PenulisOnline.Com

Endah Wijayanti – Content Creator

Category: NON FIKSI

Stephen King, Novelis Fenomenal yang Takut dengan Angka 13

Stephen Edwin King atau yang lebih familiar dikenal dengan nama Stephen King dikenal sebagai seorang penulis kontemporer Amerika Serikat yang sukses. Sebagai novelis, karya-karyanya yang kebanyakan bergenre horor, fantasi, dan fiksi ilmiah sudah terjual sedikitnya 350 juta eksemplar di berbagai belahan dunia. Sebagian dari karya-karyanya itu sudah diadaptasi jadi film, baik film televisi maupuan film layar lebar. Ada juga yang diadaptasi menjadi buku komik.

Tercatat, pria berzodiak Virgo ini sudah menerbitkan 50 novel, 5 karya nonfiksi, dan sekitar 200 cerita pendek. Stephen punya sejumlah nama pena, seperti John Swithen dan Richard Bachman. Novel horor pertamanya yang sukses berjudul Carrie ditulis dengan nama pena Richard Bachman. Sosoknya kini dikenal sebagai seorang novelis terkenal dan fenomenal. Dan ada banyak fakta menarik soal kisah hidupnya. Termasuk soal ketakutannya dengan angka 13.

Orang Tua Stephen King Bercerai Ketika Dirinya Masih Anak-Anak

Gambar 1

Gambar 1

Orang tua Stephen King, Donald dan Nellie Ruth Pillsburry King bercerai ketika Stephen masih anak-anak. Stephen dan saudaranya, David harus membagi waktunya antara Indiana dan Connecticut selama beberapa tahun. Stephen kemudian kembali ke Maine dengan ibu dan kakaknya. Stephen lulus dari Lisbon Falls High School pada tahun 1966.

Setelah lulus sekolah, Stephen melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di University of Maine di Orono. Selama kuliah itu, ia aktif menulis untuk surat kabar universitas dan aktif di kegiatan kemahasiswaan. Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana bahasa Inggris tahun 1970, Stephen berusaha mencari pekerjaan sebagia guru tapi dewi fortuna tak langsung berpihak padanya. Untuk mengisi waktunya ia bekerja di sebuah usaha laundry dan tetap menulis di waktu senggangnya sampai akhir tahun 1971. Setelah itu, akhirnya ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di Hampden Academy.

Stephen King dan Istrinya Pernah Hidup Sangat Miskin

Gambar 2

Gambar 2

Saat akhirnya bekerja sebagai guru di Hampden Academy, Stephen menikah dengan Tabitha Spruce yang juga berprofesi sebagai penulis. Mereka pernah mengalami masa-masa buruk dan hidup miskin. Saking miskinnya, untuk menikah mereka sampai meminjam baju dan memutus sambungan telepon karena biayanya terlalu mahal. Keduanya juga pernah tinggal di sebuah trailer dan mengambil sejumlah pekerjaan untuk bisa menyambung hidup.

Stephen dan istrinya membagi waktunya antara Florida dan Maine. Mereka dikaruniai tiga anak, Naomi Rachel, Joseph Hillstrom, dan Owen Philip. Naomi menjadi seorang pendeta, sementara Joseph Hillstrom menjadi penulis fiksi horor dengan nama pena Joe Hill. Dan owen Phillip menerbitakan kumpulan cerita pertamanya tahun 2005.

Pernah Menulis Cerita Pendek untuk Majalah Porno

Gambar 3

Gambar 3

Stephen King pernah menerbitkan sejumlah cerita pendek di majalah porno. Di awal karier menulisnya, ia memanfaatkan waktu luang di sela kesibukannya mengajar dan bekerja di tempat laundromat (tempat cuci otomat) untuk menulis. Sampai akhirnya karyanya yang berjudul Carrie, sebuah novel pendek tentang gadis SMA yang siklus menstruasinya bisa menghadirkan kekuatan supernatural untuk balas dendam dan teror.

Saat masih remaja, Stephen sering mendapat banyak surat penolakan atas karyanya yang ia kirim. Dia menerima 60 surat penolakan sebelum cerita pendek pertamanya yang berjudul The Glass Floor terbit dan Stephen mendapat honor 35 dolar.

Stephen Mengaku Pernah Tak Sadar Dirinya Menulis dalam Keadaan Mabuk

Gambar 4

Gambar 4

Setelah mendapatkan kesuksesan pertamanya, Stephen kecanduan alkohol. Bahkan kisah tokoh Jack Torrence yang merupakan seorang pecandu itu sedikit terinspirasi dari otobiografi Stephen. Dalam memoarnya, Stephen bilang kalau dirinya pernah minum tallboys (sejenis bir) setiap malam dan tak ingat dirinya menulis novel Cujo. Karena kecanduan dan kebiasaan mabuknya itu, kekuarga Stephen marah dan sejak saat itu kemudian Stephen berhenti mabuk-mabukan.

Stepehen pernah menulis sebuah karya di meja seorang penulis yang pernah meninggal, Rudyard Kipling. Saat itu Stephen dan istrinya berada di Brown’s Hotel di London. Stephen tak bisa tidur dan bertanya pada staf hotel apakah ada tempat yang cocok untuk menulis. Stephen lalu diarahkan pada sebuah meja besar yang dulu merupakan miliki Rudyard Kipling, penulis The Jungle Book, Kim, dan sejumlah puisi. Kipling dulu meninggal saat duduk di meja tersebut. Di meja yang sama, Stephen membuat karya yan kemudian diberi judul Misery.

Stephen Takut dengan Angka 13

Gambar 5

Gambar 5

Dalam sebuah wawancara dengan Playboy di awal kariernya, Stephen pernah berkata kalau ia tak suka dengan angka 13. Saat menulis, jika sudah sampai di halama 13 atau kelipatannya, Stephen tak akan berhenti menulis. Dia akan menulis cepat-cepat sampai halaman 13 atau halaman kelipatannya bisa segera terlewati. Selain takut dengan angka 13, Stephen juga mengungkapkan kalau dirinya takut dengan gelap.

Banyak menulis cerita horor dan menakutkan, bukan berarti Stephen sosok penulis yang tak takut dengan apapun. Stephen juga takut dirinya nanti menderita penyakit mental yang berkaitan dengan usia yang semakin menua, seperti demensia dan Alzheimer’s. Dia takut nantinya hilang ingatan atau jadi gila.

Saat Masih Anak-Anak, Stephen Pernah Melihat Temannya Tewas

Stephen waktu masih kecil pernah menjadi seorang anak yang pendiam. Hal ini disinyalir karena ia melihat seorang temannya yang tewas ditabrak kereta api. Saat berusia empat taun, Stephen bermain dengan temannya, lalu seorang bocah berada di jalur kereta api di saat yang tak tepat. Bocah tersebut tertabrak kereta api dan tewas.

Stephen melihat hal itu tapi dalam karya non-fiksinya Danse Macabre, ia mengatakan, “Aku tak memiliki ingatan akan kejadian itu sama sekali, cuma diberitahu beberapa tahun kemudian setelah kejadian tersebut terjadi.” Ada kemungkinan alam pikiran bawah sadarnya yang menutupi ingatan tersebut. Sementara itu, ada sejumlah pendapat kalau peristiwa traumatis itu memberi dampak psikologis pada diri Stephen dan jadi inspirasinya untuk membuat sejumlah karya, walau hal itu tak diungkapkan oleh Stephen dalam memoarnya, On Writing.

image credits:
headline: http://lowcostacademicwriting.com/wp-content/uploads/2015/09/Stephen-King-012.jpg
Gambar 1: http://a2.ec-images.myspacecdn.com/images01/85/e0a0696870e5de04fe81d8a8324ba0ec/l.jpg
Gambar 2: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gamber 3: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gambar 4: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/05/STEPHEN-KING-1.jpg
Gambar 5: http://i.huffpost.com/gen/1868696/images/o-STEPHEN-KING-facebook.jpg

R. L. Stine, Dulu Bocah Penakut Tapi Sekarang Jadi Penulis Cerita Horor Terkenal

Robert Lawrence “R. L.” Stine, buat kamu yang penggemar cerita-cerita horor pasti nggak asing dengan nama penulis yang satu ini. Pria yang lahir tanggal 8 Oktober 1943 ini juga sering dijuluki sebagai Stephen King-nya sastra anak-anak. Sudah ratusan buku bergenre horor yang ia tulis untuk anak-anak dan remaja. Tak heran jika ia juga dinobatkan sebagai salah satu penulis besar di bidang sastra modern. Buku-bukunya bahkan sudah terjual lebih dari 400 juta eksemplar di seluruh dunia.

Buat kamu yang masuk dalam golongan generasi 90an pastinya juga pernah memiliki masa-masa tenggelam dan asyik sendiri membaca novel Goosebumps yang sangat populer itu. Ada kisah menarik dari sosok penulis yang satu ini. Perjalanan kariernya pun dimulai saat ia masih kanak-kanak. Selengkapnya, yuk ikuti infonya lebih lengkap di sini.

Dulu Cuma Murid Biasa, Malah Nggak Begitu Suka Sekolah

Gambar 2

Gambar 2

Stine merupakan putra dari pasangan Lewis Stine dan Anne. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pengiriman dan pengepakan barang (shipping clerk) sementara ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Saat berusia sembilan tahun, Stine menemukan mesin ketik tua di loteng rumah. Dari situ, ia mulai mengetik dan membuat berbagai jenis cerita dan humor.

Stine merupakan murid biasa dengan prestasi rata-rata. Bahkan ia tak terlalu suka sekolah. Saat masih kecil, ia tak suka main di luar rumah. Ia lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di rumah untuk mengetik dan membuat berbagai jenis cerita dan humor. Kalau sudah tenggelam dalam dunianya, dia betah berlama-lama dengan mesin ketiknya.

Stine Mengaku Dirinya Dulu Anak yang Penakut

Gambar 3

Gambar 3

Dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh sparknotes.com, Stine mengaku dirinya dulu adalah bocah yang penakut. Ia takut pada berbagai hal. Rasa takutnya itulah yang membuatnya lebih suka berdiam di dalam rumah pada pagi hari untuk mengetik dan membuat cerita. “Aku sangat pemalu dan penakut. Aku baru akan bersepeda di malam hari dan selalu merasa ada seseorang yang mengintipku di garasi,” ucapnya. Saking takutnya, dia akan melemparkan sepedanya begitu saja dan langsung lari masuk ke rumah.

Meski Stine tahu kalau anak kecil seharusnya tak boleh sepenakut itu, kini ia jadi bisa memanfaatkannya. Perasaan panik dan takut yang pernah ia rasa waktu kecil bisa dijadikan sumber inspirasi menulisnya saat dewasa. Sejak kecil ia memang sudah ingin jadi penulis. Ditanya soal tips menulis, Stine mengaku kalau ia jarang memberi tips menulis karena dirinya sendiri sudah menulis sejak kecil. Kalau menulis ya menulis saja tak usah pakai disuruh menulis, begitu kira-kira tanggapannya.

Setelah Lulus Kuliah, Stine Bekerja di Majalah Anak-Anak

Gambar 4

Gambar 4

Stine berkuliah di Ohio State University dan lulus pada tahun 1965 dari jurusan bahasa Inggris. Selama kuliah, ia juga bekerja di majalah kampus, The Sundial sebagai editor. Setelah lulus, ia pindah ke New York City. Di sanalah ia membangun kariernya di bidang penulisan.

Stine diterima bekerja di Scholastic, Inc. Ia bekerja di majalah anak-anak. Di waktu senggangnya, ia menulis buku-buku humor untuk anak-anak dengan nama pena Jovial Bob Stine. Pertengahan tahun 70an, Stine mendirikan sebuah majalah humor untuk anak-anak dan remaja bernama Bananas. Majalah tersebut dipublikasikan oleh Scholastic Press antara tahun 1975 hingga 1984.

Kehilangan Pekerjaan Membuatnya Jadi Penulis Penuh Waktu

Gambar 5

Gambar 5

Stine dipecat dari Scholastic saat perusahaan tersebut melakukan reorganisasi. Setelah dipecat, Stine putar haluan menjadi seorang penuis penuh waktu. Ia gunakan waktunya sepenuhnya untuk fokus menulis. Pada masa itulah, Stine mulai menemukan minat dan ketertarikannya pada genre horor.

Karya novel horor pertamanya berjudul Blind Date yang terbit tahun 1986. Novel itu mendapat sambutan hangat dari para pembacanya. Setelah itu, Stine menulis karya berikutnya, seperti Twisted yang terbit tahun 1987 dan The Baby-Sitter yang diterbitkan tahun 1989. Dari situ, karya-karyanya yang bergenre horor makin dikenal

Novel Serial Fear Street Laku Terjual 80 Juta Eksemplar

Pada tahun 1989, Stine mula menulis novel berseri yang berjudul Fear Street. Karya tersebut merupakan karya serial tentang para remaja yang melakukan sejumlah petualangan yang berkaitan dengan hantu, pembunuh, dan karakter-karakter aneh. Buku pertama dari serial tersebut berjudul The New Girl. Serial ini sangat populer. Bahkan tercatat sampai terjual hingga 80 juta eksemplar.

Selain menulis novel bergenre horor, Stine juga ikut terlibat dalam tayangan televisi Eureeka’s Castle dan menjadi penulis utamanya. Acara tersebut ditayangkan di Nickelodeon Network dalam kurun waktu 1989 hingga 1995. Wah, sebagian besar waktu Stine memang digunakan untuk menulis dan berkarya, ya.

Goosebumps Jadi Serial yang Super Populer dan Terjual Hingga 300 Juta Eksemplar

Gambar 6

Gambar 6

Pernah tahu dong soal novel serial Goosebumps? Serial inilah yang sangat lekat dengan sosok R. L. Stine. Stine memperkenalkan serial Gooseebumps pada tahun 1992. Goosebumps merupakan cerita fiksi horor anak-anak di mana para tokohnya dihadapkan pada situasi menyeramkan. Serial ini langsung menyedot perhatian dunia. Sampai-sampai sudah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Tercatat serial Goosebumps merupakan buku terlaris kedua di dunia setelah Harry Potter.

Serial ini sangat populer. Sampai-sampai laku terjual hingga 300 juta eksemplear di seluruh dunia. Kesuksesan novel itu juga diikuti dengan tayangan televisi serial Goosebumps yang tayang sampai empat season mulai dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Selain diadaptasi jadi tayangan televisi, Goosebumps juga diadaptasi jadi tiga video game. Stine juga kemudian melebarkan sayapnya untuk menulis buku serial lainnya, seperti Mostly Ghostly, Rotten School, The Nightmare Room, dan novel Dangerous Girls (2003) dan The Taste of Night (2004). Tahun 2007, film fantasi horor berjudul The Haunting Hour: Don’t Think About It dibuat yang terinspirasi dari novel anak yang dibuatnya.

***

image credits:
Gambar 1
https://www.theguardian.com/childrens-books-site/gallery/2016/may/16/goosebumps-rl-stine-what-you-didn-t-know#img-2
Gambar 2
http://cdn.bloody-disgusting.com/wp-content/uploads/2015/10/rlstinebanner.jpg
Gambar 3
http://www.cbc.ca/gfx/topvideo/2015/rl-stine-101615.jpg
Gambar 4
https://i.ytimg.com/vi/NXmj8uAM2YY/maxresdefault.jpg
Gambar 5
http://www.barnesandnoble.com/blog/barnesy/wp-content/uploads/2014/10/RLStineatBN-2.jpg
Gambar 6
https://i.ytimg.com/vi/bX7fnOlR4-U/hqdefault.jpg

Roald Dahl, Si Pilot Pesawat Tempur yang Jadi Penulis Buku Anak-Anak

Pernah baca atau nonton film Charlie and the Chocolate Factory? Adalah Roald Dahl sosok yang menciptakan karya tersebut. Pria kelahiran Llandaff tanggal 13 September 1916 ini dikenal sebagai seorang penulis buku anak-anak yang terkenal. Tapi siapa sangka ternyata dulunya ia adalah seorang pilot pesawat tempur (fighter pilot) pada zaman Perang Dunia II.

Banyak sekali karya yang ia buat selama hidupnya. Beberapa yang terkenal, antara lain James and the Giant Peach yang terbit tahun 1961. Lalu yang sudah disebutkan tadi, Charlie and the Chocolate Factory yang dirilis pada tahun 1964 dan diadaptasi jadi film. Dan sebelumnya juga ada kumpulan cerita berjudul Someone Like You yang dipublikasikan tahun 1953. Tercatat sudah ada 16 buku anak-anak yang ia tulis sebelum wafat tanggal 23 November 1990 di Oxford, Inggris.

Saat Roald Berusia 4 Tahun, Ayahnya Meninggal Dunia

Gambar 2

Gambar 2

Kedua orang tua Roald berdarah Norwegia. Di liburan musim panasnya, Roald pergi ke rumah kakek neneknya di Oslo. Saat Roald masih berusia 4 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Roald kecil bersekolah di Llandaff Cathedral School. Di sekolah itu, kepala sekolah pernah memukulnya karena bercandanya yang kelewatan. Ibu Roald lalu memindahkan putranya tersebut untuk bersekolah di St. Peter’s, sebuah sekolah berasrama di Inggris seperti yang diinginkan ayahnya. Setelah itu, Roald lanjut sekolah di Repton, sebuah sekolah swasta dengan reputasi akademik yang gemilang.

Roald Tak Mau Lanjut Kuliah di Oxford

roald-dahl-3

Gambar 3

Saat bersekolah di Repton, Roald sempat memprotes soal aturan-aturan sekolah tersebut. Selama bersekolah di sana, Roald memiliki keinginan yang amat dalam untuk bertualang dan melanglang buana. Meskipun ia siswa yang beprestasi, ia menolak tawaran ibunya untuk membiayainya berkuliah di Universitas Oxford atau Cambridge.

Seperti yang dikutip dari otobiografinya, Boy: Tales of Childhood, Roald memaparkan, “Tidak, terima kasih. Aku ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah di perusahaan yang bisa membawaku ke tempat-tempat indah dan jauh seperti Afrika atau Cina.” Dan ia memang melakukan apa yang diucapkannya tersebut. Setelah lulus dari Repton tahun 1932, Roald mengikuti sebuah ekspedisi ke Newfoundland. Setelah itu, ia bekerja di Shell Oil Company di Tanzania, Afrika sampai tahun 1939.

Roald Bergabung di Angkatan Udara dan Menjadi Pilot Pesawat Tempur

Gambar 4

Gambar 4

Ketika hasrat berpetualangnya belum terpuaskan, Roald bergabung ke Angkatan Udara Britania Raya (Royal Air Force) pada tahun 1939. Setelah mengikuti pelatihan di Nairobi, Kenya, Roald akhirnya menjadi pilot pesawat tempur di Perang Dunia II. Saat bertugas di Mediterania, Roald mengalami kecelakaan pesawat di Alexandria, Mesir.

Akibat kecelakaan tersebut, Roald mengalami cedera berat di tengkoraknya, tulang belakang, dan pinggul. Roald sampai harus menjalani operasi pinggul dan dua kali operasi tulang belakang. Ia kemudian dipindah ke Washington, D.C. dan menjadi asisten atase udara.

Pertemuannya dengan C.S. Forrester Membuatnya Semangat Menulis

Gambar 5

Gambar 5

Saat berada di Washington, D.C., Roald bertemu dengan penulis C.S. Forrester yang menyemangatinya untuk menjadi penulis. Roald menerbitkan cerita pendek perdananya di Saturday Evening Post. Lalu ia lanjut menulis cerita dan artikel untuk majalan lainnya, termasuk The New Yorker.

Roald mengatakan kalau pengalaman menulisnya terjadi lancar begitu saja. Hanya saja karya pertamanya untuk anak-anak yang berjudul The Gremlins yang terbit pada tahun 1942 tak meraup sukses besar. Akhirnya, ia kembali membuat tulisan bergenre misteri dengan sasaran pembaca orang dewasa. Ia terus berkarya sampai akhirnya bisa sukses menerbitkan Someone Like You pada tahun 1953 dan Kiss, Kiss pada tahun 1959.

Roald Menulis Cerita Anak Saat Sudah Jadi Ayah

Gambar 6

Gambar 6

Pada tahun yang sama saat Someone Like You terbit, Roald menikahi seorang artis film, Patricia Neal yang memenangkan Academy Award atas perannya di Hud tahun 1961. Pernikahan itu bertahan selama tiga dekade dan dikaruniai lima orang anak, salah satunya meninggal dunia tahun 1962 karena ditabrak sebuah taksi di New York City. Putra Roald tersebut mengalami cedera parah dan mengalami hydrocephalus, sayangnya nyawanya tak tertolong kemudian.

Pernikahan Roald dan Neal tak bisa bertahan lebih lama lagi. Roald lalu bercerai dengan Neal pada tahun 1983. Tak lama kemudian, Roald menikahi Felicity Ann Crossland yang bertahan hingga akhir hayatnya.

Roald sering mendongeng atau membacakan cerita untuk anaknya sebelum tidur di malam hari. Kebiasaan itulah yang kemudian menginspirasinya untuk menulis cerita anak-anak. Menurut Roald, anak-anak itu sangat kritis dan cepat sekali merasa bosan. “Kita harus terus menyertakan hal-hal yang menggelitik. Kalau anak sudah kelihatan agak bosan, kita harus segera memikirkan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya. Sesuatu yang menggelitik. Kita harus tahu apa yang disukai anak-anak,” begitu penuturannya pada sebuah wawancara dengan New York Times.

Roald Menulis Ceritanya di Sebuah Gudang di Halamannya

Gambar 7

Gambar 7

Setiap hari pada pukul 10.00-12.00 dan 16.00-18.00, Roald Dahl menulis di sebuah gudang di halamannya. Semua karyanya ditulis dengan menggunakan pensil HB di lembaran kertas berwarna kuning (yellow legal notepads).

Kariernya sebagai penulis buku cerita anak dimulai pada tahun 1961, saat itu ia menerbitkan karyanya yang berjudul James and the Giant Peach. Tiga tahun kemudian, Roald menerbitkan maha karyanya, Charlie and the Chocolate Factory. Kedua buku tersebut kemudian diadaptasi jadi film yang kemudian terkenal.

Roald Dahl Wafat Tanggal 23 November 1990

Setelah mengalami infeksi yang tak diketahui pasti, Roald lalu dirawat di John Radcliffe Hospital di Oxford, Inggris. Ia meninggal dunia di sana pada tanggal 23 November 1990 pada usia 74 tahun. Roald dimakamkan beserta sejumlah benda. Benda-benda tersebut, antara lain gergaji mesin, pensil HB, cokelat, red wine, dan snooker cues.

Image credits:

Gambar 1
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02335/roalddahl_2335901b.jpg

Gambar 2
http://farm9.staticflickr.com/8038/7982199427_4fddd6957b_o.jpg

Gambar 3
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01693/fts-dahl-new0_1693331c.jpg

Gambar 4
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2011/09/13/article-0-00D0F88C00000190-711_634x432.jpg

Gambar 5 http://www.telegraph.co.uk/content/dam/books/2015-07/Roald-Dahls-Darkest-Hour/roald-dahl-family-large.jpg

Gambar 6
http://www.oxfordculturemania.es/wp-content/uploads/2016/02/6142946853_49c55033ed_b.jpg

Gambar 7
http://www.euclidlibrary.org/images/tickle-your-brain/_62816424_fantasticmrdahl.jpg?sfvrsn=0

Punya Investasi Reksadana di Usia 20-an, Ini 5 Keuntungan Terbaiknya!

Ketika akhirnya lulus kuliah dan bekerja, saya menyadari kalau cari uang itu susah. Belum lagi dengan dampak inflasi dan harga kebutuhan yang terus meningkat. Gaji sebulan bisa habis duluan sebelum tanggal tua. Lama-lama cemas juga. Apa iya sampai tua nanti bakal terus hidup dengan dibuat pusing soal uang? Kamu juga mungkin pusing soal bagaimana cara untuk #WujudkanImpianmu di tengah kondisi yang serba sulit ini.

Menabung pun bukan satu-satunya cara untuk bisa menjaga kestabilan finansial. Selain menabung, ternyata ada alternatif yang lebih efektif untuk mengatur keuangan demi masa depan, yaitu investasi. Tapi bukannya investasi itu penuh risiko? Ya, hal itu yang pertama kali terbersit di pikiran saya saat mendengar soal investasi. Sampai akhirnya saya mengetahui soal reksadana. Beberapa bulan terakhir ini pun saya selalu menyisihkan sebagian gaji saya untuk dibelikan reksadana. Manfaatnya pun sungguh langsung terasa.

 Mengacu pada Undang Undang Nomor 8 tahun 1995, reksadana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk selanjutnya diinivestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Investasi sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Tak usah menunggu kaya baru investasi. Bahkan dengan menyisihkan sebagian uang yang kita miliki, kita sudah bisa berinsvestasi. Akan lebih baik lagi jika sudah mulai berinvestasi di usia 20-an. Karena apa? Karena manfaat dan keuntungannya sangat besar. Berikut lima keuntungan terbaik bila sudah mulai berinvestasi di usia 20-an.

1. Uang Kita Aman Dikelola Manajer Investasi

Sibuk bekerja dari pagi hingga sore, enam hari seminggu membuat waktu jadi sangat terbatas untuk mengurusi hal-hal lain di luar pekerjaan. Hal ini kerap jadi alasan kita untuk malas mencoba investasi. Terlebih jika kita tak punya latar belakang ilmu ekonomi, seperti saya, jelas rasanya sudah mikir bakal ribet duluan sebelum mencoba reksadana. “Namun, demi #WujudkanImpianmu kamu juga perlu mencoba sesuatu yang baru,” itu yang saya katakan pada diri sendiri. Dan ternyata proses investasi reksadana sangatlah mudah. Sudah ada manajer investasi yang mendedikasikan waktunya untuk mengelola dana, sehingga kita tak perlu repot-repot menggunakan waktu yang memang sudah terbatas.

Selain itu, risikonya juga terbilang kecil. Reksadana ini dikelola oleh para profesional pasar modal yang memiliki akses pada informasi dan perdagangan efek. Sehingga mereka pun bisa meneliti berbagai peluang investasi terbaik untuk para nasabahnya. Dana investasi kita ditempatkan pada beberapa macam instrumen investasi di pasar modal. Dengan kata lain, risiko kerugian investasi secara keseluruhan jadi lebih kecil.

Berinvestasi reksadana bisa dilakukan dengan sangat mudah. Salah satu caranya adalah memilih investasi online. Jadi, perusahaan penyelenggara reksadana umumnya memiliki situs sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah download prospektus mereka. Kalau sudah mantap untuk berinvestasi, kita tinggal download formulir pembelian. Nanti, kita akan melakukan transfer ke bank custodian, mengisi formulir pembelian, dan mengirimkannya ke perusahaan penyelenggara reksadana. Pihak perusahaan penyelenggara akan mengkonfirmasi subscription kita.

Saat ini ada POEMS ProFunds, yaitu sistem reksadana online yang disediakan oleh dan milik Phillip Securities Indonesia. Apa itu POEMS? POEMS adalah kepanjangan dari Philip’s Online Electronic Mart System. Kita akan sangat terbantu dengan POEMS ProFunds ini untuk membuat analisis yang matang sebelum akhirnya membuat keputusan investasi reksadana.

poems

Banyak fitur yang tersedia di aplikasi POEMS. Mulai dari info terbaru, grafik saham, status pemesanan, stock screener, dan juga Smart Safe yang bisa digunakan untuk membatasi serta melindungi profit. Satu lagi yang paling menarik dan sangat membantu adalah adanya supermarket reksadana yang menyediakan sedikitnya 40 produk yang dilengkapi prospektus masing-masing. Sehingga kita tak akan kebingungan untuk memutuskan membeli yang mana.

poems profunds

Dengan saham dan reksadana online berada dalam satu platform, kita bisa berinvestasi dengan lebih nyaman dan mudah. Buat kamu yang sibuk dengan pekerjaan dan berbagai kesibukan lain, jelas kehadiran POEMS ProFunds sangat membantu sekali. Kita pun bisa dengan mudah memaksimalkan dana mengendap menggunakan fitur autosweep. Sehingga, return yang kita dapat jadi lebih maksimal. Berinvestasi pun jadi lebih leluasa karena reksadana bisa sangat diandalkan sebagai jaminan transaksi saham.

poems profunds nasabah

Sekalipun kamu bukan nasabah, kamu tetap bisa #WujudkanImpianmu untuk berinvestasi dengan cara mudah. Yang kamu lakukan cukup membuka rekening efek dengan deposit awal satu juta rupiah. Kalau kamu mahasiswa, caranya lebih gampang, cukup deposit awal senilai 100 ribu rupiah saja. Dengan cara itu, kamu sudah bisa menikmati tiga keunggulan investasi reksadana tanpa ribet.

2. Keuangan Lebih Terkontrol Meski Gaji Pas-Pasan

Setiap kali gajian, sebagian selalu saya sisihkan untuk diinvestasikan. Meski gaji pas-pasan, saya merasakan betul manfaatnya untuk lebih mudah mengontrol keuangan dengan berinvestasi reksadana. Walau memang harus agak dipaksa, tapi kalau nggak disiplin dan mengendalikan diri, jelas pemborosan akan terus terjadi. Agar bisa #WujudkanImpianmu kamu memang harus bisa belajar mengendalikan diri sejak dini.

Reksadana memang wadah yang tepat untuk orang-orang yang punya dana pas-pasan. Punya dana pas-pasan akan membuat kita sulit membeli suatu instrumen apalagi untuk mendiversifikasikan portofolionya. Untuk para investor pemula, membeli reksadana bisa menjadi langkah pertama yang aman.

3. Lebih Percaya Diri Menatap Masa Depan dengan Keuangan yang Stabil

Di usia 20-an, biasanya kita sudah mendapat pekerjaan dan hidup lebih mandiri. Cuma godaannya kadang kita jadi mudah tergoda tren kekinian. Belanja jadi boros hanya karena faktor tren atau ikut-ikutan. Kalau kebiasaan ini dibiarkan terus, bisa-bisa nanti di hari tua kita tak punya cadangan uang atau tabungan. Alangkah lebih baik jika saat ini agak mengerem kebiasaan supaya bisa memiliki masa depan yang lebih baik dengan keuangan yang stabil. Saatnya untuk #WujudkanImpianmu dengan berinvestasi reksadana. Gaya hidup yang paling menguntungkan di zaman yang serba dinamis ini bukanlah yang foya-foya melainkan yang lebih bisa menyesuaikan kondisi dan kemampuan dengan prioritas paling utama.

Untuk sukses berinvestasi di reksadana, ada dua hal penting yang perlu kita lakukan. Pertama, jangan mudah panik. Di usia 20-an kadang kita masih susah mengendalikan diri dan terbawa emosi. Tapi dengan berinvestasi di reksadana, kita akan terlatih untuk tak gampang panik. Misalnya, hanya karena bulan ini minus, jangan langsung ambil keputusan gegabah karena siapa atahu beberapa saat lagi akan naik. Kedua, jangan mudah terpancing euforia pasar. Jangan sampai terlalu mudah termakan gosip atau kabar berita yang tak jelas kebenarannya.

4. Reksadana Mudah Dimonitor, Jadi Kita Punya Banyak Waktu untuk Mengerjakan yang Lain

Investasi reksadana yang kita punya juga harus dimonitor. Ibarat setelah menebar benih, kita harus selalu menyirami dan memberinya pupuk agar bisa tumbuh menjadi tanaman yang sehat dan besar. Begitu pula saat sudah punya reksadana. Kita juga harus memonitornya. Tapi jangan dibayangkan kalau memonitornya bakal ribet dan susah. Gampang saja, kok.

Umumnya reksadana perlu dimonitor sebulan sekali. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada perubahan dalam internal investor maupun secara eksternal (kondisi pasar). Lalu, apa saja hal utama yang perlu dimonitor? Pertama, membandingkan kinerja reksadana dengan tolak ukur dan reksadana sejenis lainnya. Kedua, menghitung hasil investasi masing-masing portofolio untuk membandingkannya dengan tujuan investasi yang ingin dicapai. Ketiga, perlu tidaknya melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud berkaitan dengan tujuan awal kita berinvestasi dan berhubungan juga dengan kondisi pasar.

Mudahnya memonitor reksadana ini membuat kita punya waktu lebih banyak untuk mengerjakan hal dan prioritas lain. Masih bisa bekerja seperti biasa dan beraktivitas rutin tanpa khawatir uang di reksadana akan hilang atau berkurang. Ada banyak waktu yang bisa kamu lakukan untuk #WujudkanImpianmu yang paling besar.

Oh ya, penting juga untuk memilih pengelola reksadana dengan latar belakang terpercaya. Penting untuk memastikan stabilitas dan likuiditasnya sudah teruji dengan baik.

Dari berbagai manajar investasi yang bergabung dengan POEMS ProFunds, Manulife Asset Manajemen Investasi (MAMI) adalah yang paling terpercaya. Alasan pertama, MAMI sudah sangat berpengalaman dalam pengelolaan dana masyarakat. Alasan kedua, MAMI menawarkan berbagai jenis reksadana, sebut saja pendapatan tetap, pasar uang, syariah, saham, dan campuran. Alasan ketiga, kita bisa berinvestasi dengan dana pas-pasan. Dengan 100 ribu per bulan kita sudah bisa punya investasi reksadana. Alasan keempat, bisa membantu kita mendapatkan keuntungan besar dalam investasi reksadana jangka panjang. Kita bisa memilih investasi online reksadana saham Manulife Dana Saham yang berfokus pada saham unggulan.

manulife reksadana

Untuk investor pemula, kita bisa memilih Reksadana Pasar uang yang merupakan salah satu produk investasi yang disediakan MAMI. Salah satu kelebihan dari Reksadana Pasar Uang ini adalah hasil investasi reksadana tak dipitong pajak, sifatnya pun likuid dalam arti bisa dicairkan kapan saja. Jadi, kalau kita sewaktu-waktu membutuhkan uang, kita bisa segera mencairkan reksadana tersebut. Salah satu produk MAMI yang tak kalah menguntungkannya adalah Manulife Syariah Sektoral Amanah. Jadi, reksadana tersebut dikelola berdasarkan atau berbasis prinsip-prinsip syariah.

5. Nggak Gampang Stres dengan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Menyimpan uang dalam bentuk deposito atau tabungan bisa membuat nilai uang itu berkurang karena inflasi. Harga barang-barang dan kebutuhan pokok pun akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebut saja nilai uang 100 ribu rupiah tahun ini dengan tahun depan pasti berubah. Ibaratnya kalau dengan uang 100 ribu rupiah, kita bisa menggunakannya untuk uang makan selama 3 hari, tahun depan bisa jadi cuma cukup untuk dua hari saja.

Kalau sedari awal kita sudah menginvestasikan sebagian uang kita untuk reksadana, setidaknya kita nggak akan gampang stres dengan kenaikan inflasi. Karena nilai uang yang kita investasikan di reksadana akan tetap stabil. Sebagai contoh, kalau dalam setahun ada kenaikan inflasi sebesar 4 persen sementara kita dapat keuntungan 6 persen dari investasi reksadana dalam waktu satu tahun, bisa dibilang nilai uang kita masih bisa lebih tinggi 2 persen. Jadi hati terasa lebih tenang, kan? Kamu juga bisa #WujudkanImpianmu dan masa depanmu dengan lebih baik melalui investasi reksadana yang dimulai di usia 20-an.

 

 

 

Mental Juang B.J. Habibie sebagai Semangat Generasi Muda Membangun Bangsa

image credit: owgram.com

“Apa yang seharusnya dilakukan oleh anak muda Indonesia untuk membuat negeri ini lebih baik?
Meningkatkan disiplin, produktivitas dan kualitas berpikir, bekerja, serta berkarya sesuai kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Untuk mencapai ini, anak muda Indonesia harus cinta pada sesama manusianya, cinta pada karya sesama manusianya, cinta pada lingkungan hidupnya, cinta pada pekerjaannya, dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.” (Tugas Generasi Muda Indonesia, Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!).

B.J. Habibie menuliskan, “Kita adalah keturunan bangsa pejuang, yang tidak mengenal lelah dan kalah.” Setelah Indonesia merdeka, tugas kita lah untuk meneruskan perjuangan para pahlawan untuk membangun negeri. Hanya saja, terkadang semangat untuk berjuang itu luntur. Padahal saat ini banyak kemudahan dan fasilitas yang didapat generasi muda untuk berkarya. Lalu, apa masalahnya? Masalahnya adalah karena tidak ada tujuan dan terlena dengan berbagai kesenangan duniawi yang ada.

Bercermin dari kisah seorang Habibie, ada mental juang luar biasa yang bisa dijadikan bekal semangat para generasi muda untuk membangun bangsa. Pengalaman hidupnya sudah cukup untuk membuat setiap penerus bangsa termotivasi berkarya dengan cinta. Berkarya untuk kemajuan negara. Bekerja dengan cara yang  bermartabat. Lebih penting lagi, memanfaatkan semua kesempatan waktu dan usia yang dipunya.

Berikut lima petikan pengalaman dan perjuangan Habibie yang akan membuat kita kembali optimis untuk membangun negeri dengan lebih baik. Semoga detik berikutnya, kita kembali memiliki semangat untuk kembali berkarya.

Buku dan Ilmu adalah Bekal untuk Masa Depan

Saat masih belia, Habibie menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tenggelam dalam buku dan ilmu pengetahuan. Membaca sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Sampai-sampai sang kakak, Titi Sri Sulaksmi sering kesulitan untuk mengajak Habibie bermain di luar. Bukannya Habibie tak pernah bermain hanya saja kecintaannya pada buku sungguh sangat kuat. Banyaknya buku yang tersedia di rumah membuatnya sering larut sendiri. Ketekunannya saat itu pun menjadi bekal paling dasar akan kesuksesannya di masa depan.

Dengan hadirnya internet, generasi modern saat ini bisa belajar dan mendapatkan sumber informasi dengan sangat mudah. Hanya saja, kemudahan itu juga hadir dengan godaan. Ada banyak sumber hiburan dan kesenangan yang bisa didapat di internet. Alhasil, kalau tak bisa benar-benar mengendalikan diri, kita akan lebih terlena untuk bermain-main dan bukannya belajar. Padahal untuk masa depan yang lebih cemerlang, belajar seharusnya sudah jadi sebuah kebutuhan.

Ada info menarik nih!
Pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang dilaksanakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2006 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat.

Memiliki Tujuan Pasti dalam Hidup

Penting sekali untuk memiliki tujuan pasti dalam hidup. Mengenai apa yang paling ingin dicapai dan diwujudkan. Lalu, benar-benar berjuang untuk  mengejar dan mendapatkannya. Seperti kisah Habibie semasa kecil. Saat duduk di bangku sekolah, ia sudah tahu dengan pasti cita-citanya. Ia ingin menjadi insinyur. Hasrat dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuatnya berani untuk menetapkan sebuah tujuan.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memiliki tujuan hidup yang pasti? Apakah tujuan hidup kita bisa memberi arti pada negeri? Atau malah selama ini kita hanya membuat angan kosong dan menjalani hidup tanpa makna?

kutipan habibie 2

Keterbatasan Tak Perlu Dijadikan Halangan

Habibie pernah tidur beralas tikar saat tinggal dengan pamannya di Jakarta. Saat itu, oleh ibundanya, Habibie pindah ke Jakarta untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Habibie terpaksa tidur di ruang tamu karena kondisi keluarga pamannya yang banyak anak. Setelah itu, ia pindah ke Bandung dan tinggal di keluarga Syamsuddin, kepala Kantor Tera untuk Indonesia di Bandung.

Usai lulus ujian SMA tahun 1954, Habibie berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia bidang elektronika di Bandung yang kini namanya menjadi Institut Teknologi Bandung. Enam bulan belajar di sana, ia kemudian berhasil mendapat izin belajar di Jerman dari Kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi. Itu bukan berarti ia bisa belajar di Jerman dengan gratis sepenuhnya. Habibie diberi kemudahan oleh Mendikbud untuk membeli valuta asing sebagai biaya menempuh pendidikan selama di Jerman. Sementara untuk biaya berangkat dan biaya hidup, ia harus menanggungnya sendiri.

Walau tak mendapat beasiswa penuh saat belajar di Rheinisch Westfaelische Technische Honchschule Aachen, Fakultet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman, Habibie tetap bisa berjuang hingga lulus dengan nilai magna cum laude. Keterbatasan biaya tak menyurutkan semangatnya. Justru jadi lecutan dan motivasi untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya sebaik dan secepat mungkin.

Membangun Negeri adalah Tugas Anak Bangsa

Karier Habibie terus naik setelah lulus kuliah. Jabatan sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi pernah disandangnya saat bekerja di perusahaan pesawat pengangkut sipil dan militer Hamburger Flugzeugbau Bay (HFB) yang bergabung dengan perusahaan pesawat tempur milik keluarga Messerschmidt di Augsburg dan perusahaan pesawat helikopter dan senjata milik keluarga Bolkow di Stuttgart bergabung menjadi perusahaan Messerschmidt Bolkow Blohm atau MBB. Namun, dengan jabatan yang tinggi tersebut, tersimpan keinginan untuk bisa pulang ke Indonesia dan membangun negeri.

Sampai pada suatu hari, Habibie bertemu dengan Ibnu Sutowo di Dusseldorf pada bulan Desember 1973. Habibie tercekat ketika Direktur Utama Pertamina tersebut berkata, “Di Indonesia, orang-orang sedang membangun, kamu kok malah di sini?” Bertahun-tahun hidup dan bekerja di Jerman, akhirnya jiwa nasionalismenya kembali bangkit. Habibie pun kembali ke bumi pertiwi.

kutipan habibie 3

Kita terlahir sebagai seorang Indonesia, jadi kalau bukan kita sendiri siapa yang akan membangun negeri ini? Seorang Habibie pun yang sudah sukses dan berkarier gemilang Jerman rela kembali ke ibu pertiwi untuk Indonesia yang lebih baik.

Pemuda Zaman Sekarang Memiliki Tantangannya Sendiri

“Perbedaan paling mencolok karakter pemuda zaman sekarang dengan zaman Habibie muda dulu adalah bahwa pemuda zaman Habibie tidak materialistik, lebih sadar pada nilai-nilai budaya, nilai-nilai Pancasila, rendah hati, dan mempunyai rasa malu!” (Pemuda Zaman Sekarang, Habibie: Tak Boleh Kalah dan Kalah). Setiap zaman dan generasi memiliki tantangannya sendiri. Terlebih semakin modern dan dinamis sebuah zaman, tantangan dan perjuangannya akan makin berat.

kutipan habibie 1

Belajar dari mental juang Habibie, perjalanannya hingga bisa sukses dan tetap dihormati hingga usia senja, semua itu sebenarnya sudah bisa jadi bekal yang cukup untuk membuat kita bersemangat berkarya membangun negeri. Melakukan sesuatu yang kita bisa dan kuasai untuk kehidupan yang lebih baik. Membuat hidup lebih berarti lagi.

Jadi, karya terbaik apa yang akan kita buat untuk tanah air tercinta?

7 Langkah Menulis Esai yang Super Mudah

Menulis memang soal latihan. Belajar teori saja tak akan pernah cukup kalau tidak langsung mencobanya langsung. Ibaratnya ya seperti naik sepeda. Selamanya kita nggak akan bisa naik sepeda kalau cuma baca panduannya saja tanpa mencoba langsung turun ke jalan dengan mengayuhnya.

Kali ini kita akan sama-sama belajar soal langkah-langkah menulis esai yang sempurna. Kathy Livingston dalam Guide to Writing a Basic Essay memaparkan ada tujuh langkah yang perlu kita ikuti untuk menulis sebuah esai yang efektif. Langkah-langkahnya ternyata cukup sederhana dan bisa langsung kita coba.

1. Memilih Topik

Tentukan dan tetapkan topiknya. Kita perlu tujuan dalam menulis esai. Esai yang ditulis harus punya misi. Apa yang ingin kita sampaikan melalui esai kita? Topik apa yang akan kita jabarkan dalam tulisan kita? Kalau perlu kerucutkan lagi topik tersebut sampai menemukan sebuah fokus utama.

2. Buat Diagram untuk Bakal Esaimu

Buatlah diagram. Ambil selembar kertas, tulis topikmu di tengah halaman. Lalu buat tiga atau lima cabang dari topik tersebut lalu buat ide pokok untuk setiap cabangnya. Kalau ada hal-hal yang mau ditambahkan bisa langsung bikin cabang-cabang baru.
Atau kita juga bisa tulis topik kita di bagian paling atas halaman, kemudian di bawahnya langsung kita tuliskan ide pokok apa saja yang ingin kita sampaikan. Lengkapi setiap ide pokok dengan info-info penunjang atau yang akan dibutuhkan.

3. Tulis Pernyataan Esai (Essay Statement)

Sudah punya topik dan gagasan yang ingin disampaikan, sekarang saatnya bikin pernyataan esai. Pernyataan esai ini ibaratnya pusat atau kepala dari esaimu nantinya. Biasanya cuma terdiri dari satu kalimat yang memiliki dua bagian, yaitu topik dan poin esaimu.
Sebagai contoh, kamu mau menulis soal tips sukses wawancara kerja. Pernyataan esaimu bisa seperti ini, “Untuk sukses dalam wawancara kerja, ada lima hal utama yang perlu dipersiapkan.” Pernyataan esai inilah yang akan jadi panduan utama para pembacamu ketika membaca esaimu.

4. Tulis Poin-Poin untuk Setiap Paragraf

Setiap paragraf memiliki struktur yang sama. Mulai dari ide pokok, lalu berlanjut ke poin-poin yang menjabarkan, menjelaskan, dan mendukung ide pokok tersebut. Pastikan isi paragraf mendukung ide pokok yang sudah ditulis sebelumnya.

5. Tulis Bagian Pembukanya

Sudah punya kerangka tulisannya, kini bikin bagian pembukanya. Sebisa mungkin bikin kalimat yang langsung menarik perhatian pembaca. Entah itu dengan menampilkan sebuah informasi, dialog, cerita, kutipan, atau mungkin ringkasan singkat topikmu. Apapun sudut pandang yang kamu ambil, pastikan tidak menyimpang dari pernyataan tesis yang sudah dibuat.

6. Tulis Kesimpulannya

Kesimpulan ini berisi penutup dari topikmu juga rangkuman dari semua gagasan yang kamu paparkan. Paragraf kesimpulan ini bisa terdiri dari tiga atau lima kalimat saja yang mewakili semua. Beri penekanan lagi yang mengacu pada pernyataan tesismu.

7. Perhatikan Hal-Hal Kecil yang Mungkin Terlewat

Cek lagi urutan dan logika esaimu. Perhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewat. Cek lagi apakah semua info yang kamu butuhkan sudah terpenuhi semua. Jangan sampai ada paragraf yang isinya acak-acakan tak karuan.

Oh ya, setelah esaimu jadi, pastikan kamu menyempatkan waktu untuk mengeditnya lagi. Kalau bisa minta bantuan seseorang yang lebih berpengalaman untuk membantu memoles atau memberi masukan pada esaimu.

Tapi yang terpenting dari semua adalah menulislah sekarang juga. Detik ini juga. Sekalipun itu hanya satu kalimat.

***

image credit of headline: pixabay

Museum Malang Tempo Doeloe, Ada Apa Saja di Dalamnya?

Museum Malang Tempo Doeloe
Alamat: Jl. Gajahmada, Kidul Dalem, Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia
Telepon:+62 341 6802301

Sudah lama saya mendengar tentang museum ini. Tapi baru beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk mengunjunginya. Cukup penasaran juga sebenarnya ada apa saja sih di dalam museum ini?

Dari namanya saja sudah bisa tertebak kalau di museum ini kita bisa melihat berbagai peninggalan sejarah, khususnya semua yang berkaitan dengan Malang. Saya sendiri sebagai orang asli Malang sebenarnya tak banyak tahu tentang sejarah kota sendiri. Jadi ketika akhirnya bisa mengunjungi museum ini cukup excited juga sebenarnya.

Menurut info yang saya dapat, museum ini diresmikan tanggal 22 Oktober 2012. Museum biasanya identik dengan kesan membosankan dan angker. Tapi di Museum Malang Tempo Doeloe ini kesan angker terkalahkan dengan desain interior yang apik dengan cita rasa modern. Di museum ini kita bisa tahu urutan sejarah kota Malang yang cukup lengkap. Mulai dari zaman purbakala 1,5 juta tahun lalu, masa kejayaan sejumlah kerajaan, hingga masa penjajahan.

Sebenarnya memang paling afdol keliling museum ini ditemani dengan pemandu. Jadi kita bisa mendapat banyak informasi yang lebih lengkap tentang urutan sejarah dan berbagai silsilah kerajaan. Saat itu saya cukup beruntung bisa mengikuti rombongan dengan seorang pemandu. Meski saya nggak bisa mengingat semua penjelasan sejarahnya, tapi jadi cukup menarik bisa mengikuti alur sejarah di dalam museum tanpa tersesat atau kebingungan.

Ditemani pemandu di Museum Malang Tempo Doeloe.

Ditemani pemandu di Museum Malang Tempo Doeloe.

Yang paling menarik di museum ini adalah benda-benda peninggalan sejarahnya. Mulai dari mesin ketik hingga kamera yang super jadul. Saya paling suka dengan mainan-mainan tradisionalnya yang mengingatkan saya akan masa-masa dulu ketika belum mengenal internet, komputer, apalagi ponsel.

Barang wajib yang harus dibawa ke museum ini adalah kamera atau minimal ponsel dengan kamera yang memadai.

Barang wajib yang harus dibawa ke museum ini adalah kamera atau minimal ponsel dengan kamera yang memadai.

Unik ya.

Unik ya.

Banyak hal menarik yang bisa diabadikan di museum ini.

Banyak hal menarik yang bisa diabadikan di museum ini.

Sekalipun kita tak suka pelajaran sejarah, jalan-jalan ke museum ini seru juga. Minimal bisa mendapat foto-foto unik dan kreatif. Pecinta fotografi nggak akan bosan untuk mengabadikan setiap sudutnya.

Oh ya, setelah dari museum, kita bisa menikmati aneka kuliner lezat di Restoran Inggil yang tak jauh dari lokasi museum. Atau mau jalan-jalan ke alun-alun tugu? Bisa banget! Tinggal ngesot saja langsung deh sampai ke salah satu alun-alun tercantik di kota Malang.

alun-alun malang

Info Tambahan:
Lokasi museum ini juga mudah terjangkau kendaraan umum. Kalau dari Terminal Landungsari bisa naik angkot jurusan AL atau ADL lalu turun di Alun-Alun Tugu. Kemudian, menyeberang ke arah balaikota lalu masuk ke gang Jalan Gajahmada. Jalan sedikit dan sampai deh di depan museum langsung. Sementara kalau dari Terminal Arjosari bisa juga naik angkot jurusan AL atau ADL. Nanti minta turun langsung di depan balaikota Malang. Lalu temukan Jalan Gajahmada dan tinggal jalan sekitar lima menit, sampai sudah di depan museumnya.

5 Hal Seru yang Bisa Dilakukan di Selecta, Batu

Ingin cari suasana yang adem? Ingin foto bareng bunga-bunga cantik? Atau sekadar cari udara segar di kota Batu? Coba mampir ke Selecta, deh. Taman rekreasi yang satu ini paling cocok dikunjungi bareng keluarga, pasangan, teman, atau bahkan sendirian.

Saya sendiri pertama kali ke Selecta kalau tidak salah sewaktu lulus SD, sekitar 15 tahun yang lalu! Sudah lama sekali memang. Ketika akhirnya salah satu teman kantor ngajakin ke sana hari Minggu beberapa waktu lalu, saya langsung mengiyakan. Penasaran dengan wajah Selecta yang sekarang. Ternyata memang banyak yang berubah dari Selecta belasan yang lalu dengan Selecta  yang sekarang (ya iyalah ya!).

Kalau saya ditanya apa saja hal seru yang bisa dilakukan di Selecta, saya bisa merangkumkan lima hal. Here they are!

1. Foto Bareng Bunga-Bunga

Bunga-bunga cantik di Selecta.

Bunga-bunga cantik di Selecta.

Di Selecta, kita bisa melihat hamparan bunga yang cantik dan warna-warni. Saya lupa jenis bunganya apa saja, yang jelas kita bisa menyusup di sela-sela taman bunga dan berfoto di antaranya. Tak perlu khawatir menginjak bunga-bunganya karena jarak antar bunga tak terlalu rapat jadi bisa dilewati. Tapi tetap hati-hati juga jangan sampai salah injak dan menabrak bunga-bunga cantik itu. Salah injak nanti bisa dihujat.

2. Berenang

Kalau tidak salah ada tiga kolam renang di Selecta. Ada kolam yang lebih dangkal untuk anak-anak. Ada juga kolam renang yang lebih dalam dengan perosotan panjang untuk orang dewasa.

3. Ada Wahana, Kuda, Hingga Flying Fox Juga

Selecta saat ini.

Selecta saat ini.

Bisa juga lho mengelilingi area Selecta dengan naik semacam sepeda udara. Ada jalur yang sudah disediakan untuk mengelilingi area Selecta dari atas. Satu sepeda bisa dinaiki dua orang, cocok deh buat pasangan yang mau romantis-romantisan.

Buat pecinta adrenalin bisa juga naik flying fox. Sekali coba biayanya 10 ribu rupiah (ah, saya juga lupa info tepatnya untuk yang satu ini, mohon maaf kalau salah, heu).

Ada juga fasilitas keliling Selecta naik kuda. Lumayan bisa jalan-jalan santai naik kuda di Selecta. Nggak pernah atau takut naik kuda? Tenang saja, ada petugas yang siap menuntun kuda yang kita naiki.

4. Foto Romantis Bareng Si Tercinta

selecta batu 5

Mau romantis-romantisan juga bisa.

Ada bingkai-bingkai bunga yang dibentuk hati. So, kalau mau foto romantis bareng pasangan juga bisa banget. Malah sempat saya melihat ada sepasang muda-mudi yang minta tolong orang lain untuk dipotret dan pasangan itu foto ala-ala drama Korea dengan gandengan tangan sambil saling tatap (ouch).

5. Ngasih Makan Ikan

selecta 2

Saat memasuki area wisata Selecta, kita akan disambut kolam-kolam dengan ikan yang gede-gede di dalamnya. Melihat ikan berenang kesana-kemari kabarnya bisa meredakan stres, lho. Kalau tertarik untuk memberi makan ikan, bisa juga beli makanannya di kios yang nggak jauh dari kolam tersebut.

Paling cocok ke Selecta saat cuacanya cerah. Waktu saya ke sana, sekitar pukul 11 siang hujan sudah turun. Makin lama makin deras. Tapi saya nggak langsung pulang, melainkan jalan-jalan lagi melintasi taman bunga lalu berteduh di semacam gedung serbaguna di sana.

Foto  yang diambil ketika hujan mulai turun.

Foto yang diambil ketika hujan mulai turun.

Untuk menuju Selecta paling enak memang  naik kendaraan sendiri, sepeda motor atau mobil. Tiketnya waktu itu saya berdua dengan teman saya bersepeda motor, 55 ribu rupiah (sudah termasuk ongkos parkir). Kalau mau naik kendaraan umum, dari Terminal Batu bisa langsung naik angkot warna oranye jurusan Batu-Selecta. Nanti turunnya langsung di pemberhentian terakhir.

Jadi, kapan mau ke Selecta?

Inspirasi Sukses di Bisnis Online dari Kisah Ken “Kaskus”

Sumber gambar HL dari SINI.

Siapa sih yang tak mengenal Kaskus? Sebagian besar masyarakat Indonesia khususnya anak muda pasti sudah sangat familiar sekali dengan situs yang satu ini. Sejak resmi hadir di Indonesia tahun 2008 lalu, situs yang pertama kali dibuat bulan November 1999 di Seattle ini sekarang sudah menyedot perhatian jutaan pengguna internet.

Tercatat pada tahun 2008 saja sudah ada 300 ribu anggota dan angka ini terus meningkat dan di tahun 2013 saja jumlah anggotanya mencapai 5,6 juta. Wah, luar biasa sekali ya! Kesuksesan besar ini jelas tak mungkin ada tanpa “dalang” hebat di belakangnya, Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata. Andrew Darwis adalah pencipta Kaskus. Kaskus, singkatan dari Kasak Kusuk, lahir dari tugas kuliah yang diterima Andrew saat jadi mahasiswa di Art Institute of Seattle. Awalnya Kaskus dibuat sebagai ajang berbagi atau diskusi untuk para mahasiswa Indonesia yang ada di Seattle juga Amerika secara umum. Tak disangka lambat laun trafik Kaskus meningkat dan makin populer. Hal inilah kemudian yang membuat Ken (yang masih sepupu jauh Andrew) melihat ada peluang cemerlang dari Kaskus.

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

Jika Ken tak gigih meluluhkan hati Andrew dan meminta persetujuan Papinya, mungkin Kaskus tak sebesar sekarang. Ada perjuangan jatuh bangun yang dialami Ken untuk bisa membidani hingga membesarkan Kaskus. Bahkan ia sempat nyaris konflik dengan Andrew di awal-awal usahanya mengembangkan Kaskus. Mengangkat Kaskus agar menjadi bisnis yang bisa dikolela dengan profesional dan modern bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan hanya membalikkan telapak tangan.

Kaskus menjadi magnet yang terus menyedot pikiran Ken

Berawal dari sama-sama menghadiri menghadiri undangan acara makan malam untuk para mahasiswa baru di Seattle, terkuaklah kenyataan bahwa Andrew dan Ken masih sepupu jauh. Lebih dari itu, yang lebih mengejutkannya lagi, Ken tak menyangka kalau Kaskus yang kala itu sangat populer di Indonesia adalah buatan Andrew.

Melihat Andrew yang menceritakan banyak hal tentang Kaskus, Ken merasa tergugah. Di mata Ken, Andrew adalah sosok yang brilian. Dari apartemen sederhananya dan kelincahan jari-jari tangannya, Andrew bisa menarik ratusan ribu orang untuk menjadi pengguna setia Kaskus. Trafik Kaskus yang luar biasa pun memunculkan gagasan baru di pikiran Ken.

Ken melihat kalau Kaskus mampu menarik banyak iklan masuk. Apalagi sejak pertemuannya dengan Andrew, Ken sedikit banyak sudah mulai tahu dunia bisnis online. Hanya saja masalahnya saat itu Ken masih kuliah. Ditambah lagi seluruh keluarganya berharap ia dapat menuntaskan kuliahnya, pulang dengan gelar sarjana, lalu bergabung di perusahaan keluarga. Di satu sisi ia ingin sekali ikut mengembangkan Kaskus. Tapi di sisi lain, sulit baginya untuk memupuskan harapan besar keluarganya.

Ken akhirnya berhenti kuliah

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

Setelah melakukan banyak pertimbangan dan pergulatan yang panjang, Ken akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah. Ia ingin mendapatkan saham dan fokus mengelola Kaskus. Namun, siapa sangka justru di titik balik itu ia masih harus berjuang mati-matian.

Pada awal tahun 2008, Ken berusaha untuk meyakinkan Papinya agar mau meminjaminya uang untuk berinvestasi pada Kaskus. Pasalnya saat itu Andrew memaparkan kalau ada seseorang yang ingin membeli situs Kaskus sebesar lima ratus ribu dolar atau sekitar 5 miliar rupiah. Andrew yang tadinya enggan menjual sebagian saham Kaskus kepada Ken akhirnya memberi syarat: Ken boleh mendapat sebagian saham dan ikut memiliki Kaskus kalau mampu berinvestasi dengan nilai melebihi 5 miliar rupiah.

Jelas bukan hal mudah bagi Ken untuk meyakinkan Papinya tentang bisnis online. Papinya sangat tidak paham dunia online karena “nggak bisa dipegang” dan “nggak ada barangnya”. Ken sampai harus meminta bantuan Maminya untuk membujuk Papinya. Setelah semua usaha dan tenaga dikerahkan, akhirnya Ken mendapat persetujuan Papinya. “Ken, baiklah. Papi bersedia meminjamkan kamu modal. Nasihat Papi, berinvestasilah dengan cerdas. Jangan kamu main-main dengan Kaskus. Pakai akal pikiran dan energimu agar situs ini jadi besar seperti yang kamu cita-citakan,” pesan Papi pada Ken. Sungguh jadi titik terang yang baru bagi Ken.

Andrew sempat berubah pikiran

Setelah mendapat persetujuan dan pinjaman dari Papi, Ken menemui Andrew. Tapi bagai petir di siang bolong, Andrew berubah pikiran. Ia tak jadi jual saham Kaskus ke Ken. Ken kesal. Sudah tiga kali kesepakatan dilanggar Andrew. Belum lagi dengan usaha Ken yang sudah mati-matian meyakinkan Papinya mau meminjaminya uang.

Rupanya saat itu Andrew belum benar-benar siap secara mental untuk membagi Kaskus dan menjalankannya dengan strategi bisnis yang lebih profesional. Setelah merenung berminggu-minggu, barulah Andrew kembali menghubungi Ken. Kali ini Andrew sudah benar-benar mantap menjalin rekanan dengan Ken. “Besok kita berjuang, Ken. Lo harus buktikan bahwa Kaskus memang bisa maju dengan pengelolaan kita di Indonesia,” ucap Andrew. Ada semangat baru tapi juga ada perjuangan yang lebih berat di depannya.

Memulai semua dari nol

Sumber gambar dari SINI.

Sumber gambar dari SINI.

PT Darta Media Indonesia akhirnya didirikan. Darta sendiri merupakan singkatan dari Darwis dan Lawadinata. Setelah perusahaan resmi berdiri, apakah perjuangan usai? Ternyata tidak. Ken malah merasakan stres yang besar dengan tanggung jawab baru di pundaknya. Ken harus membuktikan pada Andrew kalau ajakannya kembali ke Indonesia untuk membesarkan Kaskus tidak keliru dan membuktikan pada Papi bahwa dirinya bukan sekadar orang yang kerjanya cuma menghabiskan uang.

Ken tetaplah optimis dan berjuang. Bersama Andrew, ia mulai membangun relasi, membentuk organisasi di kantor, merekrut orang, dan mencari iklan dari nol. Apalagi saat itu mereka tak punya satu pun kenalan yang bergelut di dunia online. Tapi mereka tetap berjuang dan berusaha. Gagal? Coba lagi. Lelah? Bangkit lagi. Dan apa yang terjadi kemudian? Kini Kaskus sudah jadi situs yang paling hits di Indonesia.

Pernah suatu malam saat masih di Seattle, Ken bertanya pada Andrew, “Andrew, gimana caranya supaya gue bisa mulai bisnis online?”

Andrew menjawab, “Lo harus punya modal. Nabung dulu dan bikin itu tanpa pretensi harus dapat duit banyak dengan cepat. Bikin aja yang kreatif dan menarik, nanti akan berkembang sendiri. Yang penting tuh fungsinya, Ken, dan daya tariknya bagi pengguna. Kalau situs lo nggak ada penting-pentingnya buat mereka, mau lo jumpalitan juga mereka nggak akan buka situs lo.”

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menulis?

Kalau ditanya kapan waktu yang tepat untuk menulis, tiap orang pasti punya cara dan jawabannya tersendiri. Ada yang lebih suka menulis di pagi hari, malam hari sebelum tidur, atau bahkan ketika sudah mepet dengan tenggat waktu. Para penulis profesional pun juga punya waktu dan kebiasaan khusus untuk menulis.

Jadi jawaban paling umum tentang kapan waktu yang tepat untuk menulis adalah relatif.

Kalau saya sendiri, waktu yang tepat untuk menulis adalah ketika sudah di depan laptop atau monitor komputer. Karena keseharian saya bekerja untuk membuat konten media online, jadi mau tak mau saya harus bisa menyesuaikan diri untuk selalu mengondisikan diri bisa menulis kapan saja. Menulis saat itu juga, di detik itu juga! Kalau tidak, maka saya akan dikalahkan oleh rasa malas saya sendiri dan pada akhirnya tak menulis apa-apa.

Khaled Housseni: “You have to write whether you feel like it or not.”

I don’t outline at all, I don’t find it useful, and I don’t like the way it boxes me in. I like the element of surprise and spontaneity, of letting the story find its own way. For this reason, I find that writing a first draft is very difficult and laborious. It is also often quite disappointing. It hardly ever turns out to be what I thought it was, and it usually falls quite short of the ideal I held in my mind when I began writing it. I love to rewrite, however. A first draft is really just a sketch on which I add layer and dimension and shade and nuance and color. Writing for me is largely about rewriting. It is during this process that I discover hidden meanings, connections, and possibilities that I missed the first time around. In rewriting, I hope to see the story getting closer to what my original hopes for it were.

I have met so many people who say they’ve got a book in them, but they’ve never written a word. To be a writer — this may seem trite, I realize — you have to actually write. You have to write every day, and you have to write whether you feel like it or not. Perhaps most importantly, write for an audience of one — yourself. Write the story you need to tell and want to read. It’s impossible to know what others want so don’t waste time trying to guess. Just write about the things that get under your skin and keep you up at night.

Mengutip yang dikatakan penulis The Kite Runner, untuk menjadi penulis yang perlu dilakukan ya menulis. Suka tak suka, pekerjaannya ya menulis. Waktu yang tepat untuk menulis adalah saat ini juga.

Saya sendiri termasuk orang yang jarang menulis sesuatu dengan membuat draft terlebih dahulu. Yang terpenting bagi saya adalah berhasil membuat kalimat dan paragraf pertama terlebih dahulu. Baru setelah itu akan terasa lebih mudah untuk menulis kelanjutannya. Ibaratnya harus buka kerannya terlebih dahulu, nanti airnya pasti akan mengalir dengan sendirinya.

Ernest Hemingway: “I write every morning.”

When I am working on a book or a story I write every morning as soon after first light as possible. There is no one to disturb you and it is cool or cold and you come to your work and warm as you write. You read what you have written and, as you always stop when you know what is going to happen next, you go on from there.

You write until you come to a place where you still have your juice and know what will happen next and you stop and try to live through until the next day when you hit it again. You have started at six in the morning, say, and may go on until noon or be through before that.

When you stop you are as empty, and at the same time never empty but filling, as when you have made love to someone you love. Nothing can hurt you, nothing can happen, nothing means anything until the next day when you do it again. It is the wait until the next day that is hard to get through.

Bagi sebagian orang dan penulis profesional seperti Ernest Hemingway, waktu yang paling klik untuk menulis adalah di pagi hari ketika pikiran masih segar dan suasana masih tenang. Menulis di pagi hari memang memberi kelebihan dan ketenangan sendiri.

Beberapa tahun belakangan ini, bisa dikatakan saya bukan tipe orang yang bisa bangun pagi-pagi benar untuk menulis. Tapi saya bisa menulis hingga larut malam, ketika suasananya lebih senyap. Kalau sudah terhanyut dan larut menulis, rasa kantuk lama-lama bisa hilang meski mata sudah memerah dan kepala jadi makin pening, hehe.

Jadi, kapan waktu yang tepat (bagimu) menulis?

Sumber gambar dari SINI.

Pengalaman Menulis Biografi, Gampang-Gampang Susah!

Mengutip kalimat Pepih Nugraha dalam bukunya Ranjau Biografi, “Menulis biografi tak ubahnya ‘melukis’ perjalanan seseorang melalui bangunan kata-kata.” Bisa dibilang kita cukup memindahkan kisah dan perjalanan hidup seseorang dalam rangkaian dan susunan kata yang menarik. Susah nggak menulis biografi? Menurut pengalaman saya yang masih belum banyak ini, bisa dibilang gampang-gampang susah.

Tahun 2011 lalu saya sempat membuat proyek yang bisa dibilang iseng. Saya mencoba membuat biografi tentang kisah dan perjalanan hidup seorang teman bernama Gugun Gumilar. Saat itu saya melihat dia punya banyak sekali prestasi di usianya yang masih muda. Hanya saja sayang rasanya kalau kisahnya itu tak dituliskan dan jadi insiprasi lebih banyak orang. Akhirnya saya coba menawari Gugun yang kira-kira begini, “Mau nggak kisah hidupmu aku tulis?”

Gayung bersambut, Gugun ternyata mau meluangkan waktunya untuk bertemu dan ditanya ini itu (bukan wawancara formal tapi lebih mirip dengan sekadar ngobrol). Informasi pertama yang saya kumpulkan adalah identitas dan latar belakangya secara umum. Seperti tanggal lahir, keluarga, dan pendidikan. Tak lupa saya juga meminta foto-foto dan video yang pernah ia rekam sebagai data untuk tulisan saya.

Saat itu saya masih bekerja di Bandung dan ia juga baru lulus kuliah kemudian bekerja di Bandung. Kami bertemu di sebuah restoran cepat saji yang letaknya cukup mudah kami jangkau. Saya bawa laptop, sambil mewawancarai saya juga sambil mengetik. Meski sebenarnya lebih enak kalau wawancara pakai alat rekam saja jadi bisa baru benar-benar fokus. Waktu yang kami miliki (lebih tepatnya waktu Gugun) tak banyak, jadi obrolan dan wawancara berlangsung sangat singkat.

Ketika saya pulang dan kembali merapikan tulisan, biasanya ada banyak info yang kurang dan belum sempat saya tanyakan pada Gugun saat wawancara. Solusinya? Saya tanya via pesan teks atau e-mail . padanya. Beberapa bulan kemudian, tulisan utuh selesai dibuat.

Awalnya saya sendiri tak tahu mau saya apakan tulisan tersebut. Sempat saya ikut sertakan sebuah lomba tapi belum beruntung. Akhirnya cukup lama saja file tulisan berdiam di komputer. Hingga suatu hari, Gugun menghubungi saya dan meminta dikirimi file tulisan utuh saya. Saya kirimkan saja padanya. Namun, tak disangka beberapa hari kemudian dia bilang akan menerbitkan naskah tersebut. Belum sempat ia meminta persetujuan saya, naskah sudah diproses di percetakan. “Waduh! Padahal kan belum saya rapikan lagi,” pikir saya saat itu.

Bisa dibilang naskah tersebut diterbitkan secara indie, pakai modal dan dipasarkan sendiri. Desain cover pun dibuat cepat. Apalagi saat itu, Gugun sedang mempersiapkan dirinya untuk lanjut S2 ke Amerika. Dia punya target buku sudah harus selesai dicetak semua sebelum berangkat ke Negeri Paman Sam.

Buku yang akhirnya diberi judul Gugun Gumilar: Mengejar Mimpi Indonesia itu pun dicetak 150 eksemplar. Sebagian dibagikan gratis. Sebagian lagi dijual (meski kata Gugun akhirnya nggak balik modal, hehe). Gugun bilang niatnya ingin berbagi ilmu dan inspirasi melalui buku tersebut.

MENULIS BIOGRAFI

Meski nama saya sebagai penulis tak tercantum lengkap, saya cukup senang bisa punya pengalaman menulis biografi. Walau masih banyak kekurangannya, saya cukup puas pernah bisa menyelesaikan sebuah naskah. Meski Gugun tak pernah menyebut nama saya sebagai penulis buku ini ketika ia tampil di TV, kali ini mau tak mau saya mencoba untuk bersabar, hehe. Mungkin inilah yang dirasakan para penulis biografi. Banyak yang mengira kalau buku biografi itu ditulis oleh tokohnya sendiri. Padahal ada orang lain yang jadi penulis utamanya.

Sejak dulu saya suka sekali membaca biografi dan kisah hidup seseorang. Saya meyakini setiap orang punya kisah dan pengalaman uniknya sendiri. Di balik setiap pengalaman, ada pelajaran dan keindahan yang bisa dipetik.

Menulis biografi, saya seperti menjadi sebuah jembatan. Jembatan yang menghubungkan kisah seseorang menjadi inspirasi untuk lebih banyak orang. Saya sadar masih banyak kekurangan dan kesalahan yang saya lakukan saat menulis biografi. Meski begitu, saya masih ingin mencoba membuat tulisan yang menginspirasi, tentang kisah hidup dan perjuangan seseorang.

Tertarik untuk menulis biografi? Atau sudah pernah punya pengalaman menulis biografi? Bagi-bagi dong pengalamannya dengan saya.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: