PenulisOnline.Com

Endah Wijayanti – Content Creator

Tag: biografi penulis

Stephen King, Novelis Fenomenal yang Takut dengan Angka 13

Stephen Edwin King atau yang lebih familiar dikenal dengan nama Stephen King dikenal sebagai seorang penulis kontemporer Amerika Serikat yang sukses. Sebagai novelis, karya-karyanya yang kebanyakan bergenre horor, fantasi, dan fiksi ilmiah sudah terjual sedikitnya 350 juta eksemplar di berbagai belahan dunia. Sebagian dari karya-karyanya itu sudah diadaptasi jadi film, baik film televisi maupuan film layar lebar. Ada juga yang diadaptasi menjadi buku komik.

Tercatat, pria berzodiak Virgo ini sudah menerbitkan 50 novel, 5 karya nonfiksi, dan sekitar 200 cerita pendek. Stephen punya sejumlah nama pena, seperti John Swithen dan Richard Bachman. Novel horor pertamanya yang sukses berjudul Carrie ditulis dengan nama pena Richard Bachman. Sosoknya kini dikenal sebagai seorang novelis terkenal dan fenomenal. Dan ada banyak fakta menarik soal kisah hidupnya. Termasuk soal ketakutannya dengan angka 13.

Orang Tua Stephen King Bercerai Ketika Dirinya Masih Anak-Anak

Gambar 1

Gambar 1

Orang tua Stephen King, Donald dan Nellie Ruth Pillsburry King bercerai ketika Stephen masih anak-anak. Stephen dan saudaranya, David harus membagi waktunya antara Indiana dan Connecticut selama beberapa tahun. Stephen kemudian kembali ke Maine dengan ibu dan kakaknya. Stephen lulus dari Lisbon Falls High School pada tahun 1966.

Setelah lulus sekolah, Stephen melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di University of Maine di Orono. Selama kuliah itu, ia aktif menulis untuk surat kabar universitas dan aktif di kegiatan kemahasiswaan. Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana bahasa Inggris tahun 1970, Stephen berusaha mencari pekerjaan sebagia guru tapi dewi fortuna tak langsung berpihak padanya. Untuk mengisi waktunya ia bekerja di sebuah usaha laundry dan tetap menulis di waktu senggangnya sampai akhir tahun 1971. Setelah itu, akhirnya ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di Hampden Academy.

Stephen King dan Istrinya Pernah Hidup Sangat Miskin

Gambar 2

Gambar 2

Saat akhirnya bekerja sebagai guru di Hampden Academy, Stephen menikah dengan Tabitha Spruce yang juga berprofesi sebagai penulis. Mereka pernah mengalami masa-masa buruk dan hidup miskin. Saking miskinnya, untuk menikah mereka sampai meminjam baju dan memutus sambungan telepon karena biayanya terlalu mahal. Keduanya juga pernah tinggal di sebuah trailer dan mengambil sejumlah pekerjaan untuk bisa menyambung hidup.

Stephen dan istrinya membagi waktunya antara Florida dan Maine. Mereka dikaruniai tiga anak, Naomi Rachel, Joseph Hillstrom, dan Owen Philip. Naomi menjadi seorang pendeta, sementara Joseph Hillstrom menjadi penulis fiksi horor dengan nama pena Joe Hill. Dan owen Phillip menerbitakan kumpulan cerita pertamanya tahun 2005.

Pernah Menulis Cerita Pendek untuk Majalah Porno

Gambar 3

Gambar 3

Stephen King pernah menerbitkan sejumlah cerita pendek di majalah porno. Di awal karier menulisnya, ia memanfaatkan waktu luang di sela kesibukannya mengajar dan bekerja di tempat laundromat (tempat cuci otomat) untuk menulis. Sampai akhirnya karyanya yang berjudul Carrie, sebuah novel pendek tentang gadis SMA yang siklus menstruasinya bisa menghadirkan kekuatan supernatural untuk balas dendam dan teror.

Saat masih remaja, Stephen sering mendapat banyak surat penolakan atas karyanya yang ia kirim. Dia menerima 60 surat penolakan sebelum cerita pendek pertamanya yang berjudul The Glass Floor terbit dan Stephen mendapat honor 35 dolar.

Stephen Mengaku Pernah Tak Sadar Dirinya Menulis dalam Keadaan Mabuk

Gambar 4

Gambar 4

Setelah mendapatkan kesuksesan pertamanya, Stephen kecanduan alkohol. Bahkan kisah tokoh Jack Torrence yang merupakan seorang pecandu itu sedikit terinspirasi dari otobiografi Stephen. Dalam memoarnya, Stephen bilang kalau dirinya pernah minum tallboys (sejenis bir) setiap malam dan tak ingat dirinya menulis novel Cujo. Karena kecanduan dan kebiasaan mabuknya itu, kekuarga Stephen marah dan sejak saat itu kemudian Stephen berhenti mabuk-mabukan.

Stepehen pernah menulis sebuah karya di meja seorang penulis yang pernah meninggal, Rudyard Kipling. Saat itu Stephen dan istrinya berada di Brown’s Hotel di London. Stephen tak bisa tidur dan bertanya pada staf hotel apakah ada tempat yang cocok untuk menulis. Stephen lalu diarahkan pada sebuah meja besar yang dulu merupakan miliki Rudyard Kipling, penulis The Jungle Book, Kim, dan sejumlah puisi. Kipling dulu meninggal saat duduk di meja tersebut. Di meja yang sama, Stephen membuat karya yan kemudian diberi judul Misery.

Stephen Takut dengan Angka 13

Gambar 5

Gambar 5

Dalam sebuah wawancara dengan Playboy di awal kariernya, Stephen pernah berkata kalau ia tak suka dengan angka 13. Saat menulis, jika sudah sampai di halama 13 atau kelipatannya, Stephen tak akan berhenti menulis. Dia akan menulis cepat-cepat sampai halaman 13 atau halaman kelipatannya bisa segera terlewati. Selain takut dengan angka 13, Stephen juga mengungkapkan kalau dirinya takut dengan gelap.

Banyak menulis cerita horor dan menakutkan, bukan berarti Stephen sosok penulis yang tak takut dengan apapun. Stephen juga takut dirinya nanti menderita penyakit mental yang berkaitan dengan usia yang semakin menua, seperti demensia dan Alzheimer’s. Dia takut nantinya hilang ingatan atau jadi gila.

Saat Masih Anak-Anak, Stephen Pernah Melihat Temannya Tewas

Stephen waktu masih kecil pernah menjadi seorang anak yang pendiam. Hal ini disinyalir karena ia melihat seorang temannya yang tewas ditabrak kereta api. Saat berusia empat taun, Stephen bermain dengan temannya, lalu seorang bocah berada di jalur kereta api di saat yang tak tepat. Bocah tersebut tertabrak kereta api dan tewas.

Stephen melihat hal itu tapi dalam karya non-fiksinya Danse Macabre, ia mengatakan, “Aku tak memiliki ingatan akan kejadian itu sama sekali, cuma diberitahu beberapa tahun kemudian setelah kejadian tersebut terjadi.” Ada kemungkinan alam pikiran bawah sadarnya yang menutupi ingatan tersebut. Sementara itu, ada sejumlah pendapat kalau peristiwa traumatis itu memberi dampak psikologis pada diri Stephen dan jadi inspirasinya untuk membuat sejumlah karya, walau hal itu tak diungkapkan oleh Stephen dalam memoarnya, On Writing.

image credits:
headline: http://lowcostacademicwriting.com/wp-content/uploads/2015/09/Stephen-King-012.jpg
Gambar 1: http://a2.ec-images.myspacecdn.com/images01/85/e0a0696870e5de04fe81d8a8324ba0ec/l.jpg
Gambar 2: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gamber 3: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/07/0-Cover.jpg
Gambar 4: http://horrorfreaknews.com/wp-content/uploads/2016/05/STEPHEN-KING-1.jpg
Gambar 5: http://i.huffpost.com/gen/1868696/images/o-STEPHEN-KING-facebook.jpg

Roald Dahl, Si Pilot Pesawat Tempur yang Jadi Penulis Buku Anak-Anak

Pernah baca atau nonton film Charlie and the Chocolate Factory? Adalah Roald Dahl sosok yang menciptakan karya tersebut. Pria kelahiran Llandaff tanggal 13 September 1916 ini dikenal sebagai seorang penulis buku anak-anak yang terkenal. Tapi siapa sangka ternyata dulunya ia adalah seorang pilot pesawat tempur (fighter pilot) pada zaman Perang Dunia II.

Banyak sekali karya yang ia buat selama hidupnya. Beberapa yang terkenal, antara lain James and the Giant Peach yang terbit tahun 1961. Lalu yang sudah disebutkan tadi, Charlie and the Chocolate Factory yang dirilis pada tahun 1964 dan diadaptasi jadi film. Dan sebelumnya juga ada kumpulan cerita berjudul Someone Like You yang dipublikasikan tahun 1953. Tercatat sudah ada 16 buku anak-anak yang ia tulis sebelum wafat tanggal 23 November 1990 di Oxford, Inggris.

Saat Roald Berusia 4 Tahun, Ayahnya Meninggal Dunia

Gambar 2

Gambar 2

Kedua orang tua Roald berdarah Norwegia. Di liburan musim panasnya, Roald pergi ke rumah kakek neneknya di Oslo. Saat Roald masih berusia 4 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Roald kecil bersekolah di Llandaff Cathedral School. Di sekolah itu, kepala sekolah pernah memukulnya karena bercandanya yang kelewatan. Ibu Roald lalu memindahkan putranya tersebut untuk bersekolah di St. Peter’s, sebuah sekolah berasrama di Inggris seperti yang diinginkan ayahnya. Setelah itu, Roald lanjut sekolah di Repton, sebuah sekolah swasta dengan reputasi akademik yang gemilang.

Roald Tak Mau Lanjut Kuliah di Oxford

roald-dahl-3

Gambar 3

Saat bersekolah di Repton, Roald sempat memprotes soal aturan-aturan sekolah tersebut. Selama bersekolah di sana, Roald memiliki keinginan yang amat dalam untuk bertualang dan melanglang buana. Meskipun ia siswa yang beprestasi, ia menolak tawaran ibunya untuk membiayainya berkuliah di Universitas Oxford atau Cambridge.

Seperti yang dikutip dari otobiografinya, Boy: Tales of Childhood, Roald memaparkan, “Tidak, terima kasih. Aku ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah di perusahaan yang bisa membawaku ke tempat-tempat indah dan jauh seperti Afrika atau Cina.” Dan ia memang melakukan apa yang diucapkannya tersebut. Setelah lulus dari Repton tahun 1932, Roald mengikuti sebuah ekspedisi ke Newfoundland. Setelah itu, ia bekerja di Shell Oil Company di Tanzania, Afrika sampai tahun 1939.

Roald Bergabung di Angkatan Udara dan Menjadi Pilot Pesawat Tempur

Gambar 4

Gambar 4

Ketika hasrat berpetualangnya belum terpuaskan, Roald bergabung ke Angkatan Udara Britania Raya (Royal Air Force) pada tahun 1939. Setelah mengikuti pelatihan di Nairobi, Kenya, Roald akhirnya menjadi pilot pesawat tempur di Perang Dunia II. Saat bertugas di Mediterania, Roald mengalami kecelakaan pesawat di Alexandria, Mesir.

Akibat kecelakaan tersebut, Roald mengalami cedera berat di tengkoraknya, tulang belakang, dan pinggul. Roald sampai harus menjalani operasi pinggul dan dua kali operasi tulang belakang. Ia kemudian dipindah ke Washington, D.C. dan menjadi asisten atase udara.

Pertemuannya dengan C.S. Forrester Membuatnya Semangat Menulis

Gambar 5

Gambar 5

Saat berada di Washington, D.C., Roald bertemu dengan penulis C.S. Forrester yang menyemangatinya untuk menjadi penulis. Roald menerbitkan cerita pendek perdananya di Saturday Evening Post. Lalu ia lanjut menulis cerita dan artikel untuk majalan lainnya, termasuk The New Yorker.

Roald mengatakan kalau pengalaman menulisnya terjadi lancar begitu saja. Hanya saja karya pertamanya untuk anak-anak yang berjudul The Gremlins yang terbit pada tahun 1942 tak meraup sukses besar. Akhirnya, ia kembali membuat tulisan bergenre misteri dengan sasaran pembaca orang dewasa. Ia terus berkarya sampai akhirnya bisa sukses menerbitkan Someone Like You pada tahun 1953 dan Kiss, Kiss pada tahun 1959.

Roald Menulis Cerita Anak Saat Sudah Jadi Ayah

Gambar 6

Gambar 6

Pada tahun yang sama saat Someone Like You terbit, Roald menikahi seorang artis film, Patricia Neal yang memenangkan Academy Award atas perannya di Hud tahun 1961. Pernikahan itu bertahan selama tiga dekade dan dikaruniai lima orang anak, salah satunya meninggal dunia tahun 1962 karena ditabrak sebuah taksi di New York City. Putra Roald tersebut mengalami cedera parah dan mengalami hydrocephalus, sayangnya nyawanya tak tertolong kemudian.

Pernikahan Roald dan Neal tak bisa bertahan lebih lama lagi. Roald lalu bercerai dengan Neal pada tahun 1983. Tak lama kemudian, Roald menikahi Felicity Ann Crossland yang bertahan hingga akhir hayatnya.

Roald sering mendongeng atau membacakan cerita untuk anaknya sebelum tidur di malam hari. Kebiasaan itulah yang kemudian menginspirasinya untuk menulis cerita anak-anak. Menurut Roald, anak-anak itu sangat kritis dan cepat sekali merasa bosan. “Kita harus terus menyertakan hal-hal yang menggelitik. Kalau anak sudah kelihatan agak bosan, kita harus segera memikirkan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya. Sesuatu yang menggelitik. Kita harus tahu apa yang disukai anak-anak,” begitu penuturannya pada sebuah wawancara dengan New York Times.

Roald Menulis Ceritanya di Sebuah Gudang di Halamannya

Gambar 7

Gambar 7

Setiap hari pada pukul 10.00-12.00 dan 16.00-18.00, Roald Dahl menulis di sebuah gudang di halamannya. Semua karyanya ditulis dengan menggunakan pensil HB di lembaran kertas berwarna kuning (yellow legal notepads).

Kariernya sebagai penulis buku cerita anak dimulai pada tahun 1961, saat itu ia menerbitkan karyanya yang berjudul James and the Giant Peach. Tiga tahun kemudian, Roald menerbitkan maha karyanya, Charlie and the Chocolate Factory. Kedua buku tersebut kemudian diadaptasi jadi film yang kemudian terkenal.

Roald Dahl Wafat Tanggal 23 November 1990

Setelah mengalami infeksi yang tak diketahui pasti, Roald lalu dirawat di John Radcliffe Hospital di Oxford, Inggris. Ia meninggal dunia di sana pada tanggal 23 November 1990 pada usia 74 tahun. Roald dimakamkan beserta sejumlah benda. Benda-benda tersebut, antara lain gergaji mesin, pensil HB, cokelat, red wine, dan snooker cues.

Image credits:

Gambar 1
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02335/roalddahl_2335901b.jpg

Gambar 2
http://farm9.staticflickr.com/8038/7982199427_4fddd6957b_o.jpg

Gambar 3
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01693/fts-dahl-new0_1693331c.jpg

Gambar 4
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2011/09/13/article-0-00D0F88C00000190-711_634x432.jpg

Gambar 5 http://www.telegraph.co.uk/content/dam/books/2015-07/Roald-Dahls-Darkest-Hour/roald-dahl-family-large.jpg

Gambar 6
http://www.oxfordculturemania.es/wp-content/uploads/2016/02/6142946853_49c55033ed_b.jpg

Gambar 7
http://www.euclidlibrary.org/images/tickle-your-brain/_62816424_fantasticmrdahl.jpg?sfvrsn=0

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: