis karya indah ini. Saya tunggu karya-karya baru berikutnya.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: