PenulisOnline.Com

Endah Wijayanti – Content Creator

Tag: resensi buku

Sehidup Sesurga – Fahd Pahdepie: “Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.”

Judul: Sehidup Sesurga
Penulis: Fahd Pahdepie
Penyunting: Gita Romadhona
Penyelaras aksara: eNHa
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer Cover: Jeffri Fernando
Ilustrator isi: Teguh Pandirian
Cetakan: pertama, Juni 2016
Jumlah halaman: 210
Penerbit: PandaMedia

“Menikahimu sekali saja, mencintaimu selama-lamanya.” Baca kalimat itu, rasanya hati langsung meleleh. Siapa sih yang tak mau dicintai selama-lamanya dalam sebuah pernikahan yang sempurna? Hanya saja sekarang pertanyaannya, bisakah kita mendapatkan pernikahan yang sempurna? Sanggupkah kita bahagia selamanya dalam sebuah rumah tangga? Bagaimana kalau ternyata pernikahan tidak berjalan sesuai harapan? Atau malah bakal banyak konflik dan masalah yang terjadi?

Bagi yang akan menikah atau baru melangkah ke gerbang pelaminan, pasti ada perasaan tak menentu yang kita rasa. Antara bahagia tapi juga cemas. Deg-degan merasa tak sabar tapi juga dilanda ras gelisah. Menyimpan penuh harapan tapi juga takut terlalu menuntut kesempurnaan. Membuka sebuah lembaran baru yang masih kosong lalu kita takut sendiri untuk mengisi lembaran-lembarannya.

sehidup-sesurga-1

Sehidup Sesurga, buku kumpulan cerita karya Fahd Pahdepie ini ibarat sebuah jendela yang mengizinkan kita melongok soal kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang sederhana yang dibangun dengan cinta mengharap ridlo-Nya.

Buku ini dibagi menjadi delapan bagian, antara lain:

  1. Apakah Engkau Sudah Siap Menikah?
  2. Mengatur Langkah Setelah Menikah
  3. Membangun Rumah, Menyusun Tangga
  4. Musuh Dalam Satu Selimut
  5. Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa
  6. Sebab Tidak Ada Pernikahan Yang Sempurna
  7. Belajar Dewasa Dengan Menjadi Orang Tua
  8. Menjaga Harta Yang Paling Berharga

Tulisan-tulisan Fahd ini sepintas seperti curahan hati. Tapi ternyata ada refleksi, hikmah, dan proses pembelajaran di dalamnya. Topik yang dibahas juga tak jauh-jauh dari soal membangun cinta, menjaga cinta, serta menjalani peran sebagai orang tua. Hal-hal kecil dan sederhana tapi punya makna yang begitu dalam sebuah pernikahan.

Salah satu bagian yang paling berkesan menurut saya (dan yang mungkin sering digalaukan para jomblo) adalah tentang kesiapan menikah. Fahd membahas soal persiapan diri untuk menikah dan anjuran Rasulullah untuk berpuasa. Bagaimana dalam praktik puasa dari sahur hingga berbuka itu mengandung pelajaran tentang mempersiapkan diri untuk menikah. Ternyata ada pelajaran yang begitu berharga dari puasa, tak hanya sekadar menahan lapar dan haus. Rasanya benar-benar tersentil dengan ulasan dan tulisan tersebut.

sehidup-sesurga-2

Selain menceritakan kehidupan pernikahannya dengan istri tercintanya, Rizqa, Fahd juga menyelipkan cerita tentang pengalaman rumah tangga sahabatnya. Seperti dalam tulisan Mencicil Surga Dalam Bait-Bait Doa, Fahd menceritakan sahabatnya yang makin rajin shalat setelah menikah. Dari pengalaman sahabatnya tersebut, Fahd mengambil sebuah hikmah berharga.

Mungkin dulu saat menegurmu, aku gagal menunjukkan bahwa aku mengajakmu shalat karena mencintaimu. Tapi, istrimu berhasil melakukannya! Istrimu mengajakmu karena ia begitu menghargai, menghormati sekaligus menyayangimu. Sementara, barangkali, dulu aku mengajakmu hanya ingin mengejar pahala atau sekedar jengah karena melihatmu tak sejalan dengan pengertianku tentang iman dan kebaikan.

Lalu di tulisan Ke Manakah Kita Berhijrah, di paragraf pembuka, Fahd menulis, “Bagi saya, pernikahan adalah sebuah ‘hijrah’. Setelah menikah, saya dan Rizqa memutuskan pergi dan berpisah dari kehidupan kami yang lama. Kami memulai hidup baru, menandainya dengan pergi dari rumah orang tua, ke mana saja asal tidak tinggal bersama mereka–yang tidak membebani dan merepotkan mereka. Kami ingin hidup mandiri, maka kami mengontrak sebuah rumah.” Dari situ kita kemudian akan memahami bahwa hijrah itu juga tak mudah. Butuh perjuangan dan banyak yang harus dihadapi. Meski perjuangannya tak mudah tapi selalu ada cara yang bisa ditempuh untuk hijrah jadi lebih baik.

Selain membahas soal cinta dan kehidupan pernikahan, Fahd juga menceritakan pengalaman serta kesehariannya menjadi orang tua. Betapa setelah menjadi orang tua, ada banyak proses pembelajaran yang diikuti. Pengalamannya sebagai orang tua jadi memberi gambaran umum yang bisa jadi bekal tiap pasangan yang sebentar lagi akan memiliki buah hati. Rasanya tak pernah bisa kita berhenti belajar saat sudah membangun keluarga.

Secara keseluruhan, buku ini sangat mudah dinikmati. Tak terlalu menggurui dan bisa membuka sudut pandang baru soal membangun rumah tangga. Hanya saja saya menemukan tulisan yang persis sama di halaman 133-134 dengan halaman 205-206, yaitu tentang nasihat seorang suami kepada istrinya. Hm, kurang tahu pasti kenapa, entah salah cetak atau memang sengaja dimuat dua kali.

Menurut pengalaman saya, Sehidup Sesurga ini bisa dibaca melompat-lompat, dalam arti tak harus berurutan dari tulisan pertama hingga terakhir. Karena setiap cerita memiliki makna sendiri. Mau membaca sesuai mood pun bisa. Kalau selama ini kita sering disilaukan dengan kisah-kisah romantis ala negeri dongeng yang rasanya cuma khayalan dan nggak akan pernah kejadian di dunia nyata, membaca Sehidup Sesurga menyadarkan kita bahwa dengan kisah yang sederhana kita tetap bisa bahagia membangun pernikahan yang indah.

Siapkah kita membangun rumah tangga kita sendiri menuju surga?

Supernova “Inteligensi Embun Pagi”: Mengundang Banyak Tanya, Duh Saya Butuh Teman Diskusi!

Judul Supernova 6 : Inteligensi Embun Pagi
No. ISBN                 :  9786022911319
Penulis                     : Dee Lestari
Penerbit                   : Bentang Pustaka
Tanggal terbit         : Februari – 2016
Jumlah Halaman    : 724
Berat Buku              : 570 gr
Jenis Cover             : Soft Cover
Dimensi (L x P)      : 13x20mm
Kategori                   : Romance

Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.

Hidup mereka takkan pernah sama lagi.

Dulu waktu masih SMA, saya pernah meminjam novel Akar dari perpustakaan kota. Hanya saja ketika di rumah dan membaca novel itu, saya sama sekali tak tertarik. Lebih tepatnya ada perasaan takut dan ngeri. Entah kenapa saat itu rasanya “otak saya ini nggak nyampe” buat baca novel Dee ini, hehe. Akhirnya novel itu saya kembalikan ke perpustakaan tanpa membacanya.

Kemudian di bangku kuliah, saya mulai membaca karya Dee yang lain. Seperti Rectoverso, Filosofi Kopi, dan Perahu Kertas. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan karya-karyanya. Akhirnya saya putuskan untuk membeli sejumlah karyanya yang lain seperti Madre, Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Partikel, Gelombang, dan akhirnya Inteligensi Embun Pagi.

Oke, jujur untuk serial Supernova ini masih ada semacam perasaan “ini ceritanya tentang apa sih”. Ada berbagai macam istilah yang menurut saya terlalu asing dan membuat pening. Anehnya itu jadi adiksi tersendiri. Ada rasa penasaran yang terus mengekor tiap kali selesai menuntaskan setiap halaman.

Novel Inteligensi Embun Pagi membuat saya seakan ikut dalam sebuah petualangan. Berpindah-pindah mengikuti perjalanan Gio, Alfa, Bodhi, Elektra, Zarah, dengan para Infiltran, Sarvara, juga Umbra. Setiap adegannya pun terasa sangat mulus dan dirangkai dengan cantik.

Ada banyak stick notes yang saya pakai untuk menandai sejumlah halaman di novel ini.

Ada banyak stick notes yang saya pakai untuk menandai sejumlah halaman di novel ini.

Saya telah menghabiskan sejumlah stick notes untuk menandai beberapa halaman. Khususnya halaman-halaman yang memberi info penting agar saya tak tersesat membaca novel ini. Saya termasuk pembaca yang gampang lupa. Kadang kalau bacanya lagi nggak fokus, saya bisa ketinggalan sejumlah info kunci penting. Jadi ya begitulah novel saya ini jadi lebih warna-warni dengan stick notes.

Demi bisa lebih mudah mengikuti alurnya, saya sampai membuka-buka novel Supernova yang sebelumnya. Mencari lagi referensi atau info-info yang sebelumnya sempat tertinggal. Barulah ketika sudah kembali ingat dengan sejumlah adegan atau rangkaian cerita, barulah saya ber-“ooh” dan lanjut membacanya lagi.

Lalu, novel Inteligensi Embun Pagi ini ceritanya tentang apa, sih?

Luca menepuk bahu Gio. “Ada 63 gugus lain yang sekarang ini bersiap seperti kalian semua. Dibutuhkan Peretas Puncak untuk menghubungkan kalian semua. Kelak, pada hari jejaring kalian berhasil membuka jerat penjara ini, embun pertama yang jatuh ke muka Bumi membawa kesadaran yang menggetarkan semua.”

(halaman 30)

Saya sendiri bingung kalau harus menjelaskan secara runtut ceritanya. Ada banyak hal seru dan terus mengundang tanya dari petualangan para Peretas ini. Secara garis besar yang bisa saya tangkap, keenam Peretas ini akhirnya menemukan satu misi yang sama. Tentu saja tak mudah untuk menyelesaikan misi itu. Ada banyak konflik yang terjadi. Satu masalah selesai, muncul lagi masalah baru. Demi menyelesaikan sebuah masalah kadang ada pengorbanan yang harus dilakukan. Rasa curiga, rasa ragu, takut, cemas, dan keyakinan, semuanya rasa itu mewarnai setiap adegannya.

inteligensi embun pagi 3

Mengenai peradaban lain, dimensi lain, evolusi, juga tentang makhluk-makhluk yang datang dari peradaban lain, jauh lebih maju dari kita. Sosok dan wujudnya seperti manusia. Tapi mereka punya misi khusus. Misi yang berkaitan dengan pergeseran kutub bumi di mana utara jadi selatan dan selatan jadi utara. Pergeseran kutub ini pun sebenarnya sedang terjadi dengan kecepatan yang meningkat tiap tahun. Ujung-ujungnya tentang hari kiamat. Ah, maafkan saya yang sepertinya kebingungan sendiri menjelaskan inti ceritanya.

Novel ini juga dilengkapi Glosarium yang sangat membantu untuk mencoba memahami sejumlah istilah yang masih asing. Hanya saja rasanya untuk kemampuan saya memahami cerita Supernova yang masih sangat super cetek, sepertinya Glosarium-nya perlu lebih banyak penambahan kata, hehe.

Membaca Inteligensi Embun Pagi seperti mengharuskan saya untuk membaca lebih banyak buku lagi. Khususnya yang berhubungan dengan sains. Selalu menarik bisa mengungkap dan menyingkap berbagai fenomena yang ada di bumi juga dimensi lain. Duh, sepertinya saya butuh teman diskusi yang bisa diajak ngobrol banyak hal tentang novel Supernova ini.

inteligensi embun pagi dee 4

Banyak poin penting di novel ini yang saya kira berhubungan langsung dengan kehidupan dan keseharian kita sendiri. Seperti ketika Bodhi merasakan sebuah keraguan, “Bagaimana kita bisa tahu langkah kita berikutnya benar atau salah? Sesuai sekuens atau tidak? Disabotase atau tidak?” Lalu Kell menanggapinya dengan jawaban yang menurut saya jleb banget, “… You just have to trust your heart. Your process. There’s no other way to do it.” Benar sekali, kadang kita dilanda sebuah keraguan yang dalam karena kurang percaya diri atau rasa takut dalam diri. Tapi apalagi yang bisa dilakukan jika tidak langsung mencoba. Ikut mengalir dalam prosesnya. Meyakini kalau yang kita lakukan memang sudah yang terbaik dan hasilnya apapun itu pasti adalah yang paling baik. Tak mudah memang, tapi setidaknya itulah pilihan yang paling masuk akal: mengikuti proses yang ada.

Kebaikan dan kejahatan. Dunia hitam dan putih. Novel ini juga tak jauh dari tema umum tersebut. Saya menemukan paragraf yang cukup menarik di Keping 79, “Kejahatan yang paling mengerikan tidak akan muncul dengan api dan tanduk, tetapi jubah malaikat. Ia membius dengan kebajikan. Mereka yang terbius akan rela mempertaruhkan nyawa untuk membela apa yang mereka kira kebajikan.” Hm, betapa sering kita tertipu daya muslihat manusia. Sering kita tak menyadari bahwa orang-orang yang terlihat paling baik ternyata bisa menjerumuskan kita. Saat ini, orang jahat tak hanya mereka yang berwajah seram atau berpenampilan sangar. Lebih menyeramkan dari itu, orang jahat juga bisa berkamuflase jadi sesosok malaikat. Bukan bermaksud jadi paranoid sih, hanya saja ini kenyataan yang saat ini masih sering terjadi di dunia, bukankah begitu?

supernova inteligensi embun pagi 6

Oh ya, ada satu kalimat yang sering terulang-ulang di novel ini, “Niat menggerakkan pikiran.” Saya merasa kalimat ini tak hanya untuk membuat ceritanya menarik atau membuat para karakternya terlihat lebih kuat. Lebih dari itu. Kalimat tersebut seperti sengaja dituliskan untuk kita semua. Tentang bagaimana sebuah niat bisa sangat mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Bahkan hasil yang kita dapat dari sebuah proses atau perjuangan juga bisa sangat bergantung dari niat yang kita tancapkan di pikiran sejak awal.

Tulisan saya ini mungkin agak acak, ya. Mau bagaimana lagi, bahkan setelah selesai membaca Inteligensi Embun Pagi ini saya sempat tercenung sendiri. Lebih tepatnya muncul lebih banyak pertanyaan lagi, kok bisa begini? Lalu apa selanjutnya? Sungguh, saya memang butuh teman diskusi untuk membahas berbagai lapisan yang tersusun di novel ini.

Di bagian “Dari Penulis” saya menemukan kalimat Dee yang benar-benar menggugah tentang kegiatan menulis.

“Menulis memang tidak pernah merupakan proses satu sisi. Menulis adalah kerja sama. Kita bekerja sama dengan Ide yang telah memilih kita menjadi partnernya. Bahu-membahu, melalui kerja keras dan komitmen, inspirasi yang berwujud abstrak akhirnya menjadi konkret. Di pojok tempat saya menulis, saya tampak sendirian. Sesungguhnya saya tidak sendiri. Saya sedang berdansa dengan partner saya di alam abstrak.” (halaman 704)

inteligensi embun pagi 5

Saat menulis, kita memang tak pernah sendiri. Sementara itu, kepingan Supernova masih menyimpan banyak misteri di benak saya.

 

 

 

 

Sudut Pandang Baru tentang Jodoh dari Novel “Jodoh” Karya Fahd Pahdepie

Penulis: Fahd Pahdepie
Terbit: Desember 2015
Judul buku : Jodoh
Penerbit: Bentang Pustaka
Format: 13 x 20,5 cm
Edisi : Soft Cover
ISBN : 978-602-291-118-0
Penyunting: Ika Yuliana K.

Apa itu jodoh?

Barangkali kau sering bertanya-tanya tentangnya.
Barangkali imajinasimu tentang belahan jiwa begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang sana, yang tengah menunggumu untuk berlayar.

Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu, sehingga seringkali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.

Tetapi laut, ombak, dan isinya selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.

Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk berlayar—jauh sebelum mereka mengenal ketakutan; jauh sebelum mereka bisa membaca arah atau menebak cuaca; bahkan jauh sebelum mereka disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang waktu, takdir, cinta, dan jodoh itu sendiri.

Wah, Fahd menulis novel tentang jodoh berjudul Jodoh! Awal tahu kalau penulis favorit saya ini akan merilis novel Jodoh saya langsung antusias. Tak sabar rasanya untuk mengatasi rasa penasaran, “Apa lagi yang akan ditulisnya kali ini? Jodoh seperti apa yang akan dibahas kali ini?”

Secara umum, novel ini menceritakan seorang perempuan dan laki-laki bernama Keara dan Sena. Sudah bisa ditebak kalau keduanya sedang bergulat tentang takdir jodoh. Sena yang sudah jatuh cinta pada Keara sejak bangku SD. Cinta itu pun terus berlanjut hingga bangku SMP saat sama-sama bersekolah di pondok pesantren. Cinta pertama. Cinta monyet. Hasrat untuk memiliki. Kesungguhan untuk saling menjaga. Semua gejolak itu dirasakan oleh Keara dan Sena. Sayang, selepas SMA keduanya harus berhadapan dengan takdir yang cukup berat. Sampai akhirnya Sena menemukan sendiri arti dan makna jodoh dari semua pengalamannya selama ini.

resensi novel jodoh fahd pahdepie

Jujur, agak sedih mengetahui kalau novel ini memiliki sad ending, setidaknya itu yang saya rasa. Tapi justru di akhir cerita itulah saya seperti mendapat semacam sudut pandang baru. Apalagi kalau bukan sudut pandang tentang jodoh.

“Kita berjodoh meski impian dan rencana-rencana kita tak tercapai. Kita berjodoh karena bagaimanapun Tuhan telah mengizinkan kita bertemu, menuliskan kisah kita berdua, dan berbahagia di salah satu persimpangan kehidupan yang pernah kita alami bersama.

Kita berjodoh, Key. Untuk apapun alasannya, yang menyedihkan atau membahagiakn, yang bisa kita terima atau tak bisa bisa kita terima, yang termaafkan atau tak termaafkan.

Kita berjodoh karena takdir telah mempertemukan kita di salah satu perseimpangan waktu, membuat kita jadi lebih dewasa, membuat hidup kita jadi lebih bermakna.”

Seperti biasa Fahd selalu menyisipkan kalimat-kalimat yang indah dan bikin hati terasa adem. Saat dibaca berulang kali pun rasanya tak pernah bikin bosan. Mengenai cinta, jatuh cinta, sakit hati, mencintai, dan juga kerinduan. Tapi menurut saya untuk sebuah novel, Jodoh seperti belum memiliki satu kesolidan. Hm, gimana ya kira-kira menjelaskannya. Meski di salah satu narasi di dalamnya menyebutkan kalau novel ini dibuat dengan alur yang seakan melompat-lompat agar pembaca bisa mengintrepetasinya sendiri, tapi rasanya tetap serasa ada yang kurang dari novel ini.

Di sejumlah bagian alur terasa cukup lambat. Tapi di bagian lain jadi melompat-lompat. Mungkin ini masalah selera saja, ya. Saya merasa jadi keutuhan cerita ini kurang terpoles sempurna. Tapi hal itu tak membuat saya berhenti membaca novel ini. Bahkan saya membaca novel ini dalam “sekali duduk” sekitar 2-3 jam sebelum tidur malam. Apalagi di novel ini banyak ditemukan kutipan larik-larik puisi Sapardi Djoko Damono yang indah.

novel jodoh fahd pahdepie

Ada banyak hal menarik yang saya temukan di novel ini. Salah satunya tentang Cinta Platonik.

“Konon, pada mulanya dua manusia yang saling mencintai diciptakan berpasangan dalam tubuh yang sama dengan dua kepala, dua leher, dua badan, dua pasang tangan, dua pasang kaki, dan seterusnya, tetapi hanya dikaruniai satu hati, satu jiwa.

Plato menyebut konsep ini sebagai “belahan jiwa”: dua manusia berbagi masing-masing setengah jiwa untuk satu dan lainnya.”

(halaman. 129)

Unik juga membayangkan bagaimana ketika dua manusia yang satu tubuh itu akhirnya saling mencari. Berusaha untuk menemukan belahan jiwanya yang terpisah. Seperti yang kembali dituliskan oleh Fahd, “…masing-masing kita adalah pengelana belahan jiwanya.” Sering disadari atau tidak, kita pasti seringkali bertanya-tanya siapa ya belahan jiwa itu? Bagaimana ya wajahnya? Seperti apa dia? Dan kita akan terus berkelana mencarinya membuat kisah kita sendiri demi sebuah akhir bahagia yang kita harapkan.

novel jodoh

Saya juga suka sekali dengan bagian ini,

“Cinta tak sesederhana kata-kata “aku cinta kamu dan dunia harus mengerti itu”, cinta adalah “aku cinta kamu dan karenanya aku juga harus mengerti dunia di sekelilingmu.”

(halaman. 199)

Yes! That is soooo true! Meski saya sendiri (saat ini) tidak dalam keadaan sedang jatuh cinta, tapi saya sangat setuju dengan pertanyaan itu. Jatuh cinta, dicintai, dan mencintai tak seharusnya membuat kita jadi egois. Justru dengan cinta itu kita akan lebih banyak belajar. Belajar lebih dewasa. Memahami dunia yang jauh lebih luas di luar sana. Berani untuk berdamai dengan ego sendiri. Mau dan mampu untuk memperjuangkan kebaikan untuk lebih banyak orang dengan cinta dan ketulusan.

Seperti pengalaman saya yang sudah-sudah, setiap kali selesai membaca karya Fahd Pahdepie saya merasa ada sebuah kelegaan tersendiri. Serasa ada sebuah pintu baru yang terbuka di dalam pikiran. Dan membuat ruang bernapas saya terasa lebih luas. Terima kasih Bang Fahd sudah menulis karya yang indah ini, saya akan menantikan karya-karya Anda yang berikutnya 🙂

 

 

Resensi Novel: Faith and the City (Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra)

Judul Buku : Faith and the City
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2015
Harga : Rp60,000
Tebal : 232 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2433-3

Sinopsis:
Setelah malam penganugerahan Hero of The Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein beserta kedua anak gadis mereka Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasutri penyatu jembatan yang terpisah, pasangan yang dirundung kebahagiaan, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Rangga, tugas belajar dan riset telah menunggu setia di Wina.

Out of the blue, Cooper dari Global NewYork TV hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan sebuah penawaran mustahil tertolak oleh Hanum: menjadi produser sebuah acara Global NewYork TV yang meliput dunia Islam dan Amerika.

Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namun mengintai mahligai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.

Akankah Hanum mampu mengelak dari pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya?

Atau jangan-jangan impian yang menjadi kenyataan, tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?

Saat membaca judulnya, tanpa ragu saya langsung membelinya. Apalagi saya sudah terpikat dengan karya Hanum-Rangga sebelumnya. Jadi saya berharap cukup banyak dengan novel ini.

Ketika membaca Bab Pertama, barulah saya tahu kalau novel ini merupakan lanjutan dari novel sebelumnya Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang telah difilmkan pada bulan Desember 2015. Kali ini topik besar yang diangkat adalah tentang ambisi dan nurani. Latar yang disuguhkan adalah seputar dunia media, lebih tepatnya dunia pertelevisian.

FAITH AND THE CITY

Hanum dan Rangga tadinya memutuskan kembali ke Wina karena tugas mereka sudah selesai. Tapi siapa sangka, saat sedang check-in di bandara JFK, Andy cooper tiba-tiba muncul. Ia menawari Harum sebuh kontrak kerja di Global NewYork TV. Hanum yang memang ngefans berat sama Andy tak perlu pikir dua kali untuk menerima tawaran tersebut. Dari situ cerita baru dimulai.

Andy Cooper melimpahkan tanggung jawab baru pada Hanum untuk memegang sebuah program TV tentang muslim di Amerika yang bernama Insights Muslims. “Insights Muslims. Kau harus mencari profil muslim yang kontroversial. Wawancara kehidupan mereka, perkara mereka, perasaan mereka dengan banyak fenomena yang memojokan islam akhir-akhir ini. ” (halaman 39). Di sini pergulatan dimulai. Hanum dituntut menaikkan rating dan share tetapi ia juga ingin menyuguhkan tayangan yang berkualitas, tak asal-asalan, atau memaksa narasumber mencucurkan air mata. Di samping itu, Hanum juga punya ambisi besar untuk membuktikan dirinya bukanlah jurnalis kacangan.

Ada yang diperjuangkan, maka ada yang dikorbankan. Di tengah perjuangan Hanum sebagai jurnalis mulai berbuah manis, hubungannya dengan Rangga tak lagi hangat. Konflik dan perdebatan makin sering terjadi. Pilihan-pilihan dan keputusan baru harus dibuat. Hati dua insan saling menyakiti dan disakiti. Ambisi, cinta, dan nurani, semuanya bersimpangan. Mau tak mau harus ada jalan keluar yang diambil.

NOVEL HANUM

”Allah Sang Sutradara memberikan kesempatan kepada kita untuk setidaknya 5 kali sehari istirahat mengembalikan kesadaran sebagai manusia ,agar terbangun dan tidak terhanyut dalam peran dunia yang menghanyutkan.” (halaman 220)

Saya jadi tahu cukup banyak tentang dunia pertelevisian. Bekerja di bidang media memang punya tantangannya tersendiri. Ada banyak kepentingan yang terlibat. Belum lagi dengan ambisi dari diri sendiri untuk bekerja dan berkarya menghasilkan sesuatu yang positif. Dari novel ini, saya belajar untuk bagaimana tetap bisa mengedepankan kebenaran dan hati nurani ketika membuat sebuah karya atau menampilkan sesuatu pada publik. Bukan hal yang mudah memang. Tapi selalu ada cara untuk membuktikan kalau kejujuran dan kebenaran tak akan pernah menyesatkan.

Sayangnya, menurut saya alur novel ini cukup mudah ditebak. Meski begitu, saya tetap bisa menikmati novel ini dan membacanya sampai tamat. Saya berharap novel Hanum-Rangga berikutnya mengangkat topik tentang sejarah dan peradaban Islam lebih banyak lagi. Mungkinkah di novel berikutnya? Kita tunggu saja.

 

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: