Runtuhnya Kerajaan Banten


Runtuhnya Kesultanan Banten

Runtuhnya Kesultanan Banten – Banten merupakan salah satu provinsi yang sangat berdekatan dengan daerah Jakarta dan daerah Jawa Barat. Daerah ini memiliki ciri khas yaitu dari suku Baduy yang sangat identik dengan orang pedalaman beserta adat istiadatnya yang khas. Disamping itu, kini Banten pun sudah memiliki warga yang banyak dan sudah lebih modern. 
Dahulu kala, Banten dipimpin oleh kesultanan atau kerajaan. Kerajaan Banten sangat terkenal hingga saat ini. Hal ini dikarenakan nama sultannya yang sangat terkenal dan terkenang yaitu Sultan Ageng Tirtayasa. Akan tetapi kerajaan Banten akhirnya runtuh dan tidak dapat ditemukan kembali hingga kini. 
Runtuhnya kerajaan Banten menurut sejarah diakibatkan oleh adanya konflik atau perang saudara kerajaan Banten pada masa VOC. Sultan Haji atau Sultan Abu Nasr Abdul berhasil dihasut oleh seorang wakil Belanda di Banten yaitu W. Caeff. Hasutan tersebut menjadikan Sultan Haji berubah dan selalu curiga terhadap ayahnya sendiri yaitu Sultan Ageng Tirtayasa.
Hasutan itu berhasil membuat Sultan Haji khawatir tentang tahta Banten yang bisa jatuh ke tangan Pangeran Arya Purbaya sebagai putra lain dari Sultan Ageng Tirtayasa. Padahal Sultan Haji ialah putra mahkota yang sudah ditentukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Pada akhirnya Sultan Haji bersekongkol dengan VOC agar bisa merebut kembali takhta Banten.
Runtuhnya kerajaan Banten disebabkan oleh perang saudara yang cukup fatal yakni antara ayah dan anaknya. VOC sudah pernah terlibat peperangan bersama Sultan Ageng Tirtayasa yang memicu kekesalan VOC. Sehingga, hal tersebut membuat VOC merasa mendapatkan peluang untuk melawan beliau. VOC langsung membidik putranya yaitu Sultan Haji untuk bisa melawan beliau. 
Sultan Ageng Tirtayasa sebenanrnya juga pernah mengalami kegagalan saat berusaha untuk menyadarkan Amngkurat II agar ia tidak berhubungan dengan VOC. Tak hanya itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga berusaha membangkitkan perlawanan Cirebon agar ikut menentang VOC. Sayangnya, para Kompeni bisa memadamkan perlawanan Cirebon serta pemberontakan Trunojoyo. 
Menurut sejarah runtuhnya kesultanan Banten pada tahun 1682 tersebut akibat kerjasama dari VOC dengan Sultan Haji. VOC memberikan syarat kepada Sultan Haji berupa penyerahan Cirebon, monopoli lada oleh VOC, denda 600 ribu ringgit jika Banten ingkar, serta penarikan pasukan Banten yang ada di pantai dan pedalaman Priangan. Sayangnya, keempat poin tersebut disetujui oleh Sultan Haji yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya kesultanan Banten. 
Sultan Haji melakukan kudeta terhadap ayahnya dan Keraton Surosowan pada tahun 1681. Pada 27 Februari 1682 Sultan Ageng Tirtayasa melakukan penyerangan terhadap VOC dan berhasil merebut kembali Surosowan. Sultan Haji berhasil diselamatkan dan bisa dibawa ke Loji oleh Jacob de Roy. Sultan Ageng Tirtayasa menyerang Loji lalu mengepungnya.  
Tepat pada tanggal 7 April 1682 kekutan kompeni datang membantu Sultan Haji yang disebut sebagai tahun runtuhnya kerajaan Banten. Pada saat itu pasukan kompeni dipimpin oleh Francois Tack dan De Saint Martin. Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa yang ada di Surosowan serta benteng istana Tirtayasa akhirnya diserang oleh mereka. Loji yang dikepung Sultan Ageng Tirtayasa pada akhirnya bisa dibebaskan.
Sultan Ageng Tirtayasa dibujuk agar berhenti melawan dan agar kembali ke Banten. Bahkan Sultan Haji mengutus 52 orang dari keluarganya agar bisa membujuk Sultan Ageng Tirtayasa. Tipu daya berupa bujukan tersebut berhasil dan Sultan Ageng Tirtayasa bersedia kembali ke Banten pada 14 Maret 1683. 
Atas kerjasama antara Sultan Haji dan VOC akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa kalah dan tak mampu melakukan perlawanan yang sangat berarti hingga akhirnya ia meninggal. Intinya, runtuhnya kesultanan Banten disebabkan oleh pola pikir licik dan jahat dari anaknya sendiri yaitu Sultan Haji yang kemudian semakin diperparah oleh VOC.