Peninggalan Kerajaan Demak Ada Apa Saja? Ini Daftarnya

Demak merupakan kerajaan Islam yang didirikan oleh Raden patah pada sekitar abad ke-15. Perkembangan kerajaan Demak saat itu tergolong pesat, dan ini dibuktikan banyaknya bukti peninggalan. Peninggalan Kerajaan Demak juga menjadi bukti eksistensi kerajaan ini pada masa itu.
Cakupan wilayah kekuasaan dari kerajaan Demak termasuk sangat luas, yaitu hampir seluruh bagian pulau Jawa. Kekuasaan dan kejayaan Kerajaan Demak dibuktikan dengan adanya berbagai macam bukti peninggalan yang bisa dilihat hingga saat ini.

Bukti Peninggalan Kerajaan Demak

Bukti peninggalan yang masih bisa dilihat hingga saat ini semakin menegaskan eksistensi kerajaan Demak pada masa itu. Situs peninggalan dari kerajaan Demak hingga saat ini tetap dijaga kelestariannya, bahkan ada yang dijadikan sebagai tempat wisata.
Peninggalan Demak banyak yang mempunyai nuansa Islam, sesuai dengan salah satu fungsi utama kerajaan ini, yaitu menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Lalu, apa saja bentuk peninggalan dari kerajaan Demak? Simak daftar terkait bukti peninggalan dari kerajaan Demak yang berikut ini.

Soko Bledek

Peninggalan yang pertama adalah soko bledek atau dalam bahasa Indonesia berarti pintu petir. Soko bledek konon dibuat dengan kekuatan supranatural milik Ki Ageng Selo yang didapatkan pada saat ada kilatan petir. 
Hal unik yang membuat kagum dari soko bledek adalah pahatan kayu yang dibuat dengan sangat indah oleh Ki Ageng Selo dan bisa bertahan hingga saat ini. Pada mulanya, soko bledek dipasang untuk menjadi pintu utama Masjid Agung Demak.
Seiring berjalannya waktu, kayu yang menjadi bahan dasar pembuatan Soko bledek mulai lapuk dan menunjukkan tanda kerusakan. Oleh sebab itu, pintu ini dilepas dari Masjid Agung Demak dan saat ini disimpan dalam museum yang berada dalam tempat peribadatan umat Islam tersebut.

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak hingga saat ini sudah berumur sekitar 6 abad, terhitung sejak pembangunannya pada tahun 1479 Masehi. Bangunan tempat ibadah umat Islam ini sudah beberapa kali mengalami renovasi, hingga masih bisa bertahan sampai saat ini.
Fungsi Masjid Agung Demak pada zaman kerajaan tidak hanya sebagai tempat peribadatan, namun juga sebagai pusat dan penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Masjid agung Demak merupakan salah satu bentuk peninggalan kerajaan yang menggambarkan hubungan antara Islam dengan Jawa.
Bangunan Masjid Agung Demak tidak hanya mengandung unsur islami, melainkan juga memadukan adat masyarakat Jawa Tengah. Hal ini dilakukan agar penyebaran agama Islam pada masa Kerajaan Demak dapat mudah diterima oleh masyarakat Jawa.

Soko Guru Atau Soko Tatal

Satu lagi bagian dari masjid agung Demak yang merupakan salah satu bentuk peninggalan kerajaan Demak, yaitu soko guru dan soko tatal. Bentuk dari soko guru atau soko tatal ini adalah 4 buah tiang penyangga masjid yang terdiri dari kayu berdiameter 1 meter.
Tokoh yang membuat soko guru ini adalah salah satu dari Walisongo, yaitu Sunan Kalijaga. Soko guru yang berbahan kayu asli adalah 3 buah tiang, sedangkan 1 lainnya berbahan dasar kulit pohon. Sedangkan soko tatal yang berbahan kulit pohon diyakini dibuat dengan kekuatan supranatural sunan Kalijaga.
Pembuatan Soko tatal ini bersamaan dengan proses pembangunan Masjid Agung Demak yang saat itu sudah mencapai proses pemasangan atap. Konon, Sunan Kalijaga memanfaatkan kekuatan supranaturalnya untuk mengubah tatal atau kulit kayu menjadi tiang dalam waktu cukup singkat.

Makam Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga yang merupakan tokoh penyebaran Islam di pulau Jawa, yaitu wali songo dimakamkan di kota Demak. Makam dari sunan Kalijaga disebut juga merupakan situs peninggalan kerajaan Demak yang hingga saat ini masih ramai didatangi oleh peziarah.
Situs makam sunan Kalijaga hingga saat ini dijaga oleh pengelolanya dengan baik, sehingga tetap nyaman dikunjungi para peziarah. Banyak para peziarah datang untuk mendoakan sang wali dan melantunkan sholawat, sekaligus meminta keberkahan.

Piring Campa

Peninggalan kerajaan Demak yang berikutnya adalah piring campa yang totalnya berjumlah 65 buah. Piring Campa saat ini dipasang pada dinding Masjid Agung Demak sebagai hiasan interior pada tempat ibadah tersebut.
Piring tersebut merupakan hadiah dari Putri Campa atas keberhasilan putranya, yaitu Raden Patah dalam mendirikan Kerajaan Demak. Peninggalan dari Kerajaan Demak yang satu ini terbuat dari bahan porselen dengan karakteristik cukup unik, sehingga bisa bertahan lama.

Pawstren

Pawstren merupakan bangunan yang dibuat khusus untuk membatasi atau menyekat area sholat antara jamaah laki-laki dan perempuan. Bangunan ini didirikan pada masa Kerajaan Demak, karena saat itu pemahaman masyarakat sekitar mengenai Islam sudah cukup maju 
Bentuk pawstren sendiri berupa bangunan dengan 8 tiang penyangga dan 4 tiang utama. Ada pula belandar balok yang disusun 3 tingkat sebagai penopang dari 4 tiang utama pawstren. Desain balendar balok pada pawstren mengadopsi ukiran yang ada pada masa kerajaan Majapahit.

Damar Kencana

Damar kencana bukanlah buatan asli dari Kerajaan Demak, melainkan hasil karya dari Kerajaan Majapahit. Peninggalan ini merupakan bentuk hadiah dari Kerajaan Majapahit untuk raja pertama dari Kerajaan Demak, yaitu Raden patah.
Hadiah dari Majapahit berupa damar Kencono ini sebagai bentuk lambang persahabatan kuat dari kedua kerajaan, meskipun agama yang diyakini berbeda. Bahkan, banyak sejarah menceritakan bahwa banyak rakyat Majapahit yang pada akhirnya memeluk agama Islam.

Situs Kolam Wudhu

Kolam wudhu yang ada di Masjid Agung Demak hingga saat ini masih difungsikan dengan baik. Peninggalan dari Kerajaan Demak tersebut difungsikan untuk berwudhu. Para jamaah masjid yang akan melaksanakan sholat jamaah di Masjid Agung Demak akan berwudhu di kolam ini.
Pada zaman Kerajaan Demak, kolam ini digunakan oleh para musafir yang berhenti di Masjid Agung dan akan menunaikan sholat. Di samping itu, pada zaman kerajaan, banyak para santri yang beribadah dan mengaji di masjid agung tersebut dan memanfaatkan kolam wudhu ini.

Bedug Dan Kentongan

Bentuk peninggalan Kerajaan Demak yang terakhir berupa bedug dan kentongan. Kedua benda ini tidak bisa lepas dari perkembangan Islam pada masa kerajaan Demak. Kedua benda ini berfungsi untuk mengingatkan warga untuk berkumpul di masjid saat memasuki waktu sholat.
Fungsi lain dari bedug adalah digunakan sebagai alat musik oleh Wali songo untuk menarik perhatian masyarakat agar mau datang ke masjid. Cara yang digunakan oleh wali songo ini berhasil menarik perhatian masyarakat untuk datang dan beribadah ke masjid.
Bentuk bedug dan kentongan yang menjadi peninggalan dari Kerajaan Demak ini juga mempunyai filosofi khusus. Makna filosofis ini dapat ditemukan pada bentuk kedua benda ini yang menyerupai tapal kuda dan memiliki makna orang-orang akan berkumpul saat benda ini dibunyikan.
Saat ini kedua benda ini tidak hanya bisa dijumpai di Kerajaan Demak, namun sudah banyak diadopsi di masjid-masjid di berbagai wilayah. Namun, saat ini tidak semua masjid menggunakannya karena sudah ada speaker yang bisa digunakan mengingatkan waktu shalat dengan suara lebih keras.